
“Mas.”
Shanuella mengepakkan kelopak mata berulang kali untuk memastikan kalau pemandangan di hadapannya benar-benar nyata. Bukan ilusi di tengah perasaan tergerus erosi.
Senyum simpul hadir bersama dengan kemunculan pria rupawan dari balik mobil. Tak banyak bicara, seringai di bibir cukup menjawab semuanya.
“Mas, bagaimana bisa ke sini? Bukannya Mas kerja?”
“Hmm.” Bayu berjalan mendekat. Tanpa ragu, menyambar tangan yang tengah menggenggam tas hitam.
“Mas” Shanuella tersentak ketika tas tangannya dirampas. Dia pasrah menatap jemarinya dan Bayu terjalin erat. Saling menaut, tersimpul manis satu sama lain.
“Aku antar ke kantor.” Bayu menuntun wanita itu di balik punggung. Membawa ke arah pintu mobil sisi penumpang dan membukakannya.
“Bagaimana bisa, Mas?”
Shanuella terpukau saat tubuhnya didorong pelan dan dipaksa duduk manis di kursi depan. Terperangah, dia terpaku menatap tangan lincah Bayu yang membantu memasangkan sabuk pengaman. Mereka hidup bersama kurang lebih lima tahun, tetapi ikatan rasa keduanya belum terangkai sempurna.
__ADS_1
“Aku suamimu, Shan.” Bayu menanggapi santai. Sebelum menutup pintu mobil, dia masih sempat membelai pipi Shanuella dengan lancang.
“Jadi, Mas bisa tahu semuanya?” tebak Shanuella, melirik dengan ekor mata.
Membungkuk, Bayu mendekatkan wajahnya dan berbisik. “Tentu, Shan. Aku suami dan ayah dari anakmu. Tentu aku harus mengetahui semua hal tentang kalian agar bisa memastikan istri dan anakku baik -baik saja.”
Kata-kata yang membuat Shanuella terperangah dan nyaris tak percaya. Wanita itu bungkam seribu bahasa. Diam-diam dia mengamati pergerakan pria yang tengah berlari kecil mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.
“Kenapa?” Bayu memamerkan senyuman tipis. Menoleh ke arah Shanuella yang terus menatapnya tak berkedip sebelum menjalankan mobil.
“Terima kasih, Mas.”
“Semuanya, Mas. Selama ini, Mas Bayu sudah banyak membantuku dan Lana. Aku ....”
“Itu tanggung jawabku, tugasku. Sebaliknya, kalau aku menelantarkanmu dan Lana namanya kelewatan, Shan. Sudah, tidak perlu berlebihan. Aku juga tidak melakukan sesuatu yang wow. Aku seorang suami. Tugasku pun hanya melakukan apa yang seharusnya para suami lakukan. Kalau ingin berterima kasih, jadilah ibu yang baik untuk Lana.”
Bayu memandang Shanuella dengan tatapan sulit dilukiskan. Dia tahu saat ini sang istri tengah merenungi kata-katanya. Terlihat dari sorot mata teduh yang menebar kehangatan.
__ADS_1
“Mas.”
“Hmm.” Cengkeraman pada kemudi kian erat, Bayu merasakan debar di dadanya. Nyaris menggila, perasaannya tak karuan. “Jangan membuat konsentrasiku pecah, Shan.” Pria itu berjuang mencairkan suasana dengan tak larut ke dalam perasaan. Sayangnya, perjuangan itu harus berakhir ketika sebuah rengkuhan pelan di lengan meluluhlantakkan semua.
Napas Bayu tertahan beberapa detik ketika mendapati pipinya dikecup mesra. Kejadian begitu cepat dan mendadak, bahkan tak memberi ruang untuknya mengingat kecupan yang begitu singkat.
“Shan.” Suara Bayu terdengar datar.
Shanuella tertunduk. Menyembunyikan rona merah muda di pipi. Malu itu bukan hanya milik Bayu, dia pun merasakan hal serupa.
“Kamu benar-benar, ya.” Bayu melepas sabuk pengaman yang terlanjur membelit tubuh dan buru-buru merengkuh tengkuk Shanuella. Bukan di dahi, bukan pula di pipi, dia menghadiahkan kecupan di bibir istrinya untuk pertama kali.
Deg.
Deg.
Deg.
__ADS_1
Sentuhan yang tak biasa itu memorak-porandakan hati keduanya. Shanuella membeku di tempat, pikiran hampir sekarat. Menatap suaminya dari jarak begitu dekat, suara tercekat. Melayang jauh, jiwanya terbang. Wanita yang hampir lima tahun terakhir tak lagi bersentuhan dengan lawan jenis itu tampak canggung. Hingga kecupan berakhir pun, semua masih serasa mimpi untuknya.