
"Aku baik-baik saja, Mas.”
“Kalau baik-baik saja, jangan menangis lagi. Sayang air matamu.” Bayu tersenyum getir.
Hidupnya kacau balau sejak Rarendra hadir kembali. Entah kenapa dunia hanya selebar daun kelor. Sosok yang seumur hidup ingin dihindarinya, ternyata ada di depan mata. Dia berjuang keras untuk melindungi Shanuella dengan berbagai cara agar jauh dari sentuhan pria tak berperasaan dari masa lalu. Bahkan, dia rela mempertaruhkan hidupnya demi mendapatkan segala informasi tentang laki-laki tak tahu diri tersebut. Menutup rapat mulutnya, agar Shanuella tak pernah terjamah.
Bisa saja membawa Shanuella pergi jauh, tetapi ada banyak pertimbangan hingga akhirnya menetap di Jakarta. Ada jejak yang tak mungkin dikikis sampai habis. Mommy dan mendiang Daddy ada di ibu kota, terlebih wanita yang telah sah menjadi istrinya itu tak mau meninggalkan tanah kelahiran.
Namun, hidup memang tidak bisa ditebak. Seberapa jauh menghindar, kita tak akan bisa berlari dari takdir yang tertulis. Jangankan berada di satu kota yang sama, bahkan Tuhan tahu bagaimana membuat dua orang yang terpisah samudera dan benua untuk bersua.
“Shan ....” membelai pipi kiri Shanuella dan merapatkan kedua kening mereka. Dengan menjadi pengawal Rarendra, dia tahu banyak hal. Semua jadwal, rekan dan sahabat, bahkan rencana-rencana pria tersebut.
“Aku harus kembali ke sana,” ucap Shanuella, pelan. “Berat, tapi aku tak punya pilihan.”
“Punya. Kamu punya pilihan. Kamu berhak menolak, kamu bahkan bisa menentukan apa yang diinginkan hidupmu. Kesusahan tak akan mengebiri kebebasanmu. Kamu yang berkuasa untuk hidupmu sendiri. Bahkan, aku pun tak berhak memutuskan semua di dalam hidupmu.”
Shanuella menyimak.
__ADS_1
“Kalau tidak yakin, jangan pergi. Kalau tidak mau, tolak saja. Aku bahkan tak keberatan andai ... kamu ingin resign dari pekerjaan detik ini juga. Aku suamimu, masih sanggup menghidupimu dan Lana. Ayo, jadilah kuat. Jadilah Shan-Shan yang hebat, yang luar biasa.” Bayu menautkan jari-jarinya di sela jemari Shanuella dan menggenggam erat. Ada kekuatan dan keyakinan yang dibaginya untuk sang istri.
“Aku ... akan tetap di sini. Belum tentu dia dan Blade orang yang sama. Dia yang telah mengambil ahli aset keluargaku. Kenapa selama ini ... aku tidak mencari tahu masalah ini. Setelah lima tahun berlalu dan aku mendapati kenyataan ... kalau mereka begitu mirip. Jujur, sampai sekarang aku masih belum bisa percaya, Mas.”
“Mau ... aku bantu cari tahu?” tawar Bayu.
“Untuk apa?” Suara Shanuella terdengar lirih.
“Tuh, paham.” Bayu terkekeh pelan sembari membelai rambut panjang Shanuella.
“Aku rasa ... mereka orang yang berbeda. Untuk apa ... dia menyamar jadi Blade dan merendahkan harga dirinya? Dia orang kaya, kan? Melihat penampilannya, dia pasti bukan orang sembarangan. Orang sesukses Pak Rarendra tak akan mungkin mau bersusah payah menjadi pengawal pribadiku.” Shanuella mencoba berpikiran positif.
“Aku akan tetap bekerja. Mungkin ini saatnya aku melupakan semua. Kehadirannya seakan mengingatkanku tentang laki-laki itu, Mas.”
“Dan, aku yakin kamu kuat, Shan. Kita pernah melewati yang lebih berat dari ini. Kamu ingat, kan? Terbukti sekarang kita ada di sini."
Shanuella mengangguk. “Dia bukan Blade, kan?” Wanita itu mengangkat pandangannya, meminta keyakinan pada Bayu.
__ADS_1
Bukan anggukan, Bayu juga tidak menggeleng. Seutas senyuman muncul di bibir menambah keyakinan pilihan Shanuella.
“Kita tidak pernah bisa menebak apa yang terjadi ke depan. Bahkan, aku tidak menyangka pilihan untuk bekerja dengan Raren ....”
Suara dering ponsel Shanuella menyela obrolan. Ucapan Bayu menggantung, tak terselesaikan saat fokus wanita di sisinya terbelah.
“Ibu Fro, Mas. Aku harus pergi sekarang. Pak Rarendra sudah menungguku sepertinya.” Shanuella menempelkan gawai pipih di telinga sembari membukakan pintu.
“Ha ... lo.” Shanuella tersentak dan berbalik saat bahunya ditepuk ringan dari belakang. Bayu menyodorkan tangan.
“Pamit yang benar,” ucapnya dengan suara berbisik.
“Ya, Bu Fro. Aku ke sana.” Menyambar tangan dan mencium punggung tangan Bayu, kemudian buru-buru turun sembari melambaikan tangan.
Kehadiran Bayu pagi itu sanggup mengubah perasaannya. Jauh lebih tenang, bisa lebih kuat menghadapi tantangan ke depan. Bukan hanya sekarang, sosok pria berkulit sedikit gelap itu sanggup memulihkan hatinya yang berantakan.
Tatapan sendu Bayu terkunci pada punggung yang terus berjalan menjauh. Hatinya berdesir, merasakan punggung tangannya. Ada jejak bibir Shanuella di sana.
__ADS_1
“Aku tidak tahu ... ke mana hubungan kita akan berlabuh. Aku hanya memainkan bagianku, menjagamu dan Lana sambil berharap ... binar cinta itu tertuju padaku, bukan pria mana pun. Apalagi laki-laki tidak tahu malu yang menggunakan segala cara untuk merampas kebahagiaanmu.”