My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Perintah untuk Percaya


__ADS_3

"Bagaimana tidur Juan?" tanya kakek Griz yang melihat Juan menuruni tangga untuk menemuinya pasti karena dia telah menyuruh bi Sri membangunkan Juan.


Juan menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia merasa malu bangun agak siang, "Mmm... sangat nyenyak tuan, saya sampai lupa sedang berada di rumah Anda." sahut Juan dengan polos.


"Hahaha..." tawa renyah dari kakek Griz mendengar kejujuran Juan.


"Baguslah kalau begitu berarti kau nyaman disini. Apa kamu memberitahu keluargamu kalau kau akan tinggal disini dalam beberapa hari?" tambah kakek Griz yang sedang penasaran akan jawaban Juan.


Juan terhenti langkahnya di depan kakek Griz yang sedang duduk di ruang makan.


"Sudah, tadi malam sebelum tidur saya menghubungi keluarga saya."


"Baguslah kalau kau sudah memberi tahu keluargamu. Sekarang duduklah! mari makan bersama dengan Lana." jelas kakek Griz sambil meminum jus buah naga.


"Tidak kek!" pekik Juan.


"Saya hanya bodyguard mana pantas makan bersama dengan majikan." tambah Juan.


"Tidak apa-apa. Santai saja." Kakek Griz menunjuk kursi layaknya mempersilahkan Juan untuk duduk.


"Waduh saya takut ada gosip-gosip, kek. Nanti dikira saya di perlakukan istimewa oleh kakek." ujar Juan dengan tak enak hati untuk duduk bersama.


"Gosip di lambe turah kah? hahaha. Juan! kalaupun ada gosip seperti itu ya silahkan memang benar saya memperlakukan kamu istimewa dengan tinggal bersama dan makan bersama namun, tugas yang kamu emban juga istimewa jadi yaa sepadanlah. Jangan membantah! bukan hanya kamu kok yang sering makan bersama saya dengan Lana bodyguard lain pernah atau pegawai lain juga pernah, jangan risau." jelas kakek sambil tersenyum kepada Juan yang masih berdiri mematung mendengarkan kakek Griz berbicara.


"Sekarang duduklah!" perintah kakek Griz kepada Juan.


Sontak Juan langsung menarik kursi di depan kakek Griz dan segera duduk.


"Lana, ayo cepat! kamu ada jadwal kan bertemu klien?" ucap kakek Griz melihat Lana yang menuruni tangga dengan pelan karena melihat layar hpnya sampai lama sekali menuruni tangga sejak tadi.


Tidak ada respon dari Lana atas pertanyaan yang dilontarkan sang kakek. Kakek Griz yang tahu cucunya masih fokus pada hpnya dan tidak mendengarnya pun mencoba memanggilnya lagi.


"Lana!" teriak kakek Griz.


"Eh, iya kakek." jawab Lana singkat.

__ADS_1


"Kamu denger apa yang kakek tanyakan ha?"


"Iya denger. Iya, ada jadwal hari ini untuk bertemu klien." Lana memasukkan hpnya ke kantong dan melangkah dengan cepat menuruni tangga sesuai yang kakek minta. Segera Lana duduk di samping kakeknya.


Kakek, Juan dan Lana makan bersama diselingi beberapa pertanyaan untuk mencairkan suasana agar tidak sunyi dan dingin. Sarapan selesai, Kakek berjalan ke mobil menuju ke kantor bersama beberapa bodyguard setianya dan Lana berjalan ke mobil menuju ke hotel untuk menemui kliennya bersama dengan Juan dan beberapa bodyguard Lana lainnya.


Mobil kakek dan Lana saling menjauh setelah keluar dari gerbang rumah mereka.


Juang sedari tadi duduk di sebelah Lana dengan terdiam karena pertanyaan yang memenuhi kepalanya pun angkat bicara "Lan, eh maksudnya nona. Apa tidak sebaiknya anda dan tuan dirumah ya, setelah kejadian kemarin kan dikhawatirkan malah membahayakan kalian?" tanya Juan penuh penasaran.


Lana yang sedari tadi fokus membaca berkas langsung menoleh ke sumber suara, "Tenang saja! jikalau kakek sudah mengatakan tidak apa-apa berarti kakek sudah mengurus semua."


Juan hanya mengangguk sebagai jawabannya. "Seorang yang punya banyak koneksi dan uang tentu saja menyelesaikan masalah hanya tinggal menjentikkan jarinya sudah kelar." batin Juan sambil manggut-manggut.


"Kita ke hotel rainstar kan nona?" tanya supir yang juga menjabat sebagai bodyguard Lana.


"Benar." Jawab Lana dengan singkat sambil terus memandangi layar hpnya.


*


*


*


Lana menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar berapa klien yang menjadwal bertemu dengannya, "Mbak mau tanya reservasi atas nama Alana Eveline Grizelle?"


"Oh, bentar ya." jawab resepsionis dengan sopan.


"Di lantai 15 kamar nomor 113." tambah resepsionis.


"Terima kasih." sahut Lana sambil tersenyum tipis ke arah resepsionis tersebut. Tak perlu waktu lama, Lana langsung bergegas menuju lift dan menekan nomor 15.


Sampailah Lana dan Juan juga ketiga bodyguard lainnya di lantai 15 dan mereka berjalan menelusuri tiap-tiap pintu untuk mencari nomor 113.


"Nona, ketemu!" teriak bodyguard Lana yang tengah berhasil menemukan kamar 113. Lana disusul Juan dan lainnya berlari ke arah bodyguard tersebut.

__ADS_1


tok...tok...tok...


Lana mengetuk pintu kamar tersebut karena kartu akses untuk masuk ke kamar tengah dipegang oleh kliennya itu jadi dia tidak bisa masuk tanpa kartu akses. Selang beberapa detik pintu terbuka dari dalam.


"Halo, nona Lana. Silahkan masuk!" ucap klien Lana yang bernama Justin.


"Halo juga Justin. Terima kasih." sahut Lana dengan sopan sambil masuk ke kamar yang telah di reservasi olehnya.


Justin yang hendak menutup pintu di cegah oleh Lana, " Biarkan Juan, dia bodyguardku masuk juga." Lana menatap Juan untuk menyuruhnya masuk kedalam bersamanya.


Justin sambil tersenyum smirk ke arah Lana namun Lana tidak sadar di tatap oleh Justin, "Oke, jika itu maumu." Justin menjawab dengan singkat dan santainya . Juan yang tidak tahu apa-apa hanya menurut saja.


"Aku tidak tahu maksud kakek untuk selalu melibatkan Juan di dalam setiap aku keluar rumah. Tapi aku yakin kakek tahu siapa Juan, tidak mungkin kakek bisa begitu percaya dengan Juan tanpa alasan." batin Lana yang mengingat pesan kakeknya tadi malam saat kakeknya ke kamarnya untuk memintanya mempercayakan Juan sebagai bodyguard kepercayaan Lana.


Lana dan Juan mengikuti Justin dan Justin membuka pintu kamar yang akhirnya mereka masuk ke dalam kamar yang berukuran luas sangat luas bahkan. Dimana di kamar tersebut juga ada asisten Justin.


"Baiklah, Lana apakah bisa dimulai?" tanya Justin kepada Lana.


Lana sempat terkaget dari lamunannya dan langsung berusaha fokus. "Tentu, mana berkas yang aku minta?"


Asisten Justin langsung menyodorkan berkas yang Lana minta dan mereka pun membahas projek yang akan mereka kelola bersama.


Justin berdiri dari duduknya diikuti oleh asistennya "Oke, saya setuju Lana dengan keuntungan jangka panjangnya yang lumayan tentu saya minat. Semoga projek kita lancar dan berhasil." Justin menyodorkan tangannya ke Lana untuk berjabat tangan sebagai tanda persetujuan projek tersebut.


Lana tersenyum dan berdiri dari duduknya juga, "Senang berbisnis denganmu, Justin." sambil membalas berjabat tangan dengan Justin.


"Saya bawa ya berkas ini? baiklah saya keluar dulu. Terima kasih dan sampai jumpa, Lana." ucap Justin dengan ramah.


"Tentu, kau bisa mencermatinya lagi. Ya sampai jumpa lagi." Lana masih sibuk membereskan berkas yang berantakan di meja hadapannya.


Justin dan asistennya keluar kamar meninggalkan Juan dan Lana di dalamnya. Juan dengan segera membantu Lana membereskan semua berkas-berkas. Juan dengan sigap langsung membawa semua berkasnya.


"Terima kasih, ayo keluar!" ucap Lana sambil berjalan menuju ke arah pintu.


"Loh, kok nggak bisa dibuka." ucap Lana yang kebingungan mengotak-atik pintu tersebut supaya terbuka.

__ADS_1


__ADS_2