
Rumah yang memiliki sarat kisah, menyisakan banyak kenangan. Apalagi ketika melangkah masuk dan berdiri di tengah ruangan dengan sisa-sisa kemewahan terlihat jelas. Ranjang empuk berdiri gagah dengan ukiran keemasan di bagian kepala.
Lemari-lemari kaca berjajar rapi. Kalau dulu, aneka tas bermerek tersimpan rapi di dalamnya. Kini sunyi tak berpenghuni. Sama seperti pemilik aslinya yang telah menghilang dan tak tahu di mana rimbanya.
‘Maafkan aku.” Sepotong kalimat yang diucapkan dengan nada penuh kesedihan. Rarendra tampak mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah.
Penyesalan yang selama ini hanya dipendamnya sendiri. Dia tak memiliki keberanian untuk mengulang kembali apa yang dilewatinya dulu di masa lalu.
“Aku tahu kalau aku jahat. Aku tahu kalau aku kejam. Tapi, apakah kalian tahu ... yang kalian lakukan di masa lalu juga tak kalah kejamnya. Nyawa ... ini masalah nyawa. Aku bahkan tak ada keberanian menghabisimu, tetapi gadis tak berperasaan sepertimu memiliki nyali mencabut nyawa orang tak bersalah.
__ADS_1
Tubuh Rarendra melemas, terjatuh di lantai yang berdebu dan dingin. Dia ingat bagaimana kisah kelamnya dimulai. Semua berawal dari tunangannya yang harus merenggang nyawa di tangan gadis kecil tak berperasaan. Usia baru 17 tahun, tetapi sudah berlabel malaikat pencabut nyawa. Ada beberapa poin yang akhirnya membuat dendam itu bersemu di hatinya.
Tunangannya tidak tahu apa-apa. Sudah berjalan di tepi, tetapi disambar oleh mobil yang dikemudikan dengan kecepatan tinggi dan zig zag. Yang membuat dendamnya kian menjadi, fakta di lapangan setelah dilakukan pemeriksaan kepolisian adalah korban dibiarkan tergeletak begitu saja, pelaku kabur. Kekasihnya dianggap seperti binatang. Tidak ada penyesalan dan lebih parahnya tidak mendapatkan hukuman.
Jangankan manusia, ketika melanggar hewan di jalan raya pun ada aturannya, ada adab yang harus dijaga. Apalagi ini nyawa manusia. Andai pelaku tidak melarikan diri, kemungkinan kekasihnya masih tertolong. Ada banyak kekecewaan yang akhirnya membuat dia memilih mencari keadilan sendiri.
Kaki bertekuk, kepala tertunduk. Rarendra menitikkan air mata saat keadilan yang harusnya didapatkan sang kekasih hanya sebatas angan-angan.
“Yang tenang di sana, Sayang,” bisik Rarendra pelan.
__ADS_1
...♟️♟️♟️...
Rembulan bersembunyi di balik awan saat Bayu pulang ke kediamannya. Malam gelap kian pekat, langkah kaki pria itu tersendat-sendat. Menenteng jaket kulitnya, ia masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan yang selalu dibawanya ke mana-mana.
Tubuh lelah seharian bekerja, perut yang tadinya sudah diisi penuh mendadak keroncongan lagi setelah menempuh jalan ibu kota yang tak berdamai dengan warganya. Macet parah di salah satu ruas jalan membuat waktu tempuh jadi dua sampai tiga kali lipat lebih lama.
Saat tiba di ruang tamu, secercah cahaya dari arah dapur memancing keheranan. Dahi Bayu berkerut. Maksud hati ingin segera menghempaskan tubuh di tempat tidur, tetapi diurungkannya. Penasaran menggelitik, kaki pun melangkah ke arah cahaya.
Bibir Bayu terbelah manis. Seringai hadir di wajah lelahnya. Dari pintu, dia bisa melihat punggung seseorang yang tengah sibuk di depan kompor. Siapa dia?
__ADS_1