
“Lana?”
Berat untuk Bayu berkisah tentang bocah perempuan manis dan menggemaskan yang tak menuruni garis wajahnya maupun Shanuella. Tak menyerupai siapa pun, beda dari yang lain.
“Ya.” Rarendra mengangguk. “Dia putrimu, ‘kah?” Nada cemburu kembali hadir dalam tanya yang dikumandangkan.
Di tengah malam buta, dua pria dewasa itu berbincang layaknya teman baik. Keduanya lupa akan perkelahian yang belum lewat 24 jam dan membawa mereka duduk di kamar perawatan rumah sakit.
“Ya. Kenapa?” Jawaban tegas tanpa keraguan itu membuat hati kecil Rarendra tercubit. Dia seperti terhempas dari ketinggian dan jatuh ke tanah. Sakit, terluka, dan kecewa yang harusnya tak pantas ada di dalam dirinya.
Lima tahun berlalu, Rarendra menjerat Shanuella dan membuainya dengan cinta. Setelah mendapatkan semua, gadis manja itu ditinggalkan tanpa pesan. Dihempas ke samudera terdalam, ditinggalkan tanpa perasaan. Bahkan, dia yang kala itu dalam peran Blade sudah menarik pelatuk dan siap meluncurkan peluru ke tubuh tak berdaya yang tengah bergelung pasrah di balik selimut.
Pantaskah kalau sekarang aku berteriak menyesal, Shan. Ya, aku menyesal telah membuangmu. Aku menyesal telah meninggalkanmu. Tak sehari pun hidupku tenang setelah pergi darimu.
__ADS_1
Rarendra menatap sendu ke arah sofa, tempat di mana dia menitipkan hatinya. Terlalu arogan dan pendendam, jiwanya sarat kebencian. Kini, setelah banyak hari terlewati, ia menyadari kalau dendam yang dipupuk selama bertahun-tahun telah berganti jadi cinta.
Ketika hati dan pikiran tak sejalan, kala perasaan dan pengharapan tak seia sekata. Dia tersiksa, nelangsa, dan merana. Terluka hanya karena senyum Shanuella tak lagi untuknya, meratapi kenyataan kala gadis yang dicinta menjadi milik laki-laki lain.
Tatapan berubah sendu, perasaan perlahan hancur. Hati menangis dalam diam, menjerit pilu. Setelah kematian sang kekasih dalam kecelakaan beberapa tahun silam, dia mendapatkan karma serupa. Bukan dari orang lain, tetapi musuhnya sendiri. Harusnya dendam itu bermuara pada kebahagiaan saat satu persatu rencana tercapai. Namun, kenyataannya dia salah, keadaan berbalik dan menghantamnya. Bukan senyuman, kembali hatinya teriris untuk ke dua kali.
“Jaga Shan-Shan baik-baik. Aku ... tidak bisa menjadi Blade lagi setelah apa yang aku lakukan padanya. Terima kasih telah menyimpan aibku selama ini. Aku tahu ... aku tidak pantas untuknya. Tetaplah bekerja denganku. Walau mungkin kamu membenciku karena istrimu ... tapi, kita masih teman baik.”
Kata-kata itu diucapkan dengan pelan. Rarendra tak menunggu jawaban, berdiri dan tertegun menatap Shanuella. Beberapa detik berdiri membeku, terdengar embusan napas di ujung bibir yang disusul langkah kaki berjalan keluar.
Sebelum benar-benar keluar dari ruang perawatan, Rarendra masih sempat melontarkan sepotong kalimat. “Mengenai biaya, aku akan menanggungnya.”
Pintu terbentang, langkah kaki terasa berat. Rarendra harus menguatkan tekad dan meyakinkan diri untuk bisa melewatinya. Tepat saat akses masuk itu merapat kembali, pertahanan diri runtuh. Tubuh gagah itu melemas, bersandar di dinding. Disusul desakan cairan hangat yang kini sudah mengumpul di pelupuk mata.
__ADS_1
“Aku ... harus kehilangannya.” Rarendra berbisik. “Tapi, dia memang tak pernah menjadi milikku. Sejak awal ... aku tak pernah menggenggamnya. Aku tak pernah ....” Memejamkan mata, dua tetes cairan kristal terjatuh. Tak berjejak di pipi, dia tak mau sampai ada yang melihat kelemahannya.
...🍒🍒🍒...
“Aaargh!” Teriakan menggelegar terdengar di halaman belakang kediaman Rarendra. Bertelanjang dada, kepalan tangan kosong itu terus meninju samsak gantung yang berayun ke sana kemari. Sesekali kantung tinju berwarna hitam itu mendapat tendangan.
“Brengsek!”
Umpatan pun lolos dari bibir di sela napas tersengal. Keringat bercucuran, rambut Rarendra basah. Punggung berhias tato itu tampak mengkilap terkena terpaan cahaya matahari pagi. Perasaan yang menyesak di dada dilampiaskan lewat pukulan dan tendangan tanpa jeda. Dia kelelahan, tubuhnya hampir kehabisan tenaga setelah berjam-jam dipaksa bergerak.
“Aku mecintaimu,, Shan.” Tendangan kembali dilabuhkan pada benda silinder yang tergantung di depannya. “Aku mencintaimu, Shan.”
Teriakan bersamaan pukulan membabi buta tanpa jeda membuat para pengawal dan asisten rumah panik. Tak ada seorang pun berani mendekat, hanya berdiri menonton di pinggir sambil berbisik khawatir.
__ADS_1
Di sisa tenaga, Rarendra yang hampir hilang akal terdengar menjerit kencang terus menumbuk samsak hingga akhirnya seseorang menarik pundaknya dari arah belakang.
“Rarendra Tan!” Suara maskulin itu menggertak, menyadarkan pria bertelanjang dada yang bermandikan keringat “Sadar!”