
Juan masih mengejar staff gadungan itu untuk melihat wajahnya. Namun, staff gadungan itu berlari dengan kencangnya.
"Jika kau terus ikuti kami, jangan salahkan kami jika nyawamu jadi taruhannya, pecundang." teriak staff gadungan yang tali maskernya tadi putus.
Juan tetap tak menghiraukan omongan staff gadungan itu, dia tetap pad pendiriannya.
Staff gadungan dan Juan hampir mendekati gerbang keluar perkebunan namun gerbang itu masih tutup secara otomatis dan hanya pegawai pengamanan yang bisa membukanya.
"Ayo cepat!!! kita hampir sampai di titik keluar." teriak staff gadungan yang masih tertutup masker wajahnya.
"Mereka tidak akan bisa keluar kalau bukan pegawai pengamanan yang membukakan gerbang itu. Mereka itu bodoh atau sangat bodoh sih?." batin Juan yang keheranan mendengar omongan staff gadungan tersebut.
Namun, belum sempat menyelesaikan pertanyaan dikepalanya.
brak......
Suara gebrakan luar biasa dari luar gerbang yang membuat gerbang itu hancur. Juan langsung berhenti tercekat menyaksikan gerbang itu hancur oleh Dump Truk liebherr T284 yang menjadi dump truk dengan berat kendaraan paling ringan yaitu 600 ton, namu dapat mengangkut beban berat hingga mencapai 400 ton. Dump truk liebherr T284 dirancang dan di produksi oleh perusahaan liebherr yang memiliki dimensi panjang kendaraan 15,6 meter, lebar 9,6 meter dan tinggi 7,4 meter dengan berbekal mesin 20 silinder 3.750 bhp yang mampu melaju dengan kecepatan maksimal 64 km/jam.
"Kau tidak akan bisa mengejar kami lagi, atau kau mau terlintas ban besar ini" staff gadungan yang tadinya tidak memakai masker kini untuk menutupi wajahnya ia menggunakan bajunya.
"Kena kau! aku bisa mengenalimu dengan tanda luka jahitan di lenganmu dan tato naga di tanganmu itu." batin Juan dengan senang melihat apa yang ia dapatkan.
"Dasar keledai, kau takut? hah, menjauhlah dan bilang pada nonamu bahwa ini hanya peringatan, jika tidak mau ada banyak teror dan tragedi maka cepat lakukan." teriak sopir dump truk yang menggunakan masker juga.
"Lakukan apa?" teriak Juan dengan penuh tanya.
"Jangan berteriak padaku, atau ku lindas juga tubuhmu." sahut sopir dump truk sambil memaju mundurkan dump truknya sebagai tanda ia tidak main-main.
__ADS_1
Karena Juan yang merasa terancam, dia pun bergegas berlari menuju kejadian kecelakaan pak Bram yang penting dia bisa mengenali salah satu staff gadungan itu jika nanti nona akan melacak dalang dibalik semua ini.
*
*
*
"Pak Bram..." rintih Lana melihat darah yang terus mengalir di lantai. Lemon segar yang berwana kuning berubah menjadi dipenuhi warna dan bercak merah. Tubuh pak Bram masih ada dibawah wadah besi itu, belum ada satupun yang mau mengangkat wadah besinya karena Lana tak kuasa melihat tubuh yang sudah tak bernyawa pak Bram.
Pak Sam menghampiri Lana seraya berbisik, "Sebentar lagi ambulan akan datang, nona." Lana mendengar itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Walaupun Lana tidak suka ada pengawal di sampingnya, namun pak Bram sudah ia anggap paman, pak Bram telah menjaganya begitu lama sejak dia SD begitupun pak Sam. Pak Sam pun terpukul melihat karibnya meninggal dengan cara yang mengenaskan seperti itu.
Juan tiba di tempat kejadian bersamaan dengan datangnya ambulan, mobil polisi dan 2 mobil hitam ber- merk Mercedes. Para staff rumah sakit langsung bergegas mengevakuasi korban bersama beberapa polisi. 5 orang berpakaian rapi dengan warna hitam langsung keluar dari mobil hitam itu dan mengamankan Lana.
Juan berlari ke arah Lana untuk memberitahu sesuatu, namun dicegah oleh pengawal Lana yang tadi keluar dari mobil hitam Mercedes.
"Apakah ini pegawai kantor nona? ma'af jika lancang kami hanya ingin menjaga keselamatan nona." sahut tegas dan sopan dari pengawal itu.
"Iya, dia pegawai kantorku." Lana menatapnya dengan tampang yang datar.
"Baiklah nona." Sambil menundukkan kepala layaknya menghormati perintah nonanya.
"Nona, saya ingin ---"
"Tutup mulutmu! tidak seharusnya bicara disini. Kau ikut aku kerumah." Potong Lana sambil membungkam mulut Juan.
Entah mengapa jantung Juan begitu deg-degan saat Lana menyentuh bibirnya menggunakan tangannya yang lembut disertai tatapan tajam darinya. Wajah mereka begitu dekat walaupun tidak terlalu dekat juga.
__ADS_1
"Mungkin karena aku terlalu capek berlari makanya deg-degan kali ya..." batin Juan yang sontak menutup matanya karena ditatap tajam oleh Lana.
"Kau mengerti tidak?" bentak Lana yang masih menatap Juan dengan tajam.
Sontak Juan membuka matanya kembali dan karena bibirnya masih dibungkam hanya mengangguk lah yang bisa Juan lakukan. Setelah melihat Juan mengangguk Lana langsung membuka bungkamannya.
Juan masih dengan perasaan deg-degannya berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak terus gemetar.
"Tenang Juan... Mengapa kau tidak bisa mengendalikan jantungmu. Kalau nona tahu bisa-bisa dia salah paham. Mana mungkin aku suka dengannya kan, jantungku sedang kebanyakan pikiran mungkin. Makanya deru detaknya sesuka hatinya." Juan menyalahkan detak jantungnya yang tidak seharusnya dan dia juga tidak punya rasa dengan Lana.
"Nona, kita harus pulang. Ini perintah tuan eh maksudnya kakek, nona." ucap pengawal Lana dengan sopan.
"Baiklah dan aku akan membawa dia ---" Lana langsung menyeret tangan Juan supaya lebih dekat dengannya. Yang mana Juan malah hampir menabrak tubuh Lana jika saja Juan tidak menghentikan tubuhnya itu.
srekkk
"--- Bersama dengan ku ke rumah." tambah Lana sambil masih memegang tangan Juan.
Semua pegawai terutama pegawai kantor dan Dioan menatap dengan kaget atas apa yang mereka lihat. Para pegawai saling tak percaya dan malah saling berbisik-bisik mungkin mereka sedang membuat gosip yang nantinya akan menjadi gosip hangat di kantor.
"Tapi nona, di situasi seperti ini apakah harus membawa dia ke rumah. Kalau ada yang mau dibicarakan mending besok saja, nona."
"Tidak! aku akan membawanya. Kau turuti saja, aku akan menjelaskan pada kakek nanti." sahut Lana dengan tegas dan menuntut.
"Kita turuti saja apa kata nona itu lebih baik. Urusan kakek pasti nona bisa jelaskan kepada beliau." jelas pak Sam kepada para pengawal.
Semua pengawal akhirnya mengikuti perintah Lana dan langsung memandu dan menjaga mereka. Juan hanya mematung dan mengikuti perintah Lana.
__ADS_1
"Dia menyeretku begitu saja, tubuhku hampir saja menabraknya. Seenaknya saja dia, jantungku masih belum stabil ditambah dia terus menggenggam tanganku seperti ini. Apa kabar jantung ku ini sekarang..." batin Juan.