
“Pernah menyesal menikah denganku?”
Senyap.
“Pernah.” Beberapa saat kemudian, Shanuella menjawab singkat. Pandangan masih terkunci di titik yang sama.
Bayu memejamkan mata. Rasanya sakit saat Shanuella menjawab dengan jujur tanpa peduli dengan sakit yang dirasakannya. Kepala menengadah, dia tak mau air mata tumpah. Dia laki-laki. Sehancur apa perasaannya, pantang mengeluarkan tangis, apalagi di depan wanita.
“Kenapa akhirnya menerima?” tanya Bayu, nyaris tak terdengar.
“Apa aku bisa?” Pertanyaan dilontarkan untuk mengganti jawaban. Suara Shanuella terdengar lirih.
“Apa pernah membenciku?”
Pertanyaan Bayu seakan tak ada habisnya. Pria itu sedang diserang gundah berkepanjangan sejak semalam.
“Pernah, Mas. Sekarang pun terkadang rasa itu masih ada. Kenapa menyembunyikannya dariku? Padahal Mas tahu di mana dia selama ini.”
“Aku jahat?”
__ADS_1
Shanuella diam. Menatap dengan sepasang mata yang kini berkaca-kaca.
“Aku jahat?” Bayu mengulang pertanyaan yang sama dan menoleh. Paras jelita itu tengah mendendangkan elegi dalam diamnya.
Rambut panjang Shanuella berayun pelan ketika empunya menggeleng.
“Aku lebih jahat. Aku lebih tak berperasaan. Aku lebih …..” Air mata Shanuella luruh. Dua bulir berjejak di pipi, meninggalkan garis basah yang meneriakkan isi hatinya kini.
Suasana senyap kembali setelah lantunan azan berhenti. Kamar tidur sederhana dengan lampu kekuningan terasa syahdu.
“Aku bersalah pada banyak orang. Padanya terutama.” Mengusap air mata yang terus mengalir dengan kedua tangan, Shanuella terbatuk pelan sembari menarik napas yang tersendat lendir bening di dalam rongga indra penciuman. “Kalau dulu, aku selalu menyalahkan Tuhan atas hidupku yang begitu menyedihkan, kini jawaban itu datang. Aku pantas mendapatkannya. Apa yang aku lakukan tak lebih baik darinya. Dia hanya memberiku kesakitan, penantian tak berujung. Sedangkan, aku mengajarkannya arti sebuah kehilangan. Di balik luka yang ditorehkannya, ada secercah harapan yang dititipkannya padaku. Sedangkan aku hanya menitipkan luka padanya seumur hidup.” Pandangan Shanuella tertuju pada Lana.
“Masih mencintainya?” Bayu menguatkan hati. Merapikan posisi duduk, kini dia dan Shanuella berhadapan. Senyuman tipis di bibir wanita itu tertangkap jelas.
“Aku harus jawab apa?” tanya Shanuella. Matanya memerah, wajah pun mulai sembab. “Mas ingin aku menjawab apa?”
Bayu menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku ingin melihatmu tersenyum. Nyatanya bukan aku sumber kebahagiaanmu.”
“Setidaknya Mas bukan sumber kesedihanku. Itu sudah cukup membantu. Terkadang aku berpikir, akan jadi apa aku tanpamu, Mas.” Tatapan wanita itu menerawang.
__ADS_1
“Kenapa tidak berpikir sebaliknya, mungkin saja tanpaku … hidupmu jauh lebih baik, Shan.”
“Mungkin, Mas.”
“Tersenyumlah kalau begitu. Setidaknya, jangan membuatku kecewa.”
Bibir Shanuella terbelah sempurna. Senyuman hadir di wajah berantakan khas bangun tidur.
“Kenapa senyummu terasa tak tulus, Shan?” Bayu mendelik.
“Banyak protes, Mas.”
Bibir mengerucut, wajah pun berubah cemberut. Shanuella pasrah ketika Bayu merengkuh pundak dan menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Membagi kehangatan, menggantikan selimut yang sudah terhempas jauh.
“Mas kenapa ke kamarku?” tanya Shanuella di sela dekapan suaminya. Aku yakin ada sesuatu yang ingin dibicarakan, ‘kan? Katakan.”
Mengeratkan dekapan, Bayu masih menghadiahkan kecupan di pucuk kepala istrinya dan berbisik pelan setelahnya. “Blade menawari kita tinggal di salah satu rumahnya. Setidaknya, di sana jauh lebih layak dibandingkan kontrakan kita sekarang. Aku … tidak bisa memberi jawaban. Aku rasa, kamu yang lebih berhak memutuskan. Menerima atau menolak tawarannya.” Bayu menjelaskan.
Shanuella mengatupkan bibir rapat-rapat. Lama dia termenung di dalam dekapan Bayu. Hingga akhirnya bersuara.
__ADS_1
“Aku ….”