
Lana terduduk di sofa empuknya yang berada di kamarnya. Setelah sekian menit ia terduduk dia masih memikirkan apakah ada hal yang disembunyikan oleh kakeknya kepadanya.
"Bukankah gelagat kakek itu aneh ya tadi?" Lana menanyakan pertanyaan kepada dirinya sendiri. Isi kepalanya terus terbayang hal itu. Berbicara kepada diri sendiri adalah hal yang sedang ia lakukan. Selang beberapa detik ia kepikiran sesuatu, ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengambil hpnya.
...Juan! Belum tidurkan?...
...Terkirim✔️...
Balasan dari ujung sana pun sampai dan notif berbunyi.
Ting...
Segera Lana langsung membuka notif itu.
...Belum....
...From: Juan...
Lana mulai mengetik lagi dengan cepat.
...Menurutmu gelagat kakek aneh nggak sih tadi?...
...Terkirim✔️...
...Nggak. Emang kenapa?...
...From: Juan...
Lana berhenti mengetik, dia menatap layar hpnya terpaku dengan balasan Juan.
...Ohh, nggak kok nggak kenapa-kenapa....
...Terkirim ✔️...
Lana meletakkan hpny disampingnya, dia mulai merebahkan badannya di kasurnya. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna baby blue.
"Mungkin perasaanku saja. Juan saja tidak merasa begitu berarti itu hanya perasaanku saja yang was-was." batin Lana lalu ia mulai memejamkan matanya untuk membuang pikiran agar tidak terpikirkan lagi akan hal itu. Hingga ia terlelap nyenyak di atas kasur empuknya.
*
*
*
Seperti biasa Juan, Lana dan kakek berangkat pagi menuju kantor. Juan mendampingi Lana sesuai perintah kakek dan juga menjalankan tugasnya sebagai pegawai di divisinya. Setelah mengantar Lana ke ruangannya, Juan langsung menuju ke meja kerjanya.
__ADS_1
Juan berhenti di depan meja kerjanya dengan wajah bingung dengan apa yang ia lihat diatas meja kerjanya, "Loh! kenapa banyak hadiah dan makanan disini? punyamu kah Dion?"
"Kalau dimejamu ya berarti itu milikmu." Dion masih berkutat dengan komputer miliknya ia enggan menatap Juan karena ada file yang harus ia kerjakan.
Juan masih memandangi semua hadiah di mejanya, "Aku tidak merasa memesan ini semua."
Akhirnya Dion menatap Juan dengan malas, "Kau tidak memesannya tapi kau dikasih mereka."
"Mereka? siapa?" Juan merasa tidak mengerti dengan maksud mereka karena ia hanya akrab dengan beberapa orang di kantor tidak banyak.
Dion memutar bola matanya, sebenernya dia sedang malas untuk berbicara namun Juan tetap saja bertanya, "Mereka yang jadi pengagummu."
"Pengagum?" Juan mengernyitkan dahinya karena dia tidak merasa punya pengagum, selama ini dia belum pernah dapat pengagum.
Dion sudah hilang kesabarannya, "Ya! kau ini tidak peka atau gimana?"
Dibentak bukannya paham Juan malah lebih tidak paham, "Hah! aku nggak paham maksudmu."
"Gini deh, sebelumnya ada hal seperti ini dimejamu tidak?" Dengan mengisi kesabarannya lagi, Dion berusaha memahamkan Juan dengan pelan-pelan.
Sambil menatap keatas Juan berusaha mengingat sesuatu, "Pernah, makanya aku tanya ke kamu soalnya sebelumnya aku tanya ke pegawai lain mereka cuman menggeleng saja."
"Kau tanya siapa?" Dion penasaran dengan siapa yang ditanya Juan.
"Iya pegawai yang lewat." jawab Juan dengan santai.
"Lalu? siapa ini?" Juan bertanya lagi karena ia tidak tahu persis siapa pengagumnya.
Dion memejamkan matanya lagi dan menatap Juan, "Pengagummu! harus ku ulangi berapa kali sih."
"Iya tahu tapi siapa gitu lho yang jelas?" jawab Juan yang ia kan hanya ingin mendapat jawaban pasti.
"Iya cari tahu sendiri ngapain nanya aku." Dion mengangkat kedua bahunya.
"Dih, aku harus apakan dengan semua ini." ucap Juan sambil menunjuk semua hadiah yang ada di mejanya. Tidak mungkin semua ini akan ia makan atau bawa pulang kan.
"Lah sebelumnya kamu apakan emang?" tanya Dion yang sebenarnya bingung bukannya dia pernah mendapatkan hadiah lalu mengapa bingung mau diapakan.
"Sebelumnya aku kasih ke orang-orang." Juan menjawab dengan santainya.
Dion menepuk jidatnya, "Astaga Juan..."
Juan mulai duduk di kursinya ambil menatap semua hadiahnya, "Iya gimana aku takut bukan punyaku jadi aku kasih aja ke orang jadinya berkahnya ke orangnya bukan ke aku gitu sih mikirnya."
Dion mentowel jidat Juan, "Dasar nggak peka!"
__ADS_1
Juaj berusaha menepisnya namun sudah kena, jidatnya, "Yaudah si udah terlanjur."
Juan melihat meja Dion yang juga ada hadiah diatas mejanya, "Loh kamu juga punya? dih punya pengagum juga ya?"
"Lah aku gitu lho." denga percaya diri Dion memamerkan hadiah yang ada di lantai dan mejanya. Dia juga mendapat hadiah yang lupa ia pamerkan kepada Juan, ia tak kalah ganteng dengan Juan jadi wajar ia juga dapat hadiah.
"Jangan main simpan atau makan pemberian dari yang kamu sebut pengagum." Juan memberi himbauan untuk tidak main comot hadiah takutnya ada niat buruk didalamnya.
Dion merasa itu tidak benar, "Namanya diberi tuh harus diterima. Nggak boleh nolak rezeki, nggak baik."
Juan menepuk bahu Dion dengan lirih, "Dih, bukan gitu. Takutnya ada yang berbuat buruk bisa aja berkedok pengangum rahasiakan dia ngasihnya bareng sama mereka-mereka yang bener pengagum tapi sebenernya dia bukan pengagum."
"Apa sih! ribet omonganmu, sulit dimengerti." Dion mengelus-elus bahunya yang padahal tidak sakit.
"Lah, dibilangin juga." sinis Juan.
"Iya deh iya makasih." Dion menjawab dengan malas karena malas berdebat dengan Juan.
Juan masih saja kepikiran siapa pengagumnya, "Berarti tahu dong pengagummu siapa?"
Dion memberi senyum smirk ke arah Juan, "Lah, nasehatin katanya nggak boleh percaya sama pengagum tapi juga tetap kepo. Mereka si pegawai cewek divisi apa aku lupa kayaknya divisi berbeda."
"Loh cewek semua ya?" tanya Juan dengan mendekatkan wajahnya ke arah meja Dion.
"Iyalah bambang." Dion memutar bola matanya yang malas menjawab pertanyaan Juan.
Juan diam sejenak sambil menyimpulkan sesuatu, "Berarti pengagumku juga cewek juga dong."
Dion tiba-tiba melotot tidak percaya kalau Juan ternyata dari tadi benar-benar tidak paham pengagumnya itu cewek, "Astaga jangan-jangan kamu mikirnya pengagummu itu cowok cewek ya? dasar nggak sadar banget si, lu cakep woy ya pasti ada lah pengagum."
"Iya aku mikirnya gitu cewek cowok." ucap Juan dengan santainya.
"Astaga, dilihat dong dari segi hadiah dan tulisannya udah pasti cewek semua, Juan." Tangan Dion menunjukkan kearah hadiah dan tulisan di dalamnya.
Juan menelisik hadiahnya, "Eh, iya si. Tapi bisa juga kan ada cowok."
"Dih pikiranmu sodom!" ucap Dion sambil memicingkan matanya
Plak
Suara tamparan ringan dari Juan ke Dion.
"Astaga! aku nggak sodom." bentak Juan.
Setelah menampar Dion, Juan berjalan meninggalkan Dion.
__ADS_1
"Hey! aku ngomong pikiranmu sodom bukan kamu orang sodom. Baper banget itu orang lagi dateng bulan apa?" ucap Dion menatap punggung Juan yang mulai menjauh dari pandangannya sambil mengelus pipinya yang lumayan sedikit sakit.