
“Mas.”
Suara Shanuella terdengar serak, beradu dengan dering ponsel dari dalam tas. Kepala berdenyut, ingatan belum kembali utuh. Diamatinya lekat-lekat pria yang masih membayang di dalam pandangan.
“Mas.”
Mengerjap beberapa kali, bayangan itu terlihat semakin nyata. Beberapa detik kemudian, Shanuella tercengang. Mata indahnya membola mendapati laki-laki yang selama ini dicari sekaligus dibenci ada di depan mata.
“Blade?” Mengusap indra penglihatannya hingga memerah, dia memastikan lagi kalai penampakan di depan mata adalah nyata. Tersentak, Shanuella benar-benar terkejut ketika penampakan pria gagah itu melontarkan senyuman.
“Ka ... kamu Blade? Mau apa ke sini?” Shanuella berbata-bata. Diabaikan dering ponsel yang berteriak sejak tadi.
Rasanya masih seperti mimpi dan belum bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Laki-laki yang menyempurnakan kehancuran hidupnya kini ada di depan mata. Segala caci maki, umpatan, dan sumpah serapah yang selama lima tahun ini disiapkannya lenyap entah ke mana. Pikiran Shanuella mendadak kosong.
Rarendra membeku sesaat. Tak sanggup memberi jawaban, pria itu memilih meraih ponsel dari dalam tas tangan Shanuella dan menyerahkan pada pemiliknya. Dia butuh bernapas untuk menenangkan dada yang tiba-tiba sesak. Tak hanya itu saja, pria berkemeja kerja itu juga butuh waktu untuk merangkai kisah untuk menanggapi tanya yang ditujukan untuknya.
Sekilas, nama ‘Mas Bayu’ muncul di layar ponsel yang menyala.
“Ada yang menghubungimu.”
__ADS_1
Shanuella tertegun. Pandangan terarah pada pria yang mencuri kesadarannya sejak membuka mata.
“Maaf, ponselmu.” Rarendra kembali mengingatkan setelah tangannya dibiarkan menggantung sejak tadi.
Wanita di atas ranjang pasien itu tersadar. Disambarnya gawai dari tangan menggantung itu tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Bahkan, Shanuella tak berkedip. Dia takut ketika mengedipkan mata dan Blade hilang dari pandangan seperti lima tahun silam.
Mengukir layar gawai dan menerima panggilan, Shanuella menyapa datar tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Dia masih terpukul dengan kehadiran Blade yang tiba-tiba.
“Ya,” sapanya datar pada si penelepon yang tak diketahuinya. Terlalu terkejut, sampai-sampai konsentrasinya kocar-kacir.
“Shan, kamu di mana?” Bayu berpura-pura.
“Kamu baik-baik saja? Aku jemput, ya?”
“Hmm.” Bergumam, fokus wanita itu benar-benar terbelah. Saat ini dia bahkan tak mendengar pertanyaan pria yang telah sah menjadi suaminya. Kehadiran Blade menghancurkan kewarasannya.
“Kirimkan alamatnya padaku, ya. Aku tunggu. Aku akan menyusulmu.”
“Ya, Mas.”
__ADS_1
Ponsel yang tergenggam itu jatuh di atas tempat tidur. Masih dengan posisi berbaring, Shanuella menatap lekat-lekat pria di hadapannya.
“Mau apa ke sini?” tanya Shanuella. Pandangan mulai mengabur, cairan hangat tiba-tiba mendesak keluar. Berjuang keras menahannya, dia tak mau sampai terlihat lemah di hadapan Blade.
“Maaf, Nona.” Rarendra mengepalkan tangan, berusaha untuk bersikap biasa. “Sepertinya salah orang.”
Shanuella menggeleng. “Tidak. Aku yakin tidak salah mengenali orang. Aku yakin kalau ....”
“Rarendra. Namaku Rarendra Tanuwijaya.”
Kedua mata bening Shanuella terbelalak ketika nama asing muncul dari bibir pria tampan di hadapannya. Nama yang sangat familier di pendengarannya akhir-akhir ini.
“Ra ... ren ... dra Tan ... nu ... wi ...jaya?” Shanuella masih terpukul. Dia tak menyangka salah mengenali orang. “Tidak mungkin ada kemiripan yang begitu mirip. Aku tidak mungkin salah mengenali orang.”
Kepala menggeleng, rambut berantakan Shanuella ikut berayun pelan.
“Kamu tidak sedang menghindariku, kan? Aku yakin kalau kamu Blade. Sangat yakin.”
“Sayangnya keyakinan Nona salah. Kenyataannya aku memang bukan ... em ... siapa yang Nona sebutkan tadi?”
__ADS_1
“Blade.”