
“Jadi semua ini benar. Kamu lupa dengan dendammu, Ren. Shanuela musuhmu, dia sudah membunuh kekasihmu. Wanita itu penjahat, pantasnya membusuk di penjara.” Kathy mendadak berapi-api, meluapkan segala emosi yang terjebak di dadanya. “Bukan untuk dinikahi.” Menggeleng, dia berusaha mengingatkan tujuan awal Rarendra mendekati wanita manja putri pengusaha ternama—Shanuella SunShine.
“Dia ibu dari anakku.” Rarendra memejamkan mata sejenak. Ucapan Kathy tak lagi memengaruhinya. Dia sudah mantap melenyapkan sisa dendam dan memulai lagi dengan Shanuella.
“Dia pembunuh. Tidak pantas dinikahi, Ren. Kenapa memberinya semua ini?” Suara Kathy naik satu oktaf. Bola mata mencelang, kilat amarah seakan mengiris lawan bicaranya.
“Aku sudah memaafkannya. Pergi dari sini, jangan muncul lagi di hadapanku. Aku benar-benar ingin memulai hidup baru. Kami akan menikah sebentar lagi ....”
Sebuah tamparan menghantam pipi Rarendra. Jejak telapak tangan itu terasa panas dan meninggalkan nyeri. Terdiam, dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Napas naik turun, terpancing saat ada seorang wanita berani main tangan dengannya.
“Kurang ajar!” Rarendra menggeram. Tangan mengepal, siap membalas pukulan wanita di hadapannya. “Ini hidupku dan Shan-Shan. Tidak ada urusan denganmu.”
Kathy tersenyum sinis. “Dia menyerahkan tubuhnya padamu, lalu tiba-tiba kamu jadi lemah. Walau dia ibu dari anakmu, tetap saja pembunuh. Ingat dendammu. Ingat aturan yang kamu buat, Ren. Tidak akan main perasaan, tidak akan jatuh cinta, tidak akan ....”
“Aku kalah,” potong Rarendra. “Aku jatuh cinta padanya.”
“Pada tubuhnya. Kamu hanya tergila-gila ....”
“Aku berjuang untuk menganggap rasa ini tak pernah ada. Mencoba mengabaikan debar di dada setiap melihatnya, menolak detak jantungku yang memburu setiap menatapnya, bahkan dari jauh pun denyut ini nyata. Aku menolak semua. Tapi, aku sadar. Pelan-pelan Shan-Shan masuk ke dalamnya dan menguasai segalanya.
Kathy menggeleng. “Kita sudah sepakat menghancurkannya. Lalu, kenapa kamu mengkhianati kesepakatan kita? Kalau ada wanita yang mampu membuatmu jatuh cinta, itu aku ... bukan dia,” ungkapnya, penuh percaya diri.
“Maafkan aku. Pergi dari sini. Aku menyerah pada perasaanku sendiri. Aku mencintai Shan-Shan, bahkan sejak lama. Sejak masih bersembunyi di balik perasaan dendamku.”
Kathy menggeleng. “Kamu salah mengenali rasa. Ini bukan cinta. Kamu hanya merasa sendirian dan dia dengan liciknya datang membawa gadis kecil itu untuk melunakkanmu.”
__ADS_1
Rarendra menggeleng. “Aku mencintainya tanpa kusadari. Seiring waktu rasa itu tumbuh. Dendamku sudah lama hilang, bahkan di saat aku ....”
Kathy menggeleng. Suara dengkusan wanita itu terdengar memuakkan.
“Aku berjuang menghancurkannya, tapi ... pada kenyataan ... aku sendiri yang mundur.” Pikiran Rarendra menerawang. Teringat bagaimana lemahnya dia saat harus menghukum Shanuella dengan tangannya sendiri dan terpaksa menggunakan orang lain untuk melenyapkan wanita tersebut.
Semalaman tidak bisa tidur, perasaannya tak tenang. Terbayang bagaimana pembunuh bayaran yang disewa untuk melenyapkan Shanuella bekerja dan membuat wanita itu hilang dari dunia. Pada akhirnya, dia lemah. Memutuskan menyelamat musuh sendiri dari eksekusi mati.
“Kamu masih memainkan dramamu, ‘kan?” Kathy tak terima. Tersenyum getir, wanita itu menggeleng dengan raut sedih. “Ini lanjutan dari dramamu, ‘kan? Pembalasan dendammu yang belum terselesaikan. Kamu memilih menikahinya untuk menyiksanya lebih kejam dari sebelumnya. Ya?”
Rarendra menggeleng yakin. Binar di matanya mengumbar isi hatinya yang tengah jatuh cinta. Tak sekelam lima tahun lalu, dikuasai amarah dan dendam.
“Tidak. Kamu sedang membohongi dirimu sendiri, Ren. Dia musuhmu, dia pembunuh. Harusnya dilenyapkan, bukan dinikahi, Ren.” Melangkah mendekat, Kathy yang sudah kehilangan separuh akal sehatnya itu menghambur memeluk Rarendra. Didekapnya erat seakan tak mau melepas.
Kathy menggeleng. “Aku memegang semua rahasiamu, Ren. Ayolah, kita teman baik dalam menghancurkan Shan-Shan. Kenapa kamu berkhianat?”
“Pergi dari sini. Pergi dari hidupku. Berapa banyak yang kamu butuhkan untuk menghilang dari hadapanku dan Shan-Shan?”
“Apa yang rela kamu lepaskan demi gadis kecil tadi?” Kathy menantang.
“Semuanya.” Rarendra menjawab yakin. Aku rela melepaskan semua milikku bahkan nyawaku untuk anakku.”
Tersenyum manis, Kathy terlihat cantik. “Lepaskan Shan-Shan kalau begitu, demi anakmu.”
Rarendra meradang. Darah mendidih mendengar pinta Kathy yang terkesan tak tahu diri. Emosi yang ditahannya sejak tadi kini meronta di luar kendali. Tak lagi peduli kalau sosok feminin di hadapan bukan tandingannya. Tangan mengepal siap dilabuhkan pada wanita yang sejak awal menguji kesabaran. Namun, amukan di dalam dirinya mereda seketika saat suara anak kecil menyapa dari balik punggung.
__ADS_1
“Dad, mau pipis.” Lana sudah berdiri tak jauh dari Rarendra sambil meremas perut. Kedua kaki gadis kecil itu bergerak tak karuan, menahan cairan yang hendak keluar.
“Oh, ayo.” Rarendra melunak dalam hitungan detik. Pria yang semula tampak sadis, tiba-tiba berubah manis. Lenyap sudah sisi kejam yang hampir saja menghantam Kathy dengan pukulan.
Ternganga tak percaya, wanita yang sempat ketar-ketir ketakutan itu terdiam mengawasi.
“Dia benar-benar Rarendra? Kenapa aku seperti melihat orang berbeda?” Kathy bermonolog.
...***...
“Mas, kamu di mana?” Shanuella terisak. Duduk di depan rumah kontrakan yang dulu ditempatinya bersama Bayu, dia kebingungan.
“Aku di Bandung. Baru saja tiba. Ada pekerjaan. Kamu menangis? Ada apa?”
Suara maskulin terdengar menenangkan di balik panggilan. Selalu saja menjadi tempat ternyaman untuk Shanuella pulang.
“Dia menyakitimu?” tanya Bayu, tak tenang setelah Shanuella memilih diam. “Katakan padaku, Shan.”
“Wanita itu memeluknya Mas. Di depanku dan Lana. Aku mengenali ....” Kembali terisak, suara serak Shanuella terdengar sedih.
“Shan, jangan menangis. Mungkin hanya salah paham.”
“Aku tidak salah paham, Mas. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia Kathy ....”
Bayu tersentak. “Kamu di mana? Aku ke sana sekarang. Jangan ke mana-mana, tunggu aku di sana.”
__ADS_1