My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 84


__ADS_3

“Ya. Kamu sudah makan?” Lirikan Bayu terarah pada pria yang berusaha menguping pembicaraan mereka. Ada semburat cemburu tersirat dari sorot mata yang tiba-tiba berubah sendu.


Shanuella menggeleng. “Makan sekarang . Ini sudah malam.” 


Perhatian Bayu selalu tertuju pada istri dan anaknya. Bahkan, di saat sedang mengalami kesakitan dan kemalangan pun, pria itu selalu memikirkan keduanya.


“Ya, Mas.”


...🍒🍒🍒...


Kamar perawatan berubah senyap menjelang tengah malam. Obrolan yang sempat mendominasi di tengah ruangan tak terdengar lagi. Bayu dan Shanuella sudah tertidur dengan tangan saling menjalin mesra. Sang pasien terbaring di atas ranjang dan istrinya duduk dengan tubuh melengkung ke arah brankar. Merebahkan kepala di sana, wanita cantik itu benar-benar tertidur pulas. Suara dengkuran halusnya terdengar teratur dan tertata.


Satu-satunya sosok yang masih terjaga hanya Rarendra. Menempati sofa bed hitam di salah satu sudut kamar, dia duduk menatap pasangan yang sedang terlelap di atas brankar. Hatinya tertampar, pria itu seperti disadarkan akan kenyataan yang selama ini diabaikannya.


“Mereka menikah? Lalu ada Lana?” 


Pertanyaan itu terdengar pelan dan tak jelas ditujukan pada siapa. Pandangan terus mengawas, tertuju pada Shanuella yang terlelap pulas.

__ADS_1


“Kamu menikahinya? Kenapa? Kamu tidak mencintainya, ‘kan?” 


Dari kejauhan, diamatinya tangan yang terus menjalin. Jemari saling melengkapi satu sama lain, mesra dan tak terpisah sejak tadi.


“Kenapa aku harus cemburu? Bukannya kisah kita sudah lama usai?” 


Menyerah setelah sekian lama bertahan di sofa, Rarendra melangkah mendekat. Memangkas jarak, dia bisa melihat dan menyentuh Shanuella yang sedang terbuai di alam mimpi.


“Shan.” Rarendra melirik ke arah brankar. Pria berhias luka karena ulahnya itu sedang memejamkan mata. Deru napas tampak naik turun, menunjukkan kalau empunya pun sedang terlelap.


Sedikit berjongkok, Rarendra kembali berbisik. “Tidur di sofa, jangan di sini. Pasti pegal semua.” Mata terarah pada genggaman tangan Shanuella dan Bayu, kesal hadir bersama cemburu. Diurainya jalinan tangan keduanya yang membuat sakit mata dan menggeram pelan.


Memastikan pertautan keduanya benar-benar terurai, Rarendra menggendong Shanuella ke sofa. Dia tidak bisa membiarkan kemesraan itu terjadi di depan matanya lagi walau hanya dengan hal-hal biasa. Hati memanas, harga dirinya terinjak-injak.


“Tidur di sini, Shan. Kamu lebih pantas tidur di sini dibandingkan di sana.” Rarendra tersenyum puas. Dipandanginya sosok mungil yang terkulai tak berdaya memenuhi sofa.


Sedikit pun Shanuella tak terganggu. Hanya bergerak pelan dan melanjutkan tidurnya lagi.

__ADS_1


“Selamat malam, Baby. Mimpi indah.” 


Membisikkan kata-kata manis, Rarendra menyempurnakannya dengan sebuah kecupan di dahi. Memejamkan mata, dia menikmati kecupan sepihak yang sejak lama dirindukannya. Tepat saat akan menegakkan posisinya, dia terkejut saat Shanuella tiba-tiba memeluk erat leher dan tak membiarkannya menjauh.


Didekapnya erat sembari berbisik. “Blade ….”.


Deg.


Rarendra melemas. Masih dalam posisi membungkuk, dia pasrah saat tubuhnya ditarik mendekat dan dipeluk erat.


Dia masih menyimpan namaku di dalam hatinya? 


Membelalak. Mimpi yang sempat sirna mendadak terusik lagi. Mata Rarendra berbinar menyimpan asa dan mimpi baru.


“Blade, kamu di mana? Aku menunggumu pulang. Aku dan Lana ….”


Suara dalam tidur itu berhenti saat terdengar suara botol minuman terjatuh dari atas nakas. Rarendra berbalik dan mendapati Bayu tengah menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


“Shan, bangun!” teriak Bayu, menahan cemburu.


__ADS_2