My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 79


__ADS_3

“Mas, bangun. Jangan tidur terus.” Aku harus bagaimana?” Shanuella menatap jemarinya dan Bayu yang terjalin. Suaminya tak merespons, jari-jari panjang itu terburai dan kaku.


“Aku ke sini tanpa memberitahu Lana dan Mbok Sari, mereka pasti menunggu kepulangan kita untuk makan malam. Bangun, Mas. Ayo kita pulang.” Suara Shanuella terdengar lirih. Sesekali mengusap sudut mata yang basah. Berjuang keras untuk menahan laju air mata, ia menangis dan menangis lagi.


“Mas, bangun. Aku takut. Jangan pergi. Aku sudah kehilangan Mommy, Daddy, tak bisa kehilanganmu. Kami tidak bisa tanpamu.” Berbisik pelan, dia tak mau sampai apa yang disampaikannya terdengar oleh pria asing penghuni sofa di sudut kamar.


Rarendra menatap tak berkedip dari kejauhan. Memilih menjaga jarak untuk sementara, dia tak mau mengusik Shanuella yang terlihat terpukul. Mereka pernah dekat di masa lalu dan kini harus berjarak, rasanya menyesakkan. Di titik ini dia menyadari kalau wanita itu tak pernah pergi dari hatinya.


Shan ….


Hati menjerit ketika mendapati wanita yang dicintai meratapi laki-laki lain. Air mata kesedihan dan semburat kekhawatiran Shanuella bukan lagi untuknya. Ada sosok lain mengambil tempatnya dan menjadi tempat berteduh wanita tersebut. Kecewa, cemburu, dan sakit itu disembunyikan agar tak terlihat dunia. Dia tak mau seorang pun tahu kalau saat ini ia tengah hancur berkeping-keping.


Saat kehilangan sang kekasih karena kecelakaan, Rarendra masih sanggup mengangkat kepala. Akan tetapi, kini dia ada di titik yang mungkin orang-orang sebut terpuruk. Pandangan mengawas pada tempat yang sama, rasanya ingin merengkuh Shanuella dan memeluk mesra. Kaki melangkah tanpa sadar, terarah menuju brankar di tengah ruangan.

__ADS_1


“Shan.” Rarendra yang sejak tadi diam, tiba-tiba sudah berdiri di samping Shanuella, menyapa lembut dan menebar senyuman datar.


Wajah duka itu terangkat. Pipi berjejak basah, mata memerah, dan sesekali terisak. Tanpa bercerita, kesedihan itu tertangkap Rarendra.


“Sudah makan?” tanyanya, pelan.


Shanuella menggeleng.


“Aku tidak lapar, Pak.”


“Tapi, wajahmu pucat. Kita turun ke bawah, cari makan,” bujuk Rarendra, melirik genggaman tangan Shanuella yang begitu erat pada jemari Bayu. Kembali hatinya tertikam.


Membuang pandangan, menyembunyikan cemburu, Rarendra tak mau sampai rasa itu berlarut-larut dan mematikan semangat serta langkahnya. Shanuella miliknya, sejak dulu hanya miliknya. Kehadiran Bayu tak akan mengubah kenyataan apa pun.

__ADS_1


Dia hanya anjing setia Sunjaya. Pasti. Rarendra mengangguk, mencoba meyakini diri di tengah hati yang mulai goyah. Gambaran yang ditunjukkan Bayu dan Shanuella seakan menyangkal keyakinannya. Dia belum jelas hubungan keduanya, tetapi dia tahu kalau dua orang ini memiliki kedekatan, lebih dari pengawal dan putri majikan.


Jangan-jangan dia jatuh cinta pada Bayu? Tapi, sepertinya tidak mungkin. Aku tahu tipenya Shanuella, Bayu tak pernah ada di dalam daftar meski di urutan ke seribu.


Membuang jauh-jauh dugaan yang membuat dada tertumbuk, tatapan Rarendra tertarah pada keduanya. Diamati lekat-lekat, dimaknainya setiap interaksi nyata Shanuella dan Bayu. Senyum nyaris terukir dari bibir keringnya tetapi semua lenyap dalam sekejap ketika menyadari sesuatu.


Cincin itu kenapa bisa serupa?


Pandangan tak berpindah, terus memindai cincin yang terselip di jari keduanya. Dugaan itu berubah jadi kepanikan. Sedikit pun, dia tak pernah menyangka akan ada kemungkinan ini. Orangnya tak mengabari apa pun selain Bayu yang masih mengabdi pada keluarga Sunjaya sampai detik ini. Tak ada kisah tentang mantan majikan dan pengawal tersebut. Apalagi, selama ini diketahui kalau pengawal pribadinya telah menikah dan memiliki seorang putri, membuat Rarendra tak berpikiran ke arah sana.


Siapa istri Bayu? Tidak mungkin Shan-Shan, ‘kan? Tapi, kenapa cincin itu serupa. Kenapa dia bisa menggenggam tangan Bayu tanpa canggung. Kenapa ….


Rarendra membeku, dia tercengang sendiri usai merangkai cerita yang mungkin saja kebenaran tersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2