My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 63


__ADS_3

Senja terkikis, kilau kemerahan menampar syahdu. Seorang pria tampan tampak merenung di beranda rumah. Duduk sendirian kaki menyilang rapi, ditemani sebatang tembakau gulung yang mengepul di sela telunjuk dan jari tengah. Sesekali rokok itu diisapnya dalam-dalam, tak lama diembuskan hingga kabut putih mengudara hingga menyesakkan dada.


Tak biasanya, Bayu yang tenang mendadak galau berkepanjangan. Ada beban menggumpal di dada dan butuh jalan keluar secepatnya. Titah Rarendra masih memenuhi benak dan membuat pria itu kebingungan. Tenggelam di dalam lamunan, dia tak menyadari kehadiran seseorang berjalan mendekat.


“Mas.”


Derap Langkah berhenti tepat di depan Bayu, Shanuella masih dengan pakaian kerja muncul menggengam segelas kopi hangat dengan aroma khas menguar. Diletakkannya di atas meja kayu mungil yang lapuk di makan usia.


Bukan jawaban seperti biasanya, Shanuella menghela napas sembari menatap wajah rupawan yang tengah menanggung masalah berat. Seperti itulah kurang lebih apa yang terbaca oleh wanita itu saat berbenturan dengan raut suaminya.


“Shan.” Bayu menoleh ke sumber suara dan buru-buru mematikan rokok di tangannya. Ditekan ke dasar asbak kaca dan dibiarkan teronggok di tengah wadah pembuangan tersebut.


“Kamu kenapa, Mas?” Shanuella bingung.


Menegakkan duduk, Bayu buru-buru meraih gelas kopi dan menyesapnya dengan ujung bibir. Sebentar lagi Shanuella akan berceloteh ria, membahas lamunannya yang tak biasa atau menceramahinya akan bahaya sebatang rokok yang akan membunuh seisi rumah.


“Terjadi sesuatu, Mas?” Shanuella melempar tanya, mengusik sisi penasaran Bayu. Tak biasanya sebatang rokok bisa melenggang tanpa dikomentari.


Menengadah, Bayu mengamati paras cantik yang tengah menatap nyalang, “Aku baik-baik saja, Shan.” Bayu meletakkan gelas kopi kembali ke atas meja kayu.


“Mas bohong,” tuduh Shanuella tanpa basa-basi.

__ADS_1


Mereka menikah bukan sehari dua hari, tentunya paham satu sama lain walau pura-pura tak peduli. Perhatian dan pengertian Bayu selama ini sanggup menggetarkan perasaan Shanuella walau wanita itu berjuang untuk tak mengindahkannya.


“Sejak kapan kamu memperhatikanku, Shan?” Bayu tampak tenang. Menatap lancang, pria itu menunggu jawaban.


“Hah!”


Wanita beiris hitam jelaga itu tercengang.


“Sejak kapan memperhatikanku?” Bayu menegaskan lagi.


Shanuella menggeleng. “Kalau tidak mau berkisah, it’s okay, Mas. Masuk ke dalam. Jangan melamun di sini. Lana mencarimu.” Mengalihkan pembicaraan, wanita dengan gura-gurat lelah itu berbalik. Akan tetapi, langkahnya harus terhenti ketika pergelangan tangan dicekal, Bayu tak mengizinkannya menjauh.


“Mas?”


Senyuman ramah menantang senja. Bayu tampak menyipitkan mata, menggoda Shanuella. Diremasnya pelan pergelangan tangan, tak ikhlas untuk melepas. Dalam sekali sentak, wanita di hadapan terjatuh di atas pangkuan, pasrah dalam dekapan.


Pekik tertahan, Shanuella menggigit bibir agar suara terkejutnya tak terlontar keluar. Dia tak mau sampai mengguncang seisi rumah dengan jeritnya, Butuh beberapa detik menguasai keadaan dan mengembalikan diri kenyataan.


“Aku ingin bicara, Shan.” Suara Bayu bergetar dan terdengar pelan. Kunciannya pada tubuh Shanuella yang duduk di pangkuan kian erat, pria itu menjatuhkan dagu di pundak sang istri. Pelakuan sederhana terkesan manis itu sanggup membekukan wanita 24 tahun tersebut.


Menyimak dalam diamnya, Shanuella tertunduk.

__ADS_1


“Shan ….” Menelan ludah sebelum memulai ucapan. “Kalau aku ….” Berat untuk Bayu menjelaskan isi hatinya.


“Kenapa, Mas?”


“Aku ingin pergi dari sini, Shan.”


“Kenapa?”


“Aku ingin memulai denganmu.”


“Kenapa harus pergi?”


“Supaya tidak ada lagi yang mengganggu. Bukannya, kamu juga ingin bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu?”


“Tapi, tidak harus pergi dari sini, Mas. Aku tidak bisa meninggalkan Mommy.”


“Bukannya memang harus ada yang dikorbankan, Shan?”


“Ya, Mas. Tapi, aku memilih untuk tetap di sini. Mommy dan Daddy di sini, aku ….”


“Kalau aku memintamu resign dari pekerjaan, apa kamu bersedia?” Bayu ragu.

__ADS_1


__ADS_2