My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Rahasia


__ADS_3

"Dih! paling bisa kalau nyogok." sindir Lana yang akhirnya luluh dengan sogokan Tere.


Tere mengedipkan matanya lagi ke arah Lana, "Hehehe... kau yang paling tahu aku."


*


*


*


Juan dan Lana makan berdua di meja makan yang Lana pilih. Menu yang mereka pilih pun sudah di tulis oleh waiters. Daripada dia pulang dan merepotkan bibi mending dia makan gratis di resto tinggal pilih pula jadi seenak hati mau yang mana.


Lana sebenarnya mengajak bodyguard lainnya dan sopirnya namun, mereka memilih untuk makan dirumah dan mereka malah meminta Juan untuk menemaninya. Akhirnya Juan pun mengalah dan mau menerima Lana. Walaupun Lana sudah bilang tidak usah tetapi Juan menolak dengan berbisik, "Hey! aku pun mau makanan gratis."


"Aish!" pekik Lana yang dipikirnya Juan mengelak karena dia canggung malah dia menyukai gratisan juga.


Makanan datang dan suasana yang tadinya hening sekarang menjadi kecapan mulut antara Juan dan Lana.


"Apa kau tidak geli dengan pemandangan tadi?" Lana mencoba mencairkan suasana.


"Pemandangan?" Juan masih memikirkan apa yang dimaksud Lana.


Bagai menemukan harta dia pun tersenyum, "Oh, tentang tuan Alex dan nona Teresa."


"He'em." singkat Lana.


"Tidak, emang kau tidak pernah bucin kepada seseorang?" tanya Juan dengan santai sambil menyeruput es teh manisnya.


Lana menodongkan garpu ke arah Juan, "Ya! kau mengejekku."


Juan menggelengkan kepalanya, "Tidak begitu maksudku, aku benar-benar bertanya bukan mengejek. Kalau kau pernah bucin itu akan menjadi hal wajar bagi pasangan, kadar bucin setiap orang kan beda. Jadi ya abaikan sajalah kalau ada yang berlebihan selama mereka tidak merugikan kita. Kalau tidak suka ya pergi menjauh saja itu simpelnya." jelas Juan.


"Oh, iya juga si. Tapi..." Lana ragu untuk meneruskan, karena kalimat Juan benar kalau tidak suka pergi menjauh kadang kita merasa tak suka, namun semakin kita ingin mengungkapkan itu malah dampaknya menyakiti atau mengganggu mereka. Akhirnya kita yang dijauhi karena tidak punya perasaan.

__ADS_1


Juan memandangi Lana menunggu kalimat selanjutnya yang akan Lana ucapkan.


"Lupakan kau ada benarnya juga. Untuk urusan aku pernah pacaran atau tidak, itu urusan pribadiku."


Juan hanya manggut-manggut, "Baiklah, terserah Anda."


Setelah selesai makan Juan dan Lana melanjutkan untuk segera pulang kerumah.


*


*


*


"Tuan! apa tidak sebaiknya Anda memberitahu kepada Juan sekarang?" tanya asisten pribadi kakek Griz yang bernama Eros.


Kakek yang duduk di meja makan sambil memandangi berkas di depannya langsung menatap ke asistennya, "Tidak!" pekik kakek Griz.


"Belum saatnya dia tahu yang sebenarnya. Namun, akan ku pastikan dia ikut andil menangkap dalang dari semua ini. Agar rasa sakitnya kehilangan ayah selama itu dia bisa tahu penyebabnya dan siapa orangnya." tambah kakek Griz.


Kakek Griz pun mengernyitkan dahinya pula yang tak paham alur pikiran asistennya, "Balas dendam? yang benar saja, tentu tidak aku pun tidak mau Juan menjadi pembunuh jika suatu saat memang benar dia kehilangan kesabarannya."


"Lalu, apa langkah selanjutnya tuan?" tanya Asisten kakek yang masih ingin tahu strategi apa yang akan kakek jalankan.


"Jangan lakukan apapun, surat yang mereka kirim tak usah di pikirkan." perintah kakek Griz.


Sang asisten merasa tidak benar jika harus melupakan apa syarat surat itu, "Tuan tidak khawatir dengan keselamatan tuan dan nona Lana?"


Kakek Griz menyeringai ke arah asistennya, "Justru itu yang aku mau."


Mendengar hal itu sang asisten kaget, "Apa maksud tuan? bukankah itu malah berbahaya tuan?"


"Aku mau tahu mereka akan melakukan apa lagi? sudah lama dia tidak menampakkan terornya lagi setelah kecelakaan anak dan menantuku. Tapi sekarang dia muncul lagi dengan menghabisi Pak Bram, sungguh jika tidak ada hukum sudah pasti aku akan menguliti dia hidup-hidup." jelas kakek Griz.

__ADS_1


"Apa sebaiknya saya menyiapkan beberapa bodyguard di kantor dan di rumah." saran sang asisten yang khawatir dengan keselamatan bosnya dan cucu bosnya itu.


Kakek Griz menggelengkan kepalanya, "Tidak! Lana bisa risih dan marah nanti jika tahu bodyguardnya bertambah."


"Bagaimana kalau mengikuti nona dengan diam-diam saja? mereka hanya akan mengikuti nona diam-diam itu tidak akan membuat nona risih kan?" saran sekali lagi dari sang asisten agar keselamatan Lana bisa terjamin.


Kakek mencoba meraba apa kah itu jalan terbaik, "Kau yakin?"


Sang asisten mengangguk kan kepalanya, "Kita harus selalu waspada tuan ya ini caranya kalau mau menjaga nona secara diam-diam agar nona tidak marah."


Kakek terdiam sesaat dan mulai menatap lagi kearah asistennya itu, "Aku percayakan semua padamu. Aku tahu ini akan sulit nantinya karena aku tidak melaksanakan apa yang ditulis di surat itu."


"Serahkan kepada saya, tuan." dengan penuh percaya diri dan keyakinan sang asisten siap menjalankan perintah apapun dari bosnya.


"Pesanku cuman satu, apapun yang terjadi tetaplah hidup aku tidak mau ada kejadian yang seperti ayah Ju ----"


Kakek menghentikan omongannya karena melihat Lana sedang berjalan menuju ruang makan dimana dia dan asistennya sedang berunding sesuatu yang penting. Karena takut hal rahasia ini terbongkar terpaksa kakek menghentikan omongannya secara mendadak bagai orang sedang tersedak permen. Seketika Lana yang sedari tadi memperhatikan kakeknya pun menaruh curiga kepada kakeknya.


"Loh kenapa tidak diteruskan. Sebegitu rahasianya ya kakek sampai Lana datang kakek terdiam tidak meneruskan perkataan kakek." tanya Lana dengan menyipitkan matanya sebagai kode interogasi yang mendalam untuk sang kakek.


Kakek sontak menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu Lana sayang."


"Lalu?" Lana masih menyipitkan matanya ke arah sang kakek.


Karena sudah tidak bisa lagi menghindar dari tatapan tajam Lana, kakek pun berusaha membuat alasan yang benar-benar bisa di tangkap oleh Lana dan tidak ketahuan dia sedang berbicara hal penting terutama keselamatannya, "Baiklah kakek teruskan, tadi sampai mana ya?"


"Tuan meminta saya untuk mengatur ulang jadwal meeting." sahutan cepat dari asisten pribadi kak.


"Oh, iya iya tadi itu. Kau tahu akan ada presentasi dari divisi lain dan aku sering sekali absen tanpa tahu perkembangan mereka. Maka jadwalkan aku untuk ikut mereka presentasi." jelas sang kakek dengan dahi penuh keringat.


Lana mengernyitkan dahinya, "Bukannya kakek bisa menugaskan Lana jika mau menghadiri presentasi divisi lain?"


"Kakek juga butuh hiburan dengan melihat yang muda-muda." kakek mengedipkan matanya ke arah Lana yang.

__ADS_1


Lana tahu kakeknya sedang bercanda, dia pun membalas candaan kakeknya, "Kakek tak punya niat untuk cari nenek mudanya Lana kan" celetuk Lana yang bermaksud untuk bercanda dengan sang kakek.


"Heh!" pekik kakek yang kaget Lana bisa memikirkan sejauh itu padahal dirinya tidak pernah memikirkan untuk menikah lagi.


__ADS_2