My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Extra Chapter 7


__ADS_3

“Mas.”


Perhatian Shanuella beralih pada pria dewasa yang berdiri gagah dengan kedua tangan menyelip di saku celana. Kemeja biru muda dipadankan dengan bawahan hitam menambah ketampanan sang pria dewasa.


“Mas.” 


Air mata yang sempat reda berderai kembali saat pandangan mantan pasangan suami istri itu beradu. Kaki Shanuella bergerak maju, menghampiri pria pemilik tatapan teduh. Senja yang sendu, semilir angin membuai syahdu. 


“Kenapa menangis?” Bayu menyunggingkan senyuman menentramkan kalbu. Terpaku, sepasang matanya tertuju pada Rarendra yang berdiri membeku, tak terlalu jauh.


“Mas.” Hanya sepatah kata yang diucapkan berulang. Shanuella belum sanggup membagi sesak yang memenuhi ruang di dadanya. Terlalu sakit setiap mengingat masa lalu yang datang bertandang.


“Di mana Lana? Kenapa tidak bersamamu?” Bayu mengalihkan tanya, tak mau sampai Shanuella berkutat dengan luka yang kembali menganga. Dia menjadi saksi bagaimana remaja itu dipaksa dewasa karena keadaan. Menapaki tiap tangga ujian di usia yang teramat belia. Air mata, luka, dan putus asa menjadi teman setia.


Kepala menggeleng, rambut panjang Shanuella berayun pelan.


“Dia pasti sedih melihat mamanya berurai air mata.” Bayu mengingatkan dengan cara sederhana. Kedua tangannya mengepal di balik saku celana. 


Tak ingin melampaui batasannya, dia menghargai kehadiran Rarendra yang tak lain calon suami Shanuella. Dia tahu rasa sakitnya saat melihat wanita yang dicinta didekap laki-laki lain, dan tak ingin ada pria lain merasakan pedih yang sama.


Menjadikan isak sebagai jawaban, Shanuella menatap lekat-lekat pria yang selama ini menjadi penopang. Bayu bukan sekadar mantan suami. Akan tetapi, lebih dari itu. Pria itu jadi tumpuan, pegangan, dan tempatnya berlindung saat tak berdaya dan menyerah pada cobaan hidup.


“Shan, aku ke mobil. Kasihan Lana kalau terlalu lama ditinggal.” Rarendra maju selangkah dan membuka suara. 


Yang diajak bicara tetap bergeming.


“Aku pamit. Lana bersamaku. Kamu bisa menjemputnya di apartemenku bersama Bayu.” 


Tak mendapat jawaban, Rarendra bergegas menuju ke mobil. Tak sanggup terlalu lama menjadi orang ketiga dari perjumpaan Bayu dan Shanuella. Dia cukup tahu diri. Luka yang selama ini ditorehkan masih basah. Walau cemburu memorak-porandakan jiwanya, dia berusaha untuk bersikap dewasa.


Suara deru mobil meraung pelan bersama dengan gerakan kereta besi menjauh. Bayu menoleh, pandangan mengekor kepergian Rarendra yang menyimpan sejuta penyesalan.


“Kenapa lagi?” Bayu melontarkan tanya sembari melangkah maju. Senyum tak lepas dari bibirnya, terus terukir manis dan menenangkan.


SHanuella menyuarakan kepedihannya lewat air mata. Hati terlampau sakit setiap mengingat kebohongan demi kebohongan yang dipertontonkan calon suaminya.


“Aku tidak mau menikah.” Sepotong kalimat keluar dari bibir tipis Shanuella saat jaraknya dan Bayu tak lebih dari satu langkah kaki.


Terkekeh, Bayu memiringkan wajah dan menatap lekat-lekat wanita berkubang nestapa yang sedang menyeka air mata.


“Sampaikan pada putrimu. Salah satu alasanmu menerima Rarendra untuknya, bukan untukku.” Bayu menyambar tangan Shanuella dan menggenggam mesra. Menuntun wanita muda itu agar mengekori langkahnya.


“Kita mau ke mana, Mas?” 

__ADS_1


“Ke tempat pengepulan air mata. Siapa tahu ada yang berani bayar mahal. Lumayan, aku bisa kaya mendadak. Semakin kamu banyak menangis, aku makin diuntungkan.” Bayu tak tersenyum. Ucapan berbalut canda itu diucapkan dengan nada serius.


“Mas ....” Shanuella merengut.


“Sakit mana? Diceraikanku atau dikhianati Rarendra?” Bayu membuka pintu mobil dan mempersilakan Shanuella masuk ke dalam.


Lagi-lagi Shanuella cemberut. Duduk di kursi penumpang, tangan melipat di dada dan memasang tampang asam kecut. 


Bayu tergelak pelan, lantas menutup pintu mobil. Berlari kecil mengitari kendaraan itu, dia buru-buru masuk ke pintu sebelahnya dan duduk di belakang kemudi.


“Pertanyaanmu tidak lucu, Mas.” 


“Memangnya ada yang bilang aku sedang melucu?” Bayu tak terlalu menggubris, sibuk memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. “Aku hanya tanya, sakit mana?” Pria itu mencengkeram erat kemudi, lalu memandang lurus ke depan.


“Tidak ada hubungan. Jadi tidak bisa dibandingkan.” Shanuella menjawab singkat.


“Aku ganti pertanyaannya. Lebih baik bercerai denganku atau Rarendra berselingkuh?” Bayu tersenyum getir.


“Mas!” Wanita muda itu mulai kesal saat diajak berputar-putar dengan pertanyaan yang serupa.


“Lebih mudah berpisah denganku, ‘kan? Terbukti, sekarang kamu dan Lana baik-baik saja. Tapi, kalau Kathy dan Rarendra ....”


“MAS!” Shanuella lepas kontrol.


Shanuella bergeming.


“Kalau memang cinta kenapa tak mau mengakuinya?”


Kepala wanita itu tertunduk.


“Kalau mencintainya, coba tumbuhkan kepercayaanmu kembali. Hubungan itu tidak akan berhasil kalau kamu mencurigainya.”


“Dia mengkhianatiku.” Shanuella menegaskan.


“Ya, seperti yang diinginkan Kathy. Dia ingin kamu berpikir seperti itu dan kamu mengikuti maunya wanita itu. Selamat, aku harus mengirim rangkaian bunga untuk Kathy. Dia begitu pintar membuatmu terperangkap dalam jebakannya.”


“Mas.” Shanuella menoleh dan memandang Bayu yang memasang tampang datar.


“Dia tergila-gila pada calon suamimu. Itu fakta. Kalau sampai hari ini kamulah yang akan menikahi Rarendra, itu juga kenyataannya. Ini kemenanganmu, lalu kenapa menodainya hanya karena benalu seperti Kathy?”


“Mas mengenalnya?” 


“Tentu. Wanita yang berusaha mendekati Rarendra harus melewatiku.”

__ADS_1


“Lalu?” Shanuella mencari tahu.


“Lalu apanya? Kalau Rarendra menginginkannya, tak mungkin melamarmu, ‘kan? Dia pria bebas. Kaya, mapan, rupawan, tidak ada kekurangan. Dia bahkan bisa mendapatkan wanita yang sepuluh kali lipat lebih darimu. Mau gadis atau perawan.” Bayu menegaskan. “Kamu pikir ... kenapa akhirnya dia memilih melamar jandaku?”


“Lana?” 


“Dia mencintaimu. Sejak dulu. Sejak masih menjadi pengawalmu.”


“Kenapa dia menyakitiku kalau memang mencintaiku?”


“Dia tidak membunuhmu saja harusnya sudah berterima kasih, Nyonya. Posisikan dirimu sekali saja jadi dirinya. Kamu mendapati orang yang kamu cinta pergi dalam keadaan yang tidak wajar. Ada yang harus bertanggung jawab dan orang itu melenggang bebas. Kamu bisa terima?”


Shanuella menggeleng.


“Bukan hanya kamu saja yang korban, Rarendra juga berkorban perasaan. Kamu pikir mudah untuk jatuh cinta pada orang yang harusnya kamu benci?”


Wanita cantik itu terdiam.


“Aku yakin dia juga sakit. Hanya saja Rarendra tidak bisa mengontrol perasaannya. Kita tidak bisa memilih ke mana hati akan berlabuh. Demikian juga dengannya. Andai bisa, dia mungkin akan memilih Kathy dibandingkan dirimu.”


Shanuella merengut.


“Tak terima, ‘kan?” Bayu menoleh ke samping, memandang Shanuella yang sedang bermuram durja. “Karena kamu mencintainya.”


“Kenapa Mas membahas ini sekarang? Dulu ....”


“Aku mulai memercayainya setelah bertahun-tahun mencurigainya, Shan. Sudah, jangan membahas ini lagi. Aku jamin kalau Rarendra dan Kathy tidak ada hubungan apa-apa.”


Shanuella mengerucutkan bibirnya.


“Tak percaya padanya, tentu percaya padaku, ‘kan?”


Keheningan tercipta, Shanuella mencerna semua ucapan Bayu. Di tengah senja yang semakin temaram, ponsel pria dewasa itu berdering. 


Merogoh saku celana dengan sedikit kesulitan, Bayu memandang layar ponselnya yang berkedip. “Harry? Kenapa dia menghubungiku?”


Menempelkan ponsel di telinga, bukan sapaan ramah yang didengarnya. Dahi Bayu berkerut mendengar teriakan kemarahan yang bukan ditujukan untuknya.


“EDEL, MAU KE MANA? JANGAN KATAKAN KAMU MAU KE DISKOTIK LAGI. AKU PATAHKAN KAKIMU KALAU SAMPAI PULANG PAGI DAN MABUK-MABUKKAN!”


Seakan tak puas mengomel, suara menggelegar terdengar dan memaksa Bayu menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


“Edel! Jangan sampai kuhilangkan namamu dari ahli waris!”

__ADS_1


__ADS_2