
“Tidak.” Bibir tipis Shanuella mengerucut.
“Tidak apanya. Aku bisa melihatmu melotot. Kenapa? Terlalu mengagumi suamimu?” Bayu menahan tawa ketika semburat jingga kian kentara.
“Aaah, Mas.” Shanuella cemberut.
“Kamu lihat, Sayang. Mama kalau cemberut cantik, ya?” Bayu mencoba mencairkan suasana dengan mengajak putri yang tengah merebah manja di pundaknya itu bicara.
“Hmm.” Lana mengangguk. Menatap sang mama sekilas, kemudian menjatuhkan kembali dagunya di bahu Bayu. Kedua tangan melingkar di leher pria itu, mencari kehangatan. “Mama anja, Pa.” Lana menguap beberapa kali, mata meredup.
Mbok Sari yang menyaksikan tampak mengulum senyuman. Tidak ada doa lain, perempuan tua itu hanya berharap keluarga kecil Bayu dan Shanuella bahagia. Cinta tumbuh dan saling mengisi satu sama lain. Menjadi saksi bisu pernikahan keduanya, harapnya akan ada hari di mana lonceng kebahagiaan menggema nyaring, menyerukan sukacita.
“Mbok tinggal dulu. Sudah mengantuk. Lana mau bobok dengan Nini atau ….”
“Mau bobok sama Papa.” Suara gadis kecil itu terdengar pelan. Separuh kesadarannya telah tenggelam dalam alam mimpi.
“Biarkan saja, Mbok. Aku akan menemani Lana dan mamanya bobok.” Kembali Bayu melontarkan canda yang menyiratkan keseriusan. Wajah menggoda, alis mata laki-laki itu bertaut.
__ADS_1
“Mas!”
Tangan yang tadinya digunakan untuk memeluk, kini telah mencubit pinggang Bayu dengan sedikit kencang. Sontak, terdengar jeritan disusul tawa renyah.
“Mas, jangan menggodaku lagi.” Shanuella cemberut dan berjalan menuju ke kamar. Dia kesal dengan sikap Bayu yang terus-menerus membuatnya malu.
“Shan, mau ke mana?” Bayu menahan tawa. Disusulnya wanita dengan langkah lebar-lebar tersebut.
“Mau bersih-bersih setelah itu istirahat. Lana baringkan di atas tempat tidur, nanti setelah mandi, aku akan mengganti pakaiannya.” Shanuella masih sempat melirik ke arah putri kecilnya yang melemas di dalam dekapan Bayu.
“Tidak apa-apa, Mas. Kalau Mas mau bersih-bersih, tinggalkan saja Lana di sana.” Shanuella menunjuk ke arah tilam empuk.
Berjalan menuju kamar mandi, Shanuella mengabaikan ayah dan anak yang sedang menikmati kebersamaan. Dia terlalu lelah, ingin mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
...🍒🍒🍒...
Setengah jam mengurung diri di kamar mandi seluas satu kali dua meter, hampir satu album didendangkan Shanuella. Perasaan jauh lebih lega setelah berbasah-basahan dengan air hangat. Lelah dan letih yang mendera raga lenyap bersamaan dengan kantuk yang semula bergelayut di mata indahnya. Melangkah keluar dengan handuk melilit di dada, wanita itu tak berpikir apa pun. Bersenandung pelan, kaki basahnya menapaki lantai kamar tidur setelah dikeringkan di atas lap kaki berbahan rasfur.
__ADS_1
Namun, senyuman kecil di wajah Shanuella surut saat menyadari Bayu masih bertahan di kamar. Kedua kaki membeku, tubuh mematung di tempat. Wanita itu tercengang, mendekap handuk yang melilit di tubuh.
“Mas, kamu masih di si … ni?” Diserang gugup, ucapan pun ikut terbata-bata.
“Hmm.” Bayu menanggapi dengan santai. Duduk bersandar di tempat tidur sembari mengusap punggung Lana dengan lembut. “Putrimu belum lelap. Sebentar-sebentar bangun. Mungkin AC sudah tidak terlalu dingin lagi. Besok, aku akan izin pulang lebih cepat dan membersihkannya.” Tak hanya pintar bela diri dan menggunakan senjata, pria dewasa itu juga sangat menyukai hal-hal berbau teknik. Sejak menikah, semua kerusakan elektronik di rumah selalu ditangani Bayu.
“Ya, Mas.” Shanuella masih mematung, menatap Bayu yang juga enggan berpindah maupun turun.
Lima menit diserang canggung, wanita berbalut handuk putih itu pun bersuara. “Mas, aku mau ganti pakaian. Bisakah …”
“Gantilah, aku bisa memejamkan mata.” Bayu menahan tawa. Melirik sekilas pada wanita yang kembali cemberut sembari mengentakkan kaki kiri di lantai. “Jangan kencang-kencang, kalau handukmu melorot, aku ‘kan rugi besar.”
...🍒🍒🍒...
Sambil menunggu inu up, bisa mampir di karya temanku ya. Siapa tahu cocok.
__ADS_1