My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 48


__ADS_3

Bayu tercengang. Dipandanginya Shanuella yang masih setia menunggu jawaban. Ada yang berbeda dari wanita cantik yang tampak menawan dengan celemek di tubuh.


“Mas?”


“Hah!” Terpana, sesaat dia lupa akan dunia. Terseret pada pesona Shanuella yang berbeda dari biasa.


“Mas, sudah cukup atau masih ingin tambah?”


“Cukup Shan. Terima kasih,” lanjutnya, meraih sendok dan garpu, sesekali melirik ke arah istrinya dengan senyum terkulum.


Suapan pertama memancing penasaran. Shanuella menunggu respons sang suami setelah mencicipi nasi goreng buatannya. Satu menit berlalu, Bayu tak bereaksi. Pria itu menikmati tanpa banyak bunyi.


“Bagaimana, Mas? Apa rasanya sudah pas?” tanya Shanuella, penasaran.


Bayu mengunyah dan menoleh ke arah istri yang tampak tegang. Memasang ekspresi datar, benar-benar sulit ditebak.

__ADS_1


“Mas?”


Melepas sendok dan garpu, kemudian menjatuhkan perlengkapan makan di sisi piring. Bayu tampak memundurkan kursinya ke belakang, lantas mengubah posisi duduk menghadap Shanuella dengan posisi kaki melebar. Tanpa basa-basi, digenggamnya pergelangan tangan istri yang menunggu jawaban sejak tadi.


“Mau jawaban apa?” tanya Bayu, menarik istrinya agar duduk di pangkuan sebelah kiri. Sontak memancing jerit wanita tersebut.


“MAS!” pekik Shanuella tertahan saat dituntun duduk di pangkuan Bayu.


“Ssstt. Jangan berisik.” Kedua lengan pria itu mengunci tubuh mungil istrinya, tak membiarkan bergerak menjauh. “Rasanya luar biasa, Shan. Ini nasi goreng terbaik yang pernah aku cicipi selama ini.” Seraya menjatuhkan dagunya di pundak Shanuella, sesekali mengecup di sana.


Sikap mesra yang membuat Shanuella mematung di tempat dan tak sanggup berkata-kata. Lidah kelu, tubuh membeku kaku. Bahkan, wanita yang mengenakan celemek biru itu menciut. Tak lama, dekapan itu terurai. Duduk diam di paha kiri Bayu dan mengintai pergerakan laki-laki yang tak mengizinkannya beranjak dari pangkuan.


“Loh, Mas tidak kerja?” Wanita itu mengernyit.


“Bos sedang ada urusan pagi-pagi sekali. Aku diminta datang agak siang.”

__ADS_1


Shanuella mengangguk. Tak terdengar tanya, hanya embusan napas dan suara menelan ludah di kala canggung melanda. Ingin bangkit dari tempatnya duduk dan meloloskan diri dari dekapan, tetapi keberanian itu masih sebatas wacana. Di tengah suasana kaku, derap langkah kecil disusul teriakan Lana membuat pasangan suami istri itu menoleh ke arah suara dengan kompak.


“Mama.” Suara gadis kecil itu mengambang. Sorot mata tegas terarah pada kedua orang tua yang tampak mesra pagi itu.


“Minggil, Yanya mau duduk.” Mengusir Shanuella agar menyingkir dari pangkuan Bayu dia sendiri yang akhirnya menempati tempat yang sebelumnya diduduki sang mama.


“Yanya, tidak boleh begitu, Nak. Minta yang benar ke Mama.” Bayu mengingatkan ketika pangkuannya telah berganti penumpang.


“No.” Lana menjawab tegas dengan tangan terlipat di dada. Kepala menggeleng, sorot mata mengerikan.


Bayu terkekeh, demikian juga dengan Shanuella. Keduanya saling menatap sesaat dan terdiam canggung.


...✔️✔️✔️...


Sedan hitam pekat terparkir di salah satu sudut pelataran perusahaan milik Halim Group. Rarendra merasa perlu membahas kembali mengenai proyek renovasi rumah tinggal dengan istri Ditya.

__ADS_1


“Ini yang terbaik. Aku tidak ingin bertemu dengannya setiap waktu. Kami adalah masa lalu, selamanya hanya akan jadi kenangan, bukan kenyataan.” Rarendra menegaskan


Pertemuan kembali dengan Shanuella mengusik hidupnya. Andai bisa, dia ingin mencabut semua memori itu dari ingatan. Dia tersiksa, bukan bahagia.


__ADS_2