My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 95


__ADS_3

“Mas, bisa tinggalkan kami?” Shanuella bersuara.


Tubuh gemetar, suara ikut bergetar. Mimpi pun tak menyangka akan bertemu hari ini. Pernah memupuk asa, tetapi seiring waktu dikuburnya dalam-dalam keinginan itu. Lima tahun bukan waktu yang singkat, ada banyak hal yang dikorbankannya, termasuk perasaan.


Bayu bangkit dari duduknya, menghampiri wanita yang mematung di ambang pintu.


“Shan.” Pria dewasa itu membujuk dengan penuh kelembutan. Digenggamnya tangan Shanuella untuk menenangkan.


“Lepas, Mas. Kamu sama saja.” Kilat mata menikam itu beralih dari brankar dan kini menyorot Bayu.


“Shan, tenang. Kita bicarakan baik-baik.” Berbeda dengan Shanuella, pria dewasa berkubang dengan lelah setelah melakukan perjalanan panjang dari luar kota itu tampak tenang. Binar matanya, menebar keteduhan.


Menghempas tangan Bayu yang sedang mencekal pergelangannya, Shanuella enggan berbasa-basi. Amarah terlanjur meletup, emosi terpancing sejak mendengarkan pernyataan yang selama ini disembunyikan semua orang darinya.


Shanuella menggeleng. Kenyataan menyambar bak petir di siang bolong. Selama ini dia menyiapkan diri untuk menghadapi. Akan tetapi saat semua terpampang di depan mata, hati tetap terluka.


“Shan, aku mohon tenang. Tidak ada yang berubah.”

__ADS_1


“Tega kamu, Mas, Aku seperti keledai dungu. Kalian berdua begitu kompaknya membodoh-bodohiku.” Telunjuk terarah pada Bayu, kemudian berpindah ke arah Rarendra. Laki-laki berstatus pasien itu bungkam seribu bahasa.


“Shan.” Rarenda menyapa tanpa suara.


“Aku ingin bicara dengannya, Mas. Kalau ….”


“Shan.” Bayu masih mencekal dan tak membiarkan istrinya itu menjauh.


“Lepaskan aku, Mas. Aku anggap Mas Bayu berkomplot dengannya kalau sampai tak mengizinkan aku bicara empat mata,” ancam wanita itu dengan emosi berapi-api.


“Shan, aku mohon. Tenangkan dirimu. Tarik napas, embuskan. Lalu ….”


“Shan, kita bicara berdua. Setelah itu ….”


Sejak tadi Bayu tak sanggup menyelesaikan ucapannya, Shanuella memotong dan tak memberi kesempatan untuknya menjelaskan.


“Mas, aku butuh bicara dengan Blade. BLADE. B L A D E!” teriak Shanuella lepas kendali. “Aku tidak butuh denganmu. Masalahku yang sebenarnya itu dengan pecundang itu!” tegas wanita dengan wajah memerah bak kepiting rebus. Semburat itu bukan karena malu, tetapi diterjang bara amarah.

__ADS_1


Napas tersengal-sengal, detak jantung memburu. Garis rahang wanita cantik itu menegang. Tidak ada kompromi, luapan emosi itu meletup tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya.


“Shan.”


“Cukup, Mas. Kalau tidak mau aku membencimu seumur hidup, biarkan aku bicara empat mata dengan laki-laki itu. Aku butuh melakukannya untuk menegaskan apa yang selama ini mengambang.”


Menghela napas panjang, Bayu tentu keberatan. Suami mana yang bisa tenang jika berada di posisinya. Menggeleng pelan, dia tak bisa menentang pinta istrinya. Apalagi ketika cekalan tangan terurai, dia bisa melihat bagaimana Shanuella yang tergulung emosi melangkah lebar mendekati brankar.


“Mas, tolong tinggalkan kami berdua.” Berbalik, Shanuella menitah. Jauh lebih lembut, tak kobar di dalam mata bening itu mulai meredup.


Bayu bergeming. Kedua kaki terpaku di dekat pintu.


“Aku mohon, Mas.” Pinta yang kedua sedikit lebih mendayu. Separuh dari Shanuella mulai kembali.


Helaan napas berulang kembali mendominasi. Dengan berat hati Bayu mengabulkan semua pinta sang istri.


Suasana kamar berubah senyap. Rarendra membeku di atas brankar, masih dalam keadaan berbaring. Di sebelah, Shanuella terlihat berdiri menantang.

__ADS_1


Beberapa menit keduanya saling menatap, menggali kisah silam yang telah dipendam. Hingga akhirnya Rarendra mengalah, membuang pandangan ke dinding kamar yang dicat putih terang. Dia tak sanggup saat mendapati luka menganga yang tersimpan di dalam mata bening Shanuella.


“Maafkan aku.”


__ADS_2