My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 53


__ADS_3

“Bu ....” Suara Shanuella mengambang. Tak mau terseret oleh tatapan Rarendra, buru-buru dia melempar pandangan ke sembarang arah.


“Ya, bagaimana, Shan?” 


Seperti biasa, Frolline tampak elegan di kursi kebesarannya. Kedua tangan saling menjalin di atas meja, tatapan tegas penuh wibawa terarah pada Shanuella. 


“Apa yang ingin ... em ....” Shanuella menggeleng cepat, buru-buru meralat ucapannya yang menyiratkan kebingungan. “Maksudku, poin-poin yang ingin disampaikan Pak ... Ra ....”


“Panggil Endra,” tegas Rarendra tiba-tiba. Sontak, dua wanita di dalam ruangan saling berpandangan.


“Em .... “ Shanuella berdehem pelan sebelum melanjutkan ucapannya. “Maksudku, apa saja poin yang ingin Pak Endra sampaikan ....”


“Aku sampaikan di proyek saja. Akan lebih mudah,” putus Rarendra. 


Kegugupan bertandang tanpa diundang. Hati kecil Shanuella kembali tak tenang. Pandangan mengawang, tubuhnya mengambang. Ingin rasanya menentang, tetapi tak ada keberanian menantang. 


“Sebaiknya begitu, Shan. Apalagi, laporannya kamu belum menyelesaikan survei kemarin. Sebaiknya, memang langsung ke lokasi untuk mendapat informasi lebih akurat. Supaya tak ada kekeliruan, meminimalkan kesalahan sekecil apa pun.” Frolline menerangkan.


“Kalau memang staf yang lain ada kesibukan, aku tak masalah hanya berdua dengan ... em Shanu ... ella? Benar begitu penyebutannya?”


“Ya, Pak.” Frolline mengangguk.

__ADS_1


“Bersiap Shan. Aku akan meminta Zoe mengantarmu ke lokasi. Kebetulan, aku juga tidak ada rencana ke mana-mana hari ini. Kamu bebas memakai ....”


“Tidak masalah, Bu. Bisa berangkat denganku. Aku tidak keberatan. Daripada dua mobil,” ujar Rarendra, memberi ide.


“Jangan-jangan. Ini bagian dari pekerjaan. Tidak enak kalau sampai merepotkan. Em ....”


“Tidak, aku tidak merasa direpotkan. Tidak masalah asal Shan-Shan tidak keberatan. Lagi pula, searah.” Rarendra duduk bersandar dengan nyaman, jemarinya tampak menari di atas meja. Sorot mata pria itu mengandung sesuatu yang tak bisa ditebak.


“Baguslah kalau begitu, kalian bisa membahas proyek ini dalam perjalanan,” putus Frolline. “Maaf sebelumnya kalau merepotkan. Pandangan pimpinan perusahaan itu beralih pada bawahannya dan tersenyum.


Sebelum mengutarakan isi hati, wanita itu tampak mengamati Shanuella. Beberapa tahun belakangan, dia mempercayakan sebagian pekerjaan pada wanita muda yang memiliki kemampuan walau hanya berbekal ijazah SMA.


“Hmm. Aku pria single. Belum menikah. Jadi, jangan khawatir tiba-tiba dilabrak wanita asing. Aku jamin hal itu tidak akan terjadi.” Rarendra masih sempat melempar canda. Saat ini, dia bisa menatap Shanuella dengan leluasa. Tak perlu mencuri-curi seperti sebelumnya.


“Ya, Pak.” Shanuella tertunduk dan diam. Berat hati untuknya mengangguk setuju, tetapi dia harus bersikap profesional. Ini bagian dari pekerjaan, bukan urusan pribadi. 


Shanuella masih belum bisa menerima. Dia jelas tahu kalau pria yang selama ini mengambil alih perusahaan dan aset keluarganya adalah Rarendra. Namun, yang membuatnya berat menerima ketika penampakan pria itu serupa dengan Blade, laki-laki yang telah menyempurnakan penderitaannya.


...🍂🍂🍂...


Melangkah di belakang Rarendra, perasaan Shanuella kacau-balau. Berjalan sembari menatap punggung kekar pria tersebut, dia tetap beranggapan kalau pria di hadapannya dan Blade adalah orang yang sama.

__ADS_1


Kenapa bisa begitu mirip? Aku merasa mereka adalah orang yang sama. Tidak mungkin di dunia ini ada kemiripan yang begitu ....


Lamunan Shanuella berhamburan ketika Rarendra tiba-tiba berhenti melangkah dan berbalik menatapnya.


“Shan ....” 


Shanuella tercengang.


Bahkan caranya memanggil, suara dan intonasi pun sama. Bagaimana mungkin mereka dua orang yang berbeda? Atau jangan-jangan ... saudara kembar?


Dugaan-dugaan itu memenuhi benak Shanuella dan membuatnya tersentak ketika Rarendra menyapanya kembali.


“Shan, maaf kalau aku panggil Shan. Apa boleh?” tanyanya pelan.


“Eh.” Shanuella mengangguk. 


“Maaf, apa kamu baik-baik saja? Terakhir kita bertemu di situasi tidak mengenakkan. Apa ada yang salah?”


“Tidak ada.” Shanuella masih mematung di tempat. 


Apa dia benar-benar tidak tahu apa-apa? Setidaknya ... kalau dia bukan Blade pun, harusnya dia tahu kalau rumah itu adalah milik keluargaku. Bukannya dia yang telah menyita semua aset perusahaan dan keluargaku.

__ADS_1


__ADS_2