
Shanuella berhenti sejenak, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Nyalinya menciut, bergidik ngeri. Rasa takut itu tentu ada, dia hanya harus melangkah sembari waspada. Apalagi semak-semak yang sebagian setinggi orang dewasa, pastinya akan menjadi tempat berpestanya para hewan liar dan menjijikan.
“Hati-hati, Shan.” Merasa ancaman terselubungnya tak mempan, Rarendra mencoba memutar otak dan mencari alasan lain untuk mematahkan keangkuhan Shanuella. “Ini sudah lama tidak ditinggali, katanya dulu ....”
“Kenapa?” Shanuella mulai penasaran.
“Ada yang tewas tertabrak gerobak bakso. Kata warga di sini ... kalau malam suka ada suara tek ... tek ... tek.” Pria tampan itu menahan tawa.
“Maksudnya?” Shanuella bergetar ketakutan.
“Kalau malam banyak penjaja mi tek-tek.” Sosok maskulin itu melempar canda.
Apa dia tak ada takutnya sama sekali?
Pertanyaan yang sama melayang di benak Rarendra berulang, pria itu bingung sendiri mencari cara memancing Shanuella untuk berlari padanya
__ADS_1
Benar-benar tak takut apa pun sepertinya.
Memutar otak, ingatannya terbang ke masa silam. Tiba-tiba, dia teringat pada Shanuella yang membuat heboh pengawal karena jeritannya dari kamar mandi. Setelah ditelusuri, seekor cacing kecil sedikit lebih besar dari benang tengah meliuk di lantai keramik putih.
Tergelak dan memancing keheranan, sikap Rarendra memunculkan tanda tanya besar di benak Shanuella. Pria itu mengusap sudut matanya yang basah ketika kekonyolan wanita itu tampak nyata meski beberapa tahun berlalu.
“Aku ingat di kamar mandi rumahmu. Ada cacing yang meliuk-liuk di lantai. Kamu menjerit kencang dan menghebohkan seisi rumah.” Rarendra keceplosan.
“Hmm.” Shanuella mengangguk. Paras jelitanya tampak menggemaskan saat membenarkan pernyataan pria di hadapannya itu. Binatang paling menjijikkan sekaligus menakutkan walau bentuknya kecil.
“Hmm.” Shanuella mengangguk dan menunduk. Sebagian rumput masih berjejak embun dan basah. Sensasinya saat menyapa kulit sama saja dengan cacing kecil tengah meliuk-liuk dan membuat dia bergidik.
“Ada satu besar tengah menari di kakimu sekarang, Shan ....”
“AAAH!” Pekikan kencang disusul berlari ke depan, Shanuella tak peduli tubuhnya menghantam Rarendra yang mematung dan sengaja pasang badan. Melompat-lompat persis seperti benda menjijikkan yang sedang dibicarakan, wanita itu menendang-nendang kaki tak karuan. “Tolong aku!” titahnya, terus saja bergidik ketakutan.
__ADS_1
Mencengkeram pinggang Rarendra, Shanuella terus menendang kedua kakinya bergantian. Berharap cacing kecil yang sedang dibicarakan segera menghilang dari kakinya.
Rarendra tergelak. Lonceng kemenangan tengah berkumandang kencang. Berbalik badan dan menikmati tubuhnya didekap mesra, dia bisa merasakan sosok feminin itu sedang menempel erat meminta perlindungan.
“Sudah-sudah, aku hanya bercanda. Tidak ada apa-apa. Kakimu bersih, Shan."
Ekspresi ketakutan Shanuella terhenti. Kesadaran kembali hanya dengan sepatah kata yang keluar dari bibir pria itu. Menatap sosok yang tengah mendekap pinggangnya, dia merasa terseret ke masa lalu.
“Blade? Kamu Blade, kan? A ... aku merasa ini kamu Blade? Kenapa pergi tanpa pesan? Aku menunggumu seperti orang gila, Blade.” Sepasang mata itu memanas.
Sorot keduanya bertemu, sesaat keduanya terseret ke masa lalu. Tak dapat dimungkiri, rindu yang sama juga tengah dirasakan Rarendra.
“A ... aku Endra, bukan Blade.” Kesadaran laki-laki itu kembali.
Shanuella menggeleng. “Kamu Blade, kan? Bagaimana bisa tahu cerita cacing di kamarku? Pasti, kamu Blade! Kamu berhutang penjelasan padaku. Jelaskan padaku kenapa pergi tanpa pamit. Aku ingin punya alasan membunuhmu, Blade. Kamu laki-laki brengsek! Pecundang!” Pukulan beruntun dilabuhkan Shanuella di pundak kekar yang tak memberi perlawanan. “Aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri, Blade!”
__ADS_1