My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 37


__ADS_3

“Bos.” Bayu menyodorkan ponsel milik atasannya yang baru saja keluar dari ruang rapat. 


Rarendra tampak berantakan setelah berjam-jam mendengarkan penjelasan bawahannya. Gurat-gurat lelah terlihat dari kerutan di berbagai sisi wajah. Memijat pelipis, pria itu berjuang menghilangkan penat serta rangkaian angka dan aksara yang memenuhi otaknya.


“Ada yang menghubungiku?” Suara pimpinan perusahaan itu terdengar serak.


“Sejam yang lalu, Pak Ditya dari Halim Group.” 


Dahi berkerut, Rarendra berpikir keras. “Apa dia menitipkan pesan untukku?” 


Bersikap santai, pengawal pribadi Rarendra itu menjawab dengan sigap. “Hanya menyampaikan kalau perwakilan dari kantor istrinya sedang menuju ke lokasi.”


Rarendra terkejut. Dia lupa kalau sudah membuat janji dengan Ditya. Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, pria itu mengalihkan pandangan pada Bayu. 


“Kapan dia menghubungiku?” 


“Kurang lebih satu jam yang lalu, Bos.”


“Hubungi Nita, tanyakan jadwalku setelah ini. Aku akan menyusul ke sana kalau memang tidak ada jadwal penting.” Tanpa menunggu jawaban, Rarendra berjalan terburu-buru menuju ke ruangan. Dia berlomba dengan waktu, sesegera mungkin harus tiba di lokasi. Tak mungkin membuat perwakilan dari Halim Group menunggu. Setidaknya, harus menghargai temannya yang telah banyak membantu selama ini. 


Jemari mengukir layar ponsel, Rarendra tampak fokus pada layar benda pipih tersebut. Tak lama, tampak dia menempelkan gawai persegi itu di telinga dan menghubungi seseorang. Bayu setengah berlari, mengekor di belakang agar tak ketinggalan.


Nada sambung mengalun pelan, ponsel tersambung beberapa detik kemudian. Suara maskulin menyapa dari seberang.

__ADS_1


“Ke mana saja? Aku menghubungimu sejak tadi.” Ditya mengambil alih pembicaraan.


“Maaf, aku rapat. Bagaimana?” Rarendra menghentikan langkah, memusatkan perhatian pada lawan bicaranya.


“Begini, tadi asisten istriku sudah menuju ke lokasi.”


“Siap. Ini aku menyusul.”


“Oke. Kalau tidak salah Shanuella. Aku tidak terlalu mengenali orang-orang istriku. Ini kebetulan proyekmu. Jadi bantu follow up.” Ditya menjelaskan.


“Shanuella?” Suara Rarendra tiba-tiba melemah. Ada rasa tertahan dan tak sanggup diungkapkannya. Nama itu memiliki arti tersendiri untuknya. Kenangan manis dan buruk menyatu dalam satu rangkaian aksara yang terjalin indah.


“Hmm.” Gumam dari seberang menyentak pria yang tiba-tiba terseret ke masa silam. Hanya mendengar nama yang sama, hatinya bergetar kembali. Berjuang untuk melupakan, walau terkadang merindukan. Semuanya masih nyata, terang, seperti baru. Bahkan, aroma tubuh dan embusan napas pun masih hangat di dalam ingatan. 


“Bro, masih di sana?” Suara Ditya kembali terdengar dan menyadarkan Rarendra akan lamunan yang belum usai.


“Ya, ya ....” Rarendra terbata-bata “Siap, Bos. Thank you sekali sudah banyak dibantu.” Dia terkekeh pelan. Menyembunyikan luka yang menggores di hati.


“Aku tunggu kabar baik dan undangannya. Aku tahu semuanya.” Ditya menanggapi dengan canda. Tawa keduanya bersahut-sahutan. Obrolan santai dua pengusaha muda dengan bisnis berbeda itu berjalan hangat. 


Bayu yang ikut mendengar hanya terpaku di tempat. Ketika nama istrinya disertakan dalam obrolan, hatinya bergetar. Entah sosok yang sama atau kebetulan memiliki nama serupa. Tetap saja, kekhawatiran membuat konsentrasinya pecah.


Panggilan terputus, obrolan pun tak berlanjut. Rarendra berbalik dan menatap bingung ke arah asisten yang tengah melamun. 

__ADS_1


“Bay,” sapanya pelan sembari mengayunkan tangannya pelan di depan paras rupawan tersebut.


Tak ada reaksi. Panggilannya lenyap begitu saja dan memaksa Rarendra mengulang.


“Bay, are you okay?” Pertanyaan itu menyiratkan kekhawatiran. Bersama selama beberapa tahun terakhir, dia tak pernah melihat wajah risau asistennya. 


“Eh ... maaf, Bos.” Bayu tersenyum getir.


“Kamu ada masalah?”


Bayu menggeleng.


“Kalau ada masalah, kamu bisa menyelesaikannya dulu dan ....”


“Tidak, Bos. Aku baik-baik saja. Aku menemui Nita dulu untuk menanyakan jadwalmu. Nanti aku kabari.”


Bayu melengos pergi. Tak mau sampai isi hatinya terbaca orang lain, dia berjuang keras menyembunyikan banyak hal. Bukan hanya pada Rarendra, pada Shanuella pun laki-laki itu bersikap serupa.


Rarendra baru akan mengantongi ponselnya saat seseorang menghubungi. Membaca deretan huruf yang terjalin menjadi nama indah, pria itu mendengus kesal.


“Ada apa?” 


Suara feminin menyapa dari seberang. Begitu manja dan mendayu mengabarkan sesuatu. Raut wajah Rarendra tampak berubah datar, kemudian menyela pembicaraan dengan meneriakkan Bayu yang sudah berjalan beberapa meter di depannya.

__ADS_1


__ADS_2