
“Apa yang dilakukannya di dalam?” Bayu berjalan mondar-mandir dengan tangan mengepal. Berhenti di depan pintu kamar, ingin rasanya mendorong papan persegi di hadapannya terbentang dan memastikan apa yang terjadi di dalam ruangan.
Dua orang yang pernah memiliki kenangan masa lalu dan kini bertemu. Harusnya ....
Bayu tertunduk. Dia kesal pada dirinya sendiri. Andai terlahir berkuasa dan memiliki segalanya, dia bisa melawan Rarendra dengan kemampuannya. Akan tetapi, kenyataannya dia hanya orang biasa. Jangankan kuasa, harta pun tak punya. Satu-satunya yang dimilikinya hanya cinta nyata untuk Shanuella dan Lana.
“Aku harus masuk. Tak mungkin membiarkan dia menyentuh istriku.” Telapak tangan lebarnya sudah menempel di pintu, tangan lain menggenggam gagang dan siap mengayunkan ke bawah. “Ah, kalau Shanuella sadar dan melihatku bersama Rarendra ... lalu apa yang akan dipikirkannya. Tidak.” Bayu menggeleng. Diurungkan niatnya untuk menerjang masuk dan mencari tahu. Akan lebih baik, dia menunggu di luar dan memastikan semua baik-baik saja di dalam kamar.
__ADS_1
Mengeluarkan ponselnya, Bayu memilih menghubungi nomor telepon istrinya. Setidaknya, dia bisa mengetahui sesuatu. Andai panggilannya dijawab, Shanuella sudah siuaman. Jika panggilannya diabaikan begitu saja atau diterima Rarendra, artinya wanita itu masih belum sadarkan diri.
Di sisi lain, Rarendra tampak duduk di samping brankar, menatap wanita yang selama ini menghuni benaknya. Shanuella masih belum sadarkan diri, tetap setia memejamkan mata. Di sela jemari pria itu terlihat menyelip kartu tanda pengenal dengan foto wanita berukuran mini di bagian depan.
“Shanuella Sunshine.” Senyum tipis mengembang di bibir, Rarendra membaca nama itu berulang kali. Rasanya tidak percaya mereka bertemu lagi setelah sekian lama. Menyembunyikan rindu dengan mencoba menghempaskan nama wanita itu dari dalam hidupnya, dia tak menyangka akan berjumpa dalam situasi seperti ini.
“Dia baik-baik saja. Tidak semua orang menyimpan uang kontan. Pasti dia punya tabungan. Tidak perlu mengasihani musuhmu.” Rarendra menguatkan hati agar tak terseret ke dalam masa lalu. “Ingat, perasaan itu hanya milik Blade, bukan Rarendra. Yang mencintainya hanya Blade, dan laki-laki itu telah lama mati. Tidak ada lagi Blade di dunia ini, cintanya pada Shan-Shan pun ikut hilang.”
__ADS_1
Mengucapkan kata-kata itu berulang kali, Rarendra berusaha mengingatkan dirinya. Dia tak mau terlibat perasaan pada Shanuella. Sejak semula yang ada di antara mereka hanya dendam, selamanya akan jadi dendam.
“Dia bukan siapa-siapa. Aku tidak pernah mengenalnya.” Rarendra bangkit dan merapikan pakaiannya. “Sebaiknya, aku pergi. Di sini dia akan baik-baik saja. Jadi buat apa aku menungguinya. Tak ada keharusan aku menemani wanita yang tak kukenal sama sekali. Aku dan dia ... hanya musuh di masa lalu. Selebihnya, aku tidak mengenalnya."
Bermaksud melangkah keluar, Rarendra terkejut saat dering ponsel terdengar dari dalam tas Shanuella. Ayunan kakinya tiba-tiba meragu, hati terasa berat untuk menjauh. Berbalik badan, dia bermaksud mencari tahu siapa yang menghubungi. Namun, suara feminin yang dirindukannya selama ini terdengar berbisik pelan.
“Mas ....”
__ADS_1