My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 96


__ADS_3

Denyut di sekujur tubuh karena tertimpa tiang besi masih bisa ditahan. Namun, nyeri di ulu hati ketika mengetahui seberapa terlukanya Shanuella membuat Rarendra ambruk.


“Apa salahku padamu?” tanya Shanuella menahan tangis. Tak mau sampai terlihat lemah, apalagi terguncang. Dia harus menegakkan kepalanya.


Bibir Rarendra terkatup rapat, melirik sekilas ke arah wanita yang tengah berdiri menunggu jawaban.


“Maafkan aku.” Suara Rarendra terdengar parau. Selapis cairan bening tiba-tiba melapisi sepasang mata. Keangkuhan yang dipertahankan selama ini mendadak ambruk. Dia jadi pribadi yang lemah karena rasa bersalah yang menggerogoti jiwa.


Shanuella menelan ludah. “Maaf seperti apa yang kamu inginkan?”


Rarendra terkesiap, menoleh ke arah teman bicaranya. “Shan?”


“Salah seperti apa yang membutuhkan maaf dariku. Dosa seperti apa yang kamu perbuat hingga butuh ampunanku. Jujur, terlalu bodoh sampai aku tidak bisa membedakan cinta dan pura-pura. Aku terlalu haus akan kasih sayang, sampai bisa terperangkap dalam jerat laki-laki penipu.”


Kepala berhias perban itu menggeleng. 


“Kenapa memilihku?”

__ADS_1


Rarendra bingung. “Maksudnya?”


Shanuella menghela napas, tatapannya menusuk hingga ke relung hati. “Kenapa di antara begitu banyak wanita di dunia ini ... kamu memilihku?” 


Pertanyaan menyentak diiringi napas memburu. Ada emosi tersirat di dalamnya.


“Tidak.” Rarendra menjawab lemah.


“Tidak salah memilih mangsa. Aku si bodoh yang jatuh cinta sampai lupa segalanya, ‘kan?” 


“Jangan pernah memanggil namaku. Aku tidak sudi. Betapa jahatnya dirimu, Blade. Aku belum pernah menemukan laki-laki sebejat dirimu.” Air mata pun terjatuh akhirnya. Pertahanan diri Shanuella runtuh ketika bibir menyerukan nama yang dicinta dan dibenci dengan sepenuh hati.


“Maafkan aku.” Rarendra tak berdaya. Andai bisa, dia ingin berlutut dan memohon ampunan. Namun, kondisi saat ini membuatnya tidak bisa berbuat banyak.


“Untuk apa kembali? Aku sudah menganggapmu mati. Kalau ada yang aku benci di dunia ini, Blade jawabannya. Kalau ada penyesalan di dalam hidupmu, kamulah penyesalanku.” Air mata yang tadinya mengalir pelan, kini bercucuran.


Tubuh Shanuella bergetar hebat. Mengulang setiap kisah di masa lalu, hatinya diiris-iris. Kedua kaki tak sanggup menopang berat tubuh, wanita itu terjatuh di lantai. Menangis dan meratapi hari-hari berat yang dilewatinya selama ini.

__ADS_1


“Shan, kamu kenapa?” Rarendra panik di tengah ketidakberdayaan. 


Tangisan terdengar kian kencang. Shanuella dihantam kesedihan mendalam. Kepalan tangannya memukul-mukul lantai, napas pun ikut tercekat. 


“Aku ingin membunuhmu. Kamu benar-benar menghancurkanku sampai tak bersisa. Di saat aku jatuh, aku berharap ada kamu di sisiku dan mengulurkan tangan untuk membuatku bangkit. Di saat aku mengalami kehilangan bertubi-tubi, aku harap kamu menguatkanku. Nyatanya tidak ... kamu yang menambahi cuka di lukaku yang menganga. Kamu yang ....” 


Tak sanggup meneruskan kata-katanya, Shanuella terkulai lemas. Begitu banyak kejutan sepanjang hari ini, jiwa dan raga tak sanggup menerima lagi. Puncaknya, raga itu kehilangan kesadaran. Jatuh terkulai di lantai dingin bersama air mata yang mengalir turun membasahi pipi.


Ratap dan tangisan menghilang bersama dengan suara sesuatu membentur benda keras. Senyap yang terjadi begitu tiba-tiba, memancing kekhawatiran Rarendra. Tak sanggup bergerak, pasien tampan itu hanya meneriaki seseorang yang diminta menunggu di luar ruangan.


“BAY!” teriakan itu menggema. Perasaan Rarendra mendadak tak karuan.


“BAY!” 


Berusaha menekan bel untuk meminta bantuan seseorang, Rarendra panik dalam penantian. Lima menit dalam penyiksaan, pria itu bisa bernapas lega ketika seorang perawat masuk ke dalam.


“Sus, tolong lihat di lantai. Apa terjadi sesuatu padanya? Tolong panggilkan juga pria yang sedang menunggu di luar.” Rarendra memerintah.

__ADS_1


__ADS_2