
“Mau ke mana, Dad?” tanya gadis kecil yang sedang asyik dengan mainan barunya saat digendong Rarendra tiba-tiba.
“Kita cari Mama.” Jawaban singkat pria dewasa itu memulihkan ingatan Lana akan. Shanuella yang sempat lenyap.
Terlalu antusias dengan kamar baru dan bonekanya, gadis kecil yang masih mengenakan seragam sekolah itu tampak membelit kencang leher Rarendra saat dinaikkan ke gendongan. Sambil mencengkeram boneka barbie bergaun merah muda, dia pasrah ke mana pria dewasa itu membawanya.
“Dad, mau et klim.”
“Nanti, ya.” Rarendra tak membantah seperti biasa. Perasaannya tengah berantakan karena bermasalah dengan Shanuella.
“Mau sekalang, Dad.”
“Kamu belum makan. Nanti setelah makan siang, baru Daddy belikan.” Raut datar Rarendra menyiratkan beban yang tengah mengisi hati dan pikiran. Rencana indah yang dirangkainya bersama Shanuella dan Lana jadi hancur berantakan. Kathy memang pembuat masalah sejak dulu.
“Sekalang, Dad.”
“Nanti. Kita makan siang dulu, baru makan es krim. Mau Daddy belikan ayam goreng?”
Lana menggeleng sesaat diturunkan di kursi depan mobil Rarendra yang terparkir di bawah pohon akasia.
“Lalu, kamu mau makan apa kalau tidak mau ayam goreng?” Mencoba bersabar, Rarendra tak mau sampai lepas kendali menghadapi putri semata wayangnya yang jelas belum mengerti masalah orang dewasa. Setengah membungkuk, separuh tubuh masuk ke dalam mobil dan membantu Lana memasangkan sabuk pengaman.
“Mau et klim, balu ayam goyeng.” Lana berseri-seri menceritakan rencananya. Menatap Rarendra sesaat, lalu pandangannya terarah pada boneka barbie di atas pangkuan.
“Strawberry?” tanya Rarendra. Berbincang sejenak dengan Lana ternyata mampu mengurai sedikit sesak di dada.
Lana menggeleng. “Mau Micue yang ... yang lasa ... lasa vaniya, Dad.”
Mulai memahami bahasa putrinya, Rarendra mengacak pelan pucuk kepala gadisnya. Di awal jumpa, dia butuh berjuang keras untuk menelaah tiap kata yang keluar dari bibir mungil Lana. Seiring waktu berjalan dan banyaknya pertemuan, pria itu mulai mengerti dan masuk ke dunia sang putri.
“Ya, Sayang.” Tidak ada bantahan, Rarendra selalu mengangguk setuju untuk setiap hal yang diinginkan gadis kecilnya. Asal dia mampu dan memang tak berefek buruk untuk putrinya, semua pinta akan dikabulkan. Tawa bahagia Lana di atas segalanya.
...***...
Matahari merangkak turun ke sudut barat, langit biru perlahan berganti semburat jingga. Beberapa saat tertahan di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan depan rumah kontrakan lama Shanuella, Rarendra hanya mampu menatap sosok cantik yang tengah bersedih dari kejauhan.
__ADS_1
Keberaniannya surut bersama dengan air mata Shanuella yang jatuh bercucuran. Menoleh ke sebelah, Lana sudah tertidur pulas, terikat sabuk pengaman dan mendekap boneka.
“Aku temui saja dan jelaskan. Terlalu lama kalau harus menunggu kesedihan itu reda. Aku ... tidak mau sampai kami harus berpisah lagi. Lana yang akan jadi korban kesalahpahaman ini.” Mengusap pipi Lana dengan punggung telunjuk, tekadnya semakin bulat. Bergegas turun, dia menarik napas dan mengembuskannya berulang sebelum menerjang segala kekhawatiran.
Langkah melambat, Rarendra memberi jarak agar tak terlalu dekat. Dia bisa melihat luka yang tersemat di raut Shanuella yang sedikit pucat.
“Sayang, kita bisa bicara?” Suara Rarendra mengambang ragu.
Sejak tadi lebih banyak menunduk, wanita muda itu mengangkat pandangannya dan tertubruk dengan sosok gagah yang tampak kikuk. Rasanya ingin mengamuk, kepalan tangan sudah siap menumbuk.
“Kalau aku katakan tidak, memangnya kamu mau pergi?” Shanuella balik bertanya.
Rarendra menggeleng.
“Kita harus bicara Shan.” Memandang sedih, diamatinya wanita cantik yang duduk di lantai beralas kardus bekas.
Shanuella bergeming. Kedua kaki bertekuk, dia memeluknya erat dan merebahkan sebelah wajah di atas lutut.
“Aku minta maaf. Tapi, Kathy memang bagian dari masa laluku. Kami sudah saling mengenal sejak lama.”
Jantung Shanuella berdenyut. Kepala terangkat. Kalau sebelumnya tak mau melihat, kini dia menatap tajam obyek di hadapannya.
“Dia temanku.”
“Ya. Karena dia temanmu, makanya aku mengenalnya. Dia yang membantuku dalam misi balas dendam.” Rarendra berkata jujur.
“Ya Tuhan. Aku bahkan tak tahu musuhku begitu dekat.” Air mata yang sempat reda, kini mengalir turun dan membasahi pipi.
“Maaf.” Rarendra menjaga jarak agar posisinya dan Shanuella tetap dua langkah kaki. Tak mau sampai calon istrinya itu merasa tak nyaman dengan kehadirannya. Dia ingin menjelaskan semua tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.
“Ceritakan semuanya padaku. Apa yang selama ini tak kuketahui. Aku harus tahu!” Shanuella mengusap kasar air matanya. Dia tak mau sampai dianggap lemah.
“Kita bicara di dalam mobil.”
Shanuella menggeleng.
__ADS_1
“Ada Lana di dalam. Dia mencarimu sejak tadi.” Rarendra membujuk dengan sabar.
Nama putrinya disebut, Shanuella tersentak. Gadis kecil yang diabaikan ketika amarah melandanya.
“Aku ingin bertemu Lana.” Shanuella buru-buru berdiri dan bermaksud menemui Lana saat Rarendra menahan pergerakannya. Pria itu tiba-tiba bersimpuh, memeluk pinggangnya dengan lancang sambil memohon pengampunan.
“Shan, maafkan aku. Kathy bagian dari masa lalu, aku dan dia tak pernah ada hubungan apa-apa.” Kalimat-kalimat itu dilontarkan dengan cepat, Rarendra tak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Air mata Shanuella bercucuran. Sesekali dia memberontak dari kungkungan tangan kekar Rarendra yang membelit di pinggangnya.
“Dulu, perasaanku masih tertahan pada Celine. Aku ... aku sangat-sangat ingin membalas sakit hatiku padamu. Aku meminta bantuan Kathy meluluskan rencana balas dendamku. Hanya itu. Kalau pada akhirnya dia menyukaiku, itu hanya rasa sepihak, Shan. Aku tidak pernah menanggapinya. Aku bahkan tak memberinya kesempatan.”
Rarendra menempelkan wajah di perut Shanuella, berharap penjelasannya mampu menghempas segala kesalahpahaman. Dia tak mau sampai rencana pernikahan mereka yang sudah di depan mata berantakan.
“Shan, aku mohon. Tolong pertimbangkan Lana dalam hal ini. Saat kita bertengkar, putri kita yang jadi korbannya. Kamu tahu, dia menangis mencarimu. Bagaimana aku menjelaskan padanya kalau Mama sedang salah paham. Tolong, jangan begini. Lana membutuhkan kita berdua, bersama membahagiakannya.”
Shanuella memandang langit sore yang indah, tetapi tak sejalan dengan perasaannya yang porak-poranda. Namun, ucapan Rarendra benar adanya. Lana membutuhkan mereka untuk tetap bersama demi hari depan bahagia. Ingin egois. Namun, dia bukan lagi seorang gadis yang tak perlu mempertimbangkan banyak hal. Dia adalah ibu yang harus memikirkan senyum dan tawa putrinya.
“Koko ... mencintainya?” Shanuella masih belum mau menatap Rarendra yang terus bersimpuh memohon pengampunan.
“Tidak.”
Jawaban tegas yang mengangkat separuh beban Shanuella.
“Tidak pernah ada cinta untuknya. Sejak awal. Aku mencintaimu tanpa kusadari. Shan, kamu harus tahu .... Berulang kali aku merencanakan pembunuhan untukmu, berulang kali pula ... aku menyelamatkanmu. Aku tidak bisa melihatmu meregang nyawa. Tidak.” Rarendra menggeleng. “Maafkan aku.”
Bayangan masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam, kini tergali lagi. Sakit hati kembali menghantam, Shanuella memejamkan mata, menahan sesak di dada. Dia ingat jelas, beberapa kali hampir disapa peluru dan Rarendra yang menyelamatkannya.
“Ya Tuhan, Lana. Daddy macam apa yang Mama berikan padamu. Dia tak punya hati, dia manusia tak bernurani. Maafkan Mama, Nak.”
Rarendra menggeleng, menyanggah ucapan Shanuella.
“Koko juga menidurinya sama sepertiku dulu?” Menggigit bibir di ujung tanya, dada Shanuella terasa ditikam sembilu tajam.
“SHAN!”
__ADS_1
Jawaban belum sempat diberikan, Rarendra dan Shanuella tersentak ketika suara maskulin berteriak dari arah jalan.