My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 80


__ADS_3

Rarendra membeku, dia tercengang sendiri usai merangkai cerita yang mungkin saja kebenaran tersembunyi.


Aku mencintai Shan-Shan.


Jangan sentuh Shan-Shan. Silakan memukulku sepuasnya, silakan membunuhku. Tapi, jangan sentuh dia. Jangan sakiti dia lagi. Dia tak sekuat yang kamu kira.


Kepala Rarendra berdenyut, dunia terasa jungkir-balik. Ucapan-ucapan Bayu selama ini dianggap angin lalu mendadak beterbangan di otaknya.


Bos, aku pamit. Anakku sakit.


Bos, aku harus menjemput anakku ke sekolah.


Rarendra menggeleng kencang, mengusir semuanya. Perasaan tiba-tiba memburuk. 

__ADS_1


“Shan, kita ha … rus bicara.” Pria itu terbata-bata. Tanpa permisi, meraih tangan Shanuella yang tengah terjalin mesra dengan jari-jari Bayu. Diurainya paksa


“Pak.” Shanuella tersentak. “Ada … apa?”


“Kamu siapanya Bayu?” Pertanyaan to the point itu disertai tatapan menyelidik.


“Bukan urusan Bapak.” Shanuella menarik kembali tangannya, tak membiarkan laki-laki itu mendominasi.


“Bayu sudah menikah, ‘kan?” tanya Rarendra. “Jangan mengelak, aku dan dia teman dekat. Bahkan, kami pernah bekerja ….” Pria itu tersadar dan mengurungkan niatnya. Salah bicara, semuanya berantakan. Dia belum bisa membuka identitas dirinya sebelum memastikan maaf itu akan didapatnya dari Shanuella. “Dia sering membahas anak dan istrinya.


“Shan.” Rarendra menyentak pergelangan tangan wanita muda tersebut. 


“Sebagai majikannya Mas Bayu, aku rasa … pertanyaan ini tidak sepantasnya. Kalau aku istri Mas Bayu, memangnya kenapa?” Shanuella menjawab lancang. Dia kesal pada laki-laki asing yang sejak awal membuatnya bingung. Rupa serupa Blade, tetapi menolak mengakui. Sebaliknya, mengaku diri sebagai Rarendra. Yang membuatnya semakin bertanya-tanya adalah saat pria yang sama juga telah mengambil alih perusahaan. Semua disempurnakan dengan kenyataan kalau suaminya pun bekerja pada orang yang sama. Lengkap sudah kebetulan yang tak masuk akal, tetapi nyata.

__ADS_1


Rarendra menelan ludah dan terdiam. 


“Kalau aku bukan istrinya Mas Bayu, lalu kenapa?”


“Kamu siapanya Bayu? Dia sudah menikah, tidak mungkin berhubungan dengan wanita lain sampai berpegangan tangan. Sejak kapan menikah dengannya?” Rasa ingin tahu membuatnya bersikap tidak tahu malu. Pertanyaan yang tak pantas dilontarkan seorang Rarendra.


Shanuella menghela napas dan mencoba bersabar. Keanehan yang ditunjukkan Rarendra menyiratkan sesuatu. Ada yang aneh dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pria di hadapannya.


“Pak, hubungan kita memang akhir-akhir ini dekat. Tapi, ada batasannya. Aku mengerjakan proyek HVAC untuk kediaman Pak Rendra. Hanya saja, terdengar lucu, kenapa ingin mengetahui masalah pribadiku.” Shanuella memberanikan diri memandang lawan bicaranya. Ketakutan dan kesedihannya setiap melihat pria yang menyerupai Blade itu mendadak hilang. “Kalaupun, di sini Pak Rendra selaku majikan atau atasan Mas Bayu, aku rasa juga tidak berhak memaksaku menjawab.” 


Rarendra mengernyit. “Apakah sesuatu yang tidak boleh diketahui orang? Kenapa pertanyaan sederhana saja, tidak bisa dijawab. Aku diam sejak tadi karena memberi ruang padamu, Tapi, sebagai atasan Bayu, aku rasa aku berhak tahu.”


Shanuella terdiam sejenak. Dia berpikir sembari mengamati rupa tampan pria di hadapannya.

__ADS_1


Kenapa dia begitu penasaran tentangku dan Mas Bayu. Apakah dia benar-benar bukan Blade? Bukannya Mas Bayu harusnya tahu kalau dia ini siapa? Tapi, Mas Bayu selalu menegaskan Blade sudah mati. Apa … selama ini jangan-jangan Blade mengalami kecelakaan dan hilang ingatan? Jadi dia tak pernah mencariku lagi. Dia bukan pergi, tapi Tuhan membuatnya tak bisa kembali padaku.


“Kamu sebenarnya siapa?” Shanuella melontarkan tanya tanpa sadar. “Kamu benar-benar bukan Blade? Atau Blade yang tersesat dan berganti identitas? Kamu tidak sedang mengalami gangguan ingatan, ‘kan?”


__ADS_2