
Rarendra terpaku di ambang pintu, pandangan terarah pada sosok terkulai di atas lantai berdebu. Cukup memandang dari jauh, dia bisa mengenali sosok berambut panjang yang berbaring membeku.
“Mbak.”
“Bu.”
Nita dan rekannya Shanuella tengah bersimpuh, berusaha menyadarkan. Semua terjadi begitu cepat dan mendadak, hingga keduanya tak memiliki persiapan. Membiarkan tubuh feminin itu jatuh dan membentur lantai tanpa sanggup menahan.
“Bu.”
“Mbak.”
Sapaan yang sama terdengar berulang. Rarendra tersentak ketika nama wanita yang sedang tak sadarkan diri disebut oleh seseorang dari arah belakang.
“Shan.”
Bayu yang baru saja menyusul majikannya tak kalah terkejut. Hilang semua drama yang dimainkannya selama ini. Di dalam pandangan, dia hanya melihat istrinya jatuh tak sadarkan diri. Tak mungkin membiarkan mama dari putrinya berbaring terlalu lama di tempat kotor, dia pun berinisiatif untuk memindahkan ke tempat yang jauh lebih layak.
Rarendra berbalik dan mendapati raut panik asistennya. Tatapan Bayu terkunci pada satu titik, tak memedulikan apa pun. Bahkan, pria dewasa yang dulu pernah menjadi rekan kerja saat sama-sama menjadi pengawal Hartanto Sunjaya itu bergerak lancang. Melewatinya, terus mendekati wanita yang pingsan di depannya.
__ADS_1
“Mau apa?” Rarendra bersuara saat Bayu berlutut dan siap menggendong Shanuella.
Kedua tangan kekar pria itu sudah akan menyelip di balik punggung, tetapi urung ketika Rarendra kembali bersuara. Lebih kencang dan seperti sebuah titah.
“Jangan sentuh!”
Bayu tersentak. Dia sadar akan kelancangannya. Terlalu mengkhawatirkan istrinya, dia melupakan banyak hal. Masih dalam posisi berlutut, pria itu berbalik menatap Rarendra dan memasang wajah polos memelas.
“Maaf, Bos.”
“Minggir!” titah Rarendra. Dia tidak bisa mengizinkan pria lain menyentuh Shanuella di depan matanya. Sesuatu di dalam hatinya memberontak. Ada pertempuran rasa yang membuat empunya sendiri bingung. Benci dan cinta yang selisihnya hanya sebuah garis tipis.
Kurang ajar!
Tangan pria berkulit sawo matang itu mengepal kencang, buku-buku tangan memutih, gigi gemeletuk menahan amarah bercampur cemburu. Andai bukan Rarendra, sudah bisa dipastikan akan menerjang laki-laki lancang yang telah berani menyentuh istrinya tanpa permisi. Namun, banyak rahasia yang akhirnya membuat dia tak berkutik sebagai suami.
“Minggir!” usir Rarendra pada asistennya. Setelah tak mengizinkan Bayu menyentuh Shanuella, dia sendiri yang akhirnya menggendong wanita pingsan tersebut.
Sempat bimbang, perasaannya mendadak ragu ketika mendapati semua perabotan di rumah itu kotor dan berdebu. Tak mungkin membiarkan wanita tak sadarkan diri itu bersentuhan dengan semua masa lalu yang sekarang hanya menjadi serpihan abu. Tak ada lagi yang tersisa, semua sudah terbakar habis lima tahun lalu.
__ADS_1
“Buka pintu mobil, kita ke rumah sakit.” Rarendra menurunkan titah. Lupa sudah akan tujuan awalnya mendatangi tempat itu. Saat ini fokusnya terpusat pada gadis yang pernah menjadi bagian masa lalunya.
Perintah menggelegar itu menyentak Bayu. Dia tersadar dari lamunannya dan buru-buru menyusul Rarendra yang sudah menunggu di pinggir mobil. Masih sempat melirik ke arah istri yang sedang berada di dalam gendongan atasannya. Hatinya berontak, ingin menolak.
“Kita ke rumah sakit terdekat.” Perintah meluncur kembali, terdengar tak sabar.
“Ba ... baik, Bos.” Terbata-bata, Bayu merapikan kembali perasaannya yang berantakan sembari membuka pintu mobil dan mempersilakan atasannya masuk. “Ditidurkan saja, Bos. Supaya lebih nyaman dan Bos bisa duduk di depan denganku.”
Sebelum membuka pintu bagian sopir, dia masih berjuang sebisanya agar sang istri tak terus menerus berada di dekat Rarendra. Sekian lama rasa ini hanya sebatas bayangan, kini dia merasakan cemburu itu nyata ketika Shanuella berada di dalam dekapan pria lain.
Kurang ajar!
Bayu menggeram sesaat setelah menjatuhkan bokong di balik kemudi. Dari kaca spion dia melihat Rarendra masih setia mendekap Shanuella dan memilih duduk berdua di kursi belakang.
Mau sampai kapan dia memeluk istriku?
Tertegun, pikiran Bayu berkeliaran. Dia tak lagi bisa fokus dengan tugasnya. Bahkan, asisten itu mematung sembari mencengkeram kemudi.
“Jalan sekarang!”
__ADS_1
Perintah bernada kekhawatiran itu lagi-lagi menyentak Bayu. Dia tak bisa berbuat banyak saat ini, hanya menuruti semua ucapan Rarendra dengan hati terbelah.