
...🍂🍂🍂...
“Mas, turunkan aku di lobi saja. Tidak perlu mencari tempat parkir.” Shanuella bersuara sesaat mobil yang dikendarai Bayu masuk ke pelataran kantor. Memangku Lana yang tak mau duduk sendiri di kursi belakang, dia memeluk sembari sesekali mengecup pucuk kepala gadis kecil itu.
“Sudah. Ini masih pagi, cari tempat parkir saja.” Bayu mengedar pandangan ke sekeliling, memantau ruang kosong untuk menghentikan laju kendaraannya.
“Apa Mas tidak terlambat?”Â
Bayu menggeleng.Â
Menghentikan mobil di salah satu sudut, Bayu menoleh ke kursi penumpang Diamati anak dan istri yang tengah berbincang sambil menggoda satu sama lain.
“Yanya, Mama berangkat dulu, ya. Kantornya di depan.” Shanuella berpamitan. Dikecupnya wajah menggemaskan putrinya kemudian diturunkan dari pangkuan. “Mas, aku berangkat. Titip Lana.”
Bayu mendelik. “Untuk apa menitipkannya padaku. Dia putriku, tentu aku akan menjaganya tanpa disuruh.” Bayu mengusap pucuk kepala Lana dan tersenyum.
“Ya sudah. Aku berangkat, Mas.” Shanuella membuka pintu mobil dan melangkah turun. Sebelumnya, dia masih sempat menyambar tas dan kantung kain berisi berkas pekerjaan di kursi belakang.
“Ya, nanti kalau sempat aku akan menjemputmu, Shan.”
“Ya, Mas.”Â
__ADS_1
Berdiri di samping mobil sembari memeluk tas kain berisi berkas, Shanuella melambaikan tangan. Putri kecilnya tampak tersenyum sembari, membalas lambaian dari kaca mobil yang dibuka separuh.
“Dadah, Mama.”Â
Shanuella memandang dan tersenyum. Hingga mobil yang dikendarai Bayu bergerak maju, dia masih mengamati dari jauh. Menatap ekor mobil yang kini telah berbelok ke jalan raya.Â
Rasa hangat menyelimuti hati, Shanuella berjalan menuju ke lobi dengan pikiran masih terbawa pada anak dan sang suami. Melangkah tanpa memperhatikan keadaan sekitar hingga terdengar suara klakson mobil memekak telinga bersamaan dengan sebuah mobil SUV berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.
Bruk.
Shanuella tersentak. Berkas-berkas di tangannya jatuh berhamburan di dekat kaki. Butuh beberapa menit untuknya menguasai keadaan.
“Maaf.” Buru-buru berjongkok di depan mobil SUV, Shanuella panik dan merapikan berkas yang terjatuh dari kantung kainnya. Mengumpulkan lembaran-lembaran kertas yang untungnya tak terbang terlalu jauh, dia bisa bernapas lega dan segera menyingkir saat semua sudah di dalam rengkuhan.
Namun, kelegaan itu tak berlangsung lama. Tepat saat dia akan meneruskan langkah, terdengar suara seseorang menyapa dari arah belakang. Shanuella tersentak. Kedua kakinya tiba-tiba terasa berat. Mematung, dia mencerna suara yang menyapanya tanpa menoleh.
“Maaf.” Suara itu kembali terdengar. Berat, tertata, dan sangat familier.Â
Blade?
“Maaf, Nona. Kertasmu ada yang ketinggalan.”Â
__ADS_1
Deg.
Benar-benar suara Blade.Â
Buru-buru berbalik, Shanuella terperangah. Bukan Blade, pria dewasa yang tengah tersenyum padanya tampil rapi dalam balutan jas hitam dipadankan dengan kemeja biru navy.
“Maaf.” Sepatah kata yang hanya sanggup keluar dari bibir tipis Shanuella. Dia terguncang lagi.
“Maaf, Nona. Ini milikmu.”Â
“Terima kasih.” Shanuella menyambar dan bergegas pergi. Tak tampak senyuman ramah yang biasa hadir di wajah cantiknya.
“Tung ... tunggu, Nona. Aku ingin bertemu dengan Ibu Frolline. Kebetulan, ada yang ingin aku bahas mengenai proyek kemarin.”
Langkah Shanuella terhenti. Ragu-ragu dia berbalik dan menatap lawan bicaranya. Perjuangan untuknya bisa menatap laki-laki yang memiliki kemiripan dengan Blade itu. Tanpa orang lain tahu, hatinya bergejolak. Tubuh pun ikut gemetarÂ
“Ibu ... Fro ... em ... meminta aku yang menangani proyek itu. Ka ... kalau memang ada yang ingin didiskusikan ... aku akan ....” Perasaan Shanuella kacau di saat dituntut untuk profesional.
Aku ingin membatalkan kerja sama ini.
Tatapan Rarendra tertuju pada Shanuella. Setelah sekian lama, dia bisa melihat lagi wajah wanita cantik tersebut.Â
__ADS_1
“A ... aku ingin ... mem ....” Lidah Rarendra kelu. Pandangan terarah pada wanita di hadapannya. “Kapan proyeknya akan dimulai?” Pertanyaan yang tak seharusnya itu meluncur lancar di tengah usaha meredam kegugupan.