My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 46


__ADS_3

“Tuhan, aku ingin bertemu dengannya. Sekali saja pertemukan aku dengan Blade, bukan Rarendra atau siapa pun. Aku perlu menuntaskan apa yang telah kami mulai, mengakhiri apa yang menggantung selama ini.” Shanuella menarik napas berat di tengah isak tertahan. “Setidaknya, dia harus menjelaskan padaku kenapa bisa jadi pria sekeji itu. Apa salahku? Apa dosaku? Apa ....”


Shanuella tersentak. Potongan kalimat sisa yang hendak ditumpahkannya lenyap seketika saat dua tangan kekar mendekapnya dari belakang. Begitu posesif dan tentunya hangat.


“Kenapa belum tidur? Bukannya kita sudah membahasnya tadi?” Suara Bayu terdengar serak. Embusan napasnya yang hangat menggelitik kulit tengkuk Shanuella.


“Mas.” Parau masih mendominasi, Shanuella terlalu banyak menumpahkan tangis seorang diri.


“Bukannya sudah berjanji padaku untuk tidak menangis lagi. Sayang air matamu, Shan. Dia tidak pantas dibenci, apalagi ditangisi.” 


Hanya suara isak yang terdengar, tarikan napas tersumbat itu cukup menjawab seberapa hancurnya perasaan Shanuella saat ini.


“Sudah aku katakan, menangis di bahuku.” Bayu protes. Dieratkannya dekapan di perut Shanuella, dagu terjatuh di pundak wanita bergaun tidur satin ungu.


“Aku ... aku ....” Lidah Shanuella kelu. Dia tidak bisa menganggap pertemuannya dan Rarendra sebagai angin lalu. Luka itu terlalu membekas. Ditoreh dengan sangat dalam hingga rasa sakit masih terasa walau puluhan purnama telah berlalu.


Mengurai dekapannya, Bayu melabuhkan kedua telapak tangan di pundak Shanuella. Sentuhan seringan kapas, diharapkan bisa menenangkan tubuh mungil yang terguncang. Diremas pelan, kemudian diarahkan agar menghadap padanya.


Wanita dengan wajah berjejak air mata itu menurut. Tertunduk dengan kedua tangan saling meremas.


“Bukannya kalian sudah tutup buku? Lalu masalahmu di mana? Kenapa terus mengingatnya?” cerocos Bayu.

__ADS_1


Shanuella menggeleng.


“Lana?”


Kali ini Shanuella tersentak. Kepala terangkat, memberanikan diri menatap lancang ke arah suaminya.


“Aku tidak mengizinkan!” tegas Bayu, meremas pundak Shanuella dengan kencang. “Silakan kamu mau bertemu dengannya, bahkan aku tidak keberatan kalau kamu ingin memulai lagi dengannya. Tapi, tidak dengan Lana.” 


“Mas. Aku tidak berniat kembali padanya lagi.”


“Kalau memang kamu bisa memaafkannya dan ingin kembali, aku ... tidak keberatan. Tapi, tinggalkan Lana. Jangan bawa Lana bersamamu. Aku mungkin bisa melepaskanmu, tapi tidak dengan Lana,” tegas Bayu.


Shanuella menggeleng.


“Tidak, Mas.”


“Lalu menangis untuk apa? Meratapinya untuk apa?”


Shanuella bungkam.


“Kalau tidak, berhenti menangis. Berhenti meratapinya. Menangisinya untuk apa?”

__ADS_1


“Aku ....”


“Lagi pula, dia belum tentu Blade. Bisa saja dia memang Rarendra. Jadi ... untuk apa meratap?”


“Maafkan aku, Mas. Aku hanya ....”


“Kalau dia Rarendra, ya Rarendra. Untuk apa memaksa diri menganggapnya Blade. Ada banyak orang-orang di dunia ini memiliki wajah serupa.”


Shanuella menyimak. 


“Ingat, aku suamimu. Andai ingin pergi dengan laki-laki lain, setidaknya ceraikan aku dengan syarat yang telah kita sepakati bersama. Hak asuh Lana jatuh padaku.”


“Mas.” 


“Kamu ingin membuangnya dulu. Kamu ingin membunuh bayimu dulu. Aku yang memperjuangkannya dan sejak saat itu Lana milikku. Kamu tidak berhak lagi, Shan. Ingat perjanjian kita.”


“Tapi ... dia anakku, Mas.”


“Dia juga putriku,” ujar Bayu. “Aku yang merawat, aku yang menjaganya. Aku selalu ada dalam tiap tumbuh kembangnya. Apa tega memisahkanya denganku. Di mata Lana, akulah cinta pertamanya. Tidur sekarang, jangan berpikiran macam-macam. Mau Rarendra ataupun Blade, dia bukan siapa-siapamu, Shan. Aku dan Lanalah bagian dari hidupmu."


Suara Bayu melunak dan tiba-tiba memeluk. Dia berharap dekapannya sanggup menghempas segala resah yang mengobrak-abrik jiwa Shanuella. 

__ADS_1


Aku menyayangimu, Shan. Kapan bisa melihat ke arahku? Aku mencintaimu, Shan. Kapan bisa membalas cintaku?


 


__ADS_2