My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 45


__ADS_3

Jemari saling menaut, langkah kaki beriringan. Bayu menggandeng Shanuella menuju ke mobil yang terparkir di pelataran rumah sakit. Sekilas, mungkin tak ada yang menduga kalau mereka adalah pasangan suami istri. Selain, usia yang terlampau jauh, penampakan pun bak langit dan bumi. Yang wanita berkulit putih mulus dengan tubuh mungil dan wajah oriental, sedangkan pasangannya bertubuh kekar dengan kulit mendekati sawo matang dan tentunya paras khas nusantara.


“Masuk, Shan.” Bayu membukakan pintu mobil dan mempersilakan istrinya duduk. Diletakkannya tas tangan hitam ke pangkuan empunya dan tersenyum hangat.


“Terima kasih, Mas.”


“Senyum. Ingat Lana,” ucap Bayu sebelum menutup pintu dan berlari kecil menuju ke sisi mobil yang lain.


Shanuella menoleh ke sebelah tepat ketika laki-laki dewasa itu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Kalau diingat-ingat kembali, Bayu adalah sosok malaikat tak bersayap yang menyelamatkannya lima tahun silam. Andai pria itu dan Mbok Sari memilih pergi seperti yang lainnya, dia tak yakin akan tetap ada di dunia ini.

__ADS_1


“Mas.”


Bayu tersentak ketika lengan kirinya direngkuh dengan mesra saat akan menyalakan mesin mobil. Perasaannya berantakan saat Shanuella sudah menebar kemanjaan padanya. Memang hal yang jarang terjadi, tetapi bukan berarti tak pernah ada. Hanya saja, sebagai suami terkadang dia merasa waswas. Takut terhanyut oleh perasaannya sendiri.


Berada di dekat Shanuella yang cantik dan menarik, pria mana yang tak terusik. Demikian juga dengan Bayu. Perlahan, rasa sungkannya sebagai bawahan terhempas saat status suami memberinya keleluasaan untuk menyentuh wanita cantik itu secara utuh. Namun, dia tak bisa sembarangan. Hubungan mereka berawal dari sekadar status tanpa melibatkan perasaan. Walau akhirnya, diakui kalau jerat itu menenggelamkannya di dalam pusaran rasa yang tak berani diungkapkan terang-terangan.


“Kenapa?” Suara Bayu bergetar, menahan gejolak yang tengah berkecamuk di dalam dada. Sentuhan Shanuella memengaruhinya.


Bibir Bayu merekah. Senyuman tersungging, menebar kenyamanan.

__ADS_1


“Kalau begitu, tetap tersenyum padaku seperti ini.” Menepuk pipi Shanuella dengan lancang, Bayu berharap suatu saat wanita di sebelahnya itu bisa membaca perasaan yang disimpannya rapat-rapat. Tidak berharap rasa itu mendapat balasan serupa, dia hanya ingin istrinya tahu kalau cinta itu tulus adanya.


...✔️✔️✔️...


Rembulan perlahan naik di pucuk kepala, pekat mendekap Shanuella di dalam kesendiriannya. Berdiri di depan jendela, menatap gelap dari tirai yang tersibak separuh. Sengaja memilih keluar dari kamar, dia tak mau mengusik tidur Lana.


“Dad, dia datang lagi. Walau tidak mau mengakui kalau itu dirinya, tapi aku yakin itu dia,” bisik Shanuella. Setelah apa yang dialaminya sepanjang siang ini, dia tak mungkin bersikap baik-baik saja.


Potongan-potongan kisah lamanya beterbangan, cerita cinta pertama yang menyakitkan itu tampak nyata. Dia bisa merasakan bahagia dan sakit dalam waktu bersamaan. Terasa nyata dan memaksa air matanya tumpah.

__ADS_1


“Blade, apa salahku padamu? Kenapa begitu jahat padaku. Kamu pergi setelah merampas semuanya, menitipkan benih tak berdosa. Apa dosaku padamu? Saat kamu datang kembali di dalam hidupku ... bahkan kamu menolak mengakui. Aku tahu itu kamu. Aku ....”


Tak sanggup melanjutkan ucapannya, Shanuella memilih menangis pilu. Banyak hal yang disembunyikannya dari semua orang, bahkan dunia. Bagaimana hatinya terluka dan berdarah saat ini, kemarin, dan mungkin esok. Dia masih belum sepenuhnya sembuh. Terlalu banyak rahasia yang harusnya dia tahu.


__ADS_2