
“Untuk apa? Sayang air matamu. Sayang masa depanmu.”
“Tapi, tetap saja rasanya tidak ikhlas. Aku ... aku ....”
“Sudah, jangan menangis lagi. Fokus pada Lana, pada masa depanmu. Setidaknya, ketika kamu bertemu dengannya, dia harus menyesal telah menelantarkanmu. Bukan sebaliknya. Angkat kepala, tunjukkan pada dunia. Kamu Shanuella Sunshine. Apa pun itu, tak ada yang sanggup menghentikanmu bersinar.”
Wanita itu tertegun. Menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya pelan-pelan sambil mengusap air mata yang terlanjur jatuh membasahi pipi.
“Kamu punya Lana. Untuk apa menangis?”
“Ya, Mas.”
“Balas dendammu dengan cara menawan. Dia boleh jadi pecundang, tapi Shanuella harus jadi pemenang. Menang dari takdir Tuhan, menang dari semua ujian, menang dari Blade. Kalau kamu menangis, laki-laki itu akan tertawa. Buat dia menangis dengan tawamu. Buat dia menyesal telah menyia-nyiakanmu. Buat dia merasa bersalah karena telah menjadi laki-laki bejat. Dengan catatan ... andai dia manusia. Aku lebih merasa dia binatang. Manusia tidak akan serendah itu.”
__ADS_1
Tangan Bayu terkepal. Menjadi saksi kehancuran keluarga Sunjaya, dia tahu banyak hal dari berbagai sisi. Bagaimana semua hancur dalam sekejap, bahkan dia ingat detik-detik Daddy Shanuella merenggang nyawa setelah menerima panggilan dan membaca pesan.
“Sudah. Hapus air matamu. Malu pada Lana. Sering menasihati putrimu untuk tidak menangis, tapi diri sendiri sering melakukannya.” Bayu terkekeh pelan dan mengurai dekapannya.
♟️♟️♟️
Senja merangkak turun, kilau keemasan menampar wajah Rarendra. Berdiri di sebuah hunian terbengkalai yang masih menyisakan kegagahannya. Pria itu tampak melamun, menatap rumah tiga lantai yang dulu sempat menjadi istana Sunjaya sebelum direbutnya paksa dengan berbagai cara. Kini, setelah lima tahun berlalu, dia kembali ke sini.
Banyak kenangan, sarat cerita. Ada canda, ada tawa, ada kesedihan, tetapi dia tak menyangka akan hadir penyesalan di dalam hatinya. Ini di luar skenario yang dirangkainya. Mengira akan tergelak bahagia setelah semua sakit hatinya dibayar lunas, nyatanya secercah kesedihan hadir. Bahagianya berbalut nestapa.
“Aku pernah memimpikan hari ini.” Suara Rarendra bergetar. Mata yang biasanya berkilat tajam, tiba-tiba menggelap. Awan hitam bergelayut. Menghela napas berat, ia menoleh ke arah Bayu. Pengawal setia yang mendampinginya selama empat atau lima tahun terakhir. Dia hampir lupa, sejak berhasil mengakuisisi perusahaan Sunjaya, pria itu memang tidak mau mengingat apa pun. Semakin diingat, rasa sakit di hatinya muncul ke permukaan.
Mungkin dia menang dalam penglihatan semua orang, tetapi tak seorang pun tahu kegagalan yang disimpannya sendiri. Dia gagal karena perasaannya tersesat dan terjerat hingga lupa jalan kembali.
__ADS_1
“Ini mau direnovasi, Bos?”
Bayu menatap istana yang dulu ditinggalinya bersama rekan-rekan yang lain. Menjadi pengawal seorang Sunjaya Hartanto, dia pun harus berada di sisi pria tua itu 24 jam. Tak memungkinkan untuknya mencari tempat tinggal di luar kala itu.
“Rencananya mau didesain ulang. Ini sudah ketinggalan jaman. Sebagian bangunan juga sudah keropos, Bay.” Rarendra bersuara.
Bayu mengangguk.
“Bagaimana keluarganya? Apa benar-benar menghilang?” Setelah sekian lama tak mengungkit masalah ini, Rarendra keceplosan.
Pengawal pribadi itu menggeleng. “Putrinya menghilang, Bos. Kenapa? Mau mencarinya?” Bayu memancing.
“Aku tidak mengenal secara pribadi, lalu untuk apa mencarinya?” Rarendra tersenyum getir. Setelah sekian lama berdiri mematung, pria dewasa itu melangkah masuk ke dalam rumah. Debu beterbangan, puing-puing bangunan yang mengalami kerusakan tampak menghalangi jalan.
__ADS_1
Menyusuri ruangan demi ruangan, Rarendra terpaku saat berada di depan kamar dengan akses masuk bercat putih. Diraihnya gagang dan menarik ke bawah. Mendorong pelan, pria itu seperti sedang membuka pintu masa lalu. Dia tersedot lorong waktu.