
"Kakek! apa-apa an ini?" Lana kaget mendengar ucapan kakeknya sendiri yang main tunjuk dan memilih Juan menjadi bodyguardnya.
"Loh ini perintah kakek, Na." ucap kakek dengan santainya.
"Aku nggak perlu bodyguard baru, kakek." sanggah Lana.
"Tapi kakek rasa perlu dan Juan mumpuni." Kakek melirik ke arah Juan memastikan Juan mumpuni untuk tanggung jawab yang ia berikan kepadanya.
"Saya tidak bisa kakek." sanggah Juan dengan sopan agar kakek Griz tidak merasa dia menolak dengan kasar.
"Kenapa?" tanya kakek dengan bingung.
"Kan saya pegawai kantor, kek." sahut Juan dengan santai.
"Kamu pegawai juga bodyguardnya Lana. Gaji double kan. Atau gini gaji menjadi bodyguard saya kasih 3 kali lipatnya dari gaji kamu menjadi pegawai." Kakek memberikan imbalan yang lebih besar agar Juan mau menerima tawarannya.
"Kakek! Lana tidak ----"
"Kakek mau kamu punya bodyguard Lana!" jelas kakek yang membuat Lana terdiam.
Lana yang tadi terdiam sekarang mulai berbicara pelan dan halus supaya kakek mau menerima kalau Lana tidak butuh bodyguard lagi "Untuk apa lagi? Lana udah cukup punya bodyguard. Ngapain Juan jadi bodyguard Lana?"
"Karena Juan yang tahu siapa salah satu dari mereka dan kakek juga mau Juan terlibat untuk mencari siapa dalang dan komplotannya mereka." jelas kakek.
Juan yang tadinya plonga-plongo akhirnya berucap "Tapi... saya tidak terlalu paham seni bela diri, kek."
Dengan senang kakek bertanya lagi "Berarti kamu mau menjadi bodyguard Lana?"
"Tapi ---"
"Tenang kamu akan dilatih bela diri jika kamu menyetujui menjadi bodyguard Lana."
Juan masih bimbang akan menerima atau menolak tawaran kake Griz "Mmm..."
"Setuju atau tidak, hanya itu pilihannya. Atau mau ditambahin kalau tidak setuju kamu akan saya ikat di kandang singa."
Sontak Juan kaget dan gelagapan ngomong "Heh.. lah... saya setuju kek."
Kakek Griz tersenyum mendengar jawaban persetujuan Juan "Nah gitu dong kan jadi cepet bilangnya."
"Cepet lah pakai acara ngancem segala." sinis Lana menyahut ucapan kakeknya yang sengaja mengancam Juan supaya menyetujui tawaran kakek.
__ADS_1
"Tang penting setuju kan... kamu turuti apa kata kakek semua untuk kamu, na. Kakek mau kamu aman." jelas kakek sambil menatap Lana dengan penuh cemas. Dia hanya tidak mau sang cucu kenapa-kenapa karena hanya Lana yang dia punya.
Lana hanya mengangguk mengerti daripada harus berdebat lagi. Lana hanya tidak mengerti kenapa harus Juan, padahal dirinya berharap tidak berurusan lagi dengan Juan yang membuatnya kadang kesal tak berasalan.
"Baiklah, mulai sekarang kamu sudah jadi bodyguard Lana. Kamu juga akan tetap tinggal disini di kamar yang kamu tempati itu." Kakek Griz menatap Juan sambil tersenyum tipis.
"Bukannya itu terlalu mewah ya kek. Saya bisa pindah di kamar yang seharusnya dipakai bodyguard lainnya kok, kek." sanggah Juan yang menganggap kamarnya terlalu mewah bagi seorang bodyguard.
"Tidak Juan, itu sudah saya pikirkan matang-matang. Kamu akan menjaga Lana di luar rumah dan di dalam rumah. Kamu saya percayakan menjaga Lana."
"Ha!" pekik Lana tidak percaya kalau dirinya juga harus di jaga di dalam rumah.
"Bukankah tidak perlu untuk menjagaku di dalam rumah juga?" tambah Lana yang tidak mau dijaga di dalam rumah. Di luar rumah saja ia merasa terganggu dengan bodyguard yang membuatnya tak nyaman karena ia juga pengen sendiri.
"Perlu! dan itu mulai sekarang." jelas kakek.
Lana menatap kakeknya "Kakek terlalu berlebihan."
"Tidak, kakek melakukan ini karena memang seharusnya begini." kakek dengan santai menjawab pertanyaan Lana.
"Tapi ---"
"Jangan membantah Alana, kakek hanya ingin kamu aman." potong kakek.
"Kau juga tidak boleh protes Juan! itu perintah." jelas kakek yang langsung menatap Juan yang sedang kebingungan mendengar debat antara kakek dan cucu.
"I-iya, kakek." jawaban pasrah Juan daripada dia harus mendapatkan tatapan tajam dan sinis dari kakek Griz.
"Sip, anak pintar." disertai senyum tipis dari kakek Griz.
*
*
*
"Kenapa harus berurusan dengan Juan lagi, Juan lagi!" umpat Lana di dalam kamarnya yang tak lupa ia kunci dari dalam supaya kejadian Juan membuka pintu tidak terulang lagi saat dia sedang mengumpati dirinya.
"Kan bisa gitu jadiin bodyguard yang ada jadi bodyguardku, kenapa harus Juan juga sih!" Lana masih tidak percaya dia harus bersama Juan di dalam rumah maupun di luar rumah. Walaupun dikamar ia sendiri tapi itu tidak membuatnya nyaman.
Sejenak Lana membayangkan wajah Juan di pikirannya, " Iya lumayan sih wajahnya, eh bukan lumayan lagi sih dia. Emang cakep kok dia. Mau-maunya jadiin bodyguard sih."
__ADS_1
Seakan tersadar bahwa dia tidak boleh membayangkan Juan, Lana pun langsung memukul keningnya.
plak
"Aww... sakit." pekik Lana mengelus keningnya yang baru saja dia pukul sendiri.
"Sadar Lana mau Juan jelek atau cakep, tetap saja dia harusnya nggak jadi bodyguardku." sambil mencubit pipinya sendiri dan menatap ke cermin.
Lana masih mengumpat di dalam kamarnya yang tidak terima akan semua yang sedang menimpanya itu.
*
*
*
Juan masih terduduk lesu di sofa kamarnya. Dia masih tidak percaya juga dengan apa yang dia setujui itu. Awalnya dia cuman ingin mengatakan hal yang dia rasa penting lalu pergi tanpa memikirkan beban lagi eh ternyata malah tambah beban saja hidupnya.
"Ini namanya rezeki atau cobaan ya? dibilang rezeki iya dapat gaji berlipat-lipat dan cobaan juga iya harus menghadapi nona Lana yang sifatnya kadang nggak jelas dan aku sendiri pun tidak tahu kepribadian lainnya dari nona Lana. Ditambah ikut campur dalam mengungkap dalang dari semua kejadian itu." Juan memijit kepalanya yang sudah dirasa panas memikirkan beban masalah lagi.
"Tapi kenapa harus bodyguard?" Juan merasa tak terima dengan tawaran kakek Griz.
"Bisa kan jadi tim pencarian saja gitu nggak usah jadi bodyguard segala."
"arkkkgghhh... tambah puyeng aku kalau dipikir lama-lama." tambah Juan yang merasa sudah cukuplah memikirkan semuanya toh sudah terjadi dan dia menyetujuinya mau gimana lagi, mau gimana lagi.
*
*
*
tok...tok...tok...
Sang pemilik kamar mulai terbangun mendengar ketukan dari luar kamarnya.
"Ibu! Juan masih ngantuk bentar lagi ya!" ucap Juan dengan mata masih belum terbuka lebar. Namun, ia ingat sesuatu bahwa dia sedang di rumah kakek Griz, sontak Juan langsung terperanjat bangun dan membukakan pintu.
"Eh, udah bangun ya? Ditunggu kakek Griz dibawah kalau sudah siap-siap." ucap bi Sri dengan lembut.
Juan hanya mengangguk dan tersenyum tipis padahal dia baru bangun dan berusaha membuka matanya lebar-lebar agar bibi Sri mengira dia bangun dari tadi.
__ADS_1
"Bodoh! bisa-bisa kau tertidur pulas harusnya bangun pagi kau ini, Juan!" umpat Juan kepada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk jidatnya. Juan bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk menemui kakek Griz.