
Cukup mendengar pernyataan spontan Shanuella, pria itu bisa menangkap semuanya. Dahi berkerut, mata menyipit tertuju pada penampakan cantik Shanuella. Berjuang untuk tetap biasa, tidak menunjukkan kalau saat ini dia tengah terguncang. Hatinya sudah hancur berkeping-keping ketika mendapati kenyataan wanita yang dicintainya dalam diam telah menikah dengan laki-laki yang tak lain adalah pengawal pribadinya.
Dia masih secantik dulu. Tak ada yang berubah, kecuali bertambah dewasa dan matang. Aku yakin dia istri Bayu, tapi dia belum melupakanku. Blade masih tersimpan rapi di dalam hatinya. Pernikahan tanpa cinta? Atau terpaksa?
“Lupakan pertanyaanku tadi. Kita turun makan ke bawah. Wajahmu pucat, Shan.” Menjaga jarak, Rarendra mulai bisa menempatkan diri. Desakan pertanyaan hanya akan membuat wanita itu menjauh dan bingung. Dia harus bisa beradaptasi dengan identitasnya sekarang. Rarendra Tan, pria yang tak memiliki masa lalu dengan Shanuella.
Aku harus menjaga sikapku. Tidak boleh menunjukkan keingintahuan berlebihan yang mungkin memancing kecurigaan.
Shanuella bergeming. Sorot mata mengawas pria gagah di depannya dari atas sampai ke bawah, kemudian melontarkan pandangan pada sang suami yang tengah tergolek tak sadarkan diri di atas brankar. Ragu untuk menerima tawaran Rarendra, dia takut salah mengambil keputusan dan mengecewakan Bayu.
“Maafkan sikapku tadi. Aku terlalu terkejut. Aku sadar … selama ini mungkin aku banyak salah bicara padamu, Shan. Kita bisa mulai dari awal lagi.” Rarendra tersenyum hangat. Sikapnya tiba-tiba berubah 180 derajat dibandingkan sebelumnya.
“Tapi ….”
“Suamimu tidak akan keberatan.” Rarendra memancing sembari mengawasi perubahan wajah Shanuella. Tak tampak sesuatu yang aneh, reaksi wanita cantik itu biasa saja. Senyum getir hadir di sudut bibir, dia sadar kalau dugaannya kemungkinan mendekati benar.
__ADS_1
Dia tak menolak. Berarti, kebersamaan mereka selama ini lebih dari majikan dan pekerja.
Mengakui Bayu adalah suami Shanuella saja sudah cukup berat untuk Rarendra, kini dia harus menyiapkan diri dengan kenyataan yang sudah sangat jelas di hadapannya. Berat, tetapi harus tetap dilewati. Dia tak peduli, selagi pintu masih terbuka untuknya, dia akan memperjuangkan apa yang harus jadi miliknya.
Sesal hadir belakangan. Dia terlambat menyadari keinginan hatinya. Bahkan, egonya masih menjulang tinggi andai tak mendapati kenyataan bahwa Bayu dan Shanuella selama ini bersama. Ke mana perginya Rarendra yang dulu pintar membaca situasi dan memiliki intuisi yang tajam. Kenapa sejak dendam terlunasi, dia pun mendadak jadi pria lemah?
Aku mencintainya. Aku tidak mungkin menyerah. Apalagi saat aku tahu kalau dia masih menyimpan nama Blade di dalam hatinya. Aku mungkin terlambat, tapi hatinya belum tertambat. Aku akan mengejarnya dengan jujur, sebagai Rarendra, bukan Blade.
“Aku pesankan saja, bagaimana? Kita makan di sini.” Rarendra mengubah pertanyaan, memberi penawaran yang lebih mudah dijawab.
Shanuella menjatuhkan bokongnya di kursi dan menggenggam tangan Bayu kembali.
“Mau dipesankan apa?” tawar Rarendra, belum mau menyerah. Dia berharap, semakin sering berkomunikasi, Shanuella akan makin terbiasa dengan keberadaannya.
“Apa saja, Pak.”
__ADS_1
Rarendra mengulum senyuman. “Bisakah memanggilku dengan cara berbeda. Panggilanmu itu terasa berjarak. Panggil nama saja, Shan.”
Sama seperti kamu memanggilku dulu. Blade.
Sisa kalimat terpaksa diucapkan dalam diam. Mulai sekarang, dia harus lebih berhati-hati menyampaikan sesuatu. Kedoknya terbongkar, semua pun selesai. Rarendra tak mau sampai itu terjadi sebelum mendapatkan maaf dan cinta Shanuella kembali.
“Aku tidak bisa. Walau hubunganmu dan Mas Bayu cukup dekat seperti yang Pak Rendra sampaikan, tetap saja di antara kita hanya sebatas klien perusahaan. Kantorku mendapatkan proyek dari Ba ….”
“Panggil aku seperti kamu memanggil Bayu. Em … mas?” Rarendra ragu.
Shanuella mencelang. “Mana bisa begitu?”
“Kenapa tidak bisa?”
Wanita cantik dengan kemeja putih dan celana denim biru itu menggeleng. “Tidak bisa ya tidak bisa. Aku tidak perlu mengungkapkan alasannya kenapa.”
__ADS_1
“Karena dia suamimu dan aku bukan?”