My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 116


__ADS_3

Keingintahuan jelas terasa dari tanya yang dilontar tanpa jeda. Sebagai satu-satunya orang tua untuk Bayu dan Shanuella, dia ingin keduanya bahagia bersama Lana.


“Blade kembali.”


Tersentak, Mbok Sari mematung dengan mata terbelalak. Butuh beberapa detik untuknya menguasai keadaan dan mengeluarkan pertanyaan selanjutnya.


“Lalu? Apa dia ingin menyakiti Shan-Shan lagi?”


Bayu menggeleng.


“Lalu, masalahnya di mana?”


“Masalahnya, aku mengetahui semuanya. Dan, ini …..” Mata Bayu terpejam, menikmati gejolak di dalam dadanya. “Dia atasanku, dia musuhku. Tapi, dia juga temanku. Di saat kenyataan dan kebenaran itu menamparku, kenapa aku terlihat seperti seorang penjahat, Mbok?” Bayu menempelkan punggungnya di sandaran kursi.


Mbok Sari menoleh ke samping. Duduk bersisian, dia bisa mencium aroma tembakau dari napas Bayu.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Blade adalah keluarga korban yang ditabrak Shan-Shan.”


Mbok Sari kembali membeliak. Tercengang, wanita tua itu nyaris tak percaya.


“Ja—jadi selama ini … adalah ….”


Bayu mengangguk.


“A—apa dia bermaksud melanjutkan dendamnya sekarang?” Ada kekhawatiran di dalam nada tanya yang dilontarkan Mbok Sari.


“Tidak, dia mencintai Shan-Shan.” Bayu menjelaskan dengan nada sedih.


“Kamu sendiri bagaimana? Kalau dia mencintai Shan-Shan dan sebaliknya juga Shan-Shan merasakan hal yang sama. Kamu harus bagaimana, Bay.” Mengusap lengan Bayu bak seorang ibu, Mbok Sari bisa merasakan kesedihan dan penyesalan yang tengah melanda putranya. “Sudah Mbok katakan sejak awal. Jangan memaksa. Kita sama-sama tahu kalau Shan-Shan tidak mencintaimu. Ada banyak cara melindungi tanpa harus menikahinya.”


Bayu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tak sepatah kata pun keluar, hanya helaan napas putus asa.


“Sejak awal, Mbok tidak pernah setuju. Pagi siang malam yang disebut itu hanya satu nama. Dan, itu bukan kamu. Bahkan, dalam tidurnya pun hanya menyebut pria yang sama tanpa disadarinya. Kenapa memaksanya?”

__ADS_1


Menoleh sekilas, Bayu tersenyum kecut.


“Kamu tahu di mana laki-laki itu berada. Kamu tahu dia hampir gila mencarinya dan kamu diam? Demi apa?”


Tertunduk. Ada sesal di balik sikap Bayu yang kini bungkam.


“Harusnya beri kesempatan bertemu. Kita tidak tahu apa yang terjadi. Biarkan semuanya mengalir dan kebenaran terbuka. Bukan tidak mungkin saat tahu Shan-Shan hamil, sikapnya berubah, bukan tidak mungkin semuanya akan berbalik. Ingat, mendiang Daddy memintamu apa?” Mbok Sari semakin memojokkan.


“Menjaga Shan-Shan.”


“Menjaga, melindungi, bukan menikahinya. Tapi, kamu ingat pesan yang lainnya, ‘kan?”


“Kalau sampai Shan-Shan hamil, aku harus menjaga keduanya.” Bayu menjawab singkat.


“Untuk apa? Kehamilan itu aib, tapi Daddy meminta Shan-Shan menjaganya. Dia tahu … bayi itu yang akan menyudahi semua dendam ini.” Mbok Sari menegaskan. “Apa yang kamu dapatkan sekarang? Tidak ada, Bay.” Wanita tua itu menggeleng.


Di tengah gelapnya malam, tangis itu tertumpah dalam diam. Penyesalan dan kehancuran datang bersamaan.

__ADS_1


“Jangan pernah menyesal, ini adalah jalan yang kamu pilih, Bay. Sewaktu menikahinya, kamu tahu jelas perasaan Shan-Shan seperti apa. Bahkan, kamu tahu di mana laki-laki itu berada. Menikah dan berharap dia bisa mencintaimu. Menikah dan berharap bisa mengikatnya seumur hidup. Lalu, apa bedanya kamu dan Blade? Tulus itu tidak mengharap imbalan, cinta itu tidak memaksa.”


“Aku mencintainya, Mbok. Di hari pertama kami bertemu ….”


__ADS_2