My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 30


__ADS_3

Wanita cantik tengah menunggu air di dalam kompor mendidih dan siap merebus mi instan yang telah dibuka kemasannya di atas meja dapur.


Sebuah ide melintas, Bayu menggulung tangan kemejanya sebatas siku. Kemudian melangkah dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara. Rencananya, dia akan membuat kejutan. Tepat saat jarak tinggal selangkah, pria yang sudah mengulurkan tangan dan berencana mendekap itu berbalik badan. Spontan, dia menggapai dan mendekap Shanuella yang menjerit kaget.


“Aaaah.”


Jeritan Shanuella lenyap ketika mulutnya dibungkam.


“Ssstt, kamu membangunkan putriku.” Bayu masih membekap bibir lawannya. “Apa yang kamu masak?”


Shanuella tak menjawab. Mata melebar seakan hendak melotot keluar. Napas tersengal-sengal. Di sisa perjuangannya yang hampir kehabisan oksigen, dia memukul pundak Bayu dengan kencang.


Bugh.

__ADS_1


Bugh.


Dua pukulan itu sanggup membuat mulutnya terbebas dan dunia kembali berjalan normal. Shanuella mengatur napas sebelum bersuara.


“Hampir saja aku mati kehabisan napas. Mas, kenapa mengagetkanku. Bukannya bisa menyapa lebih dulu.” Wanita itu melayangkan protes.


“Kamu masak apa?” Bayu mengalihkan perhatian pada panci dengan mi yang sudah berenang di dalamnya. Sebagian sudah mengembang, sisanya masih layak dikonsumsi.


“Aku masak mi, Mas. Tapi, ini over. Coba saja lihat ... mi jadinya lebar-lebar.” Shanuella mengadu. Berdiri berhadapan, tubuh keduanya terjalin melalui tangan Bayu yang memeluk pinggang Shanuella tanpa sadar. Bahkan, saat obrolan mereka sudah berganti topik, tetap saja pria itu enggan melepas.


“Mas, aku saja. Apa Mas tidak lelah?” Shanuella buru-buru menahan pergerakan tangan Bayu yang hendak mengambil alih pekerjaannya. Dirampas kembali panci dari tangan pria tersebut, kemudian berbalik membelakangi.


“Mas mau mi kuah atau goreng? Mau dipakaikan telur ceplok atau ....”

__ADS_1


Kalimat Shanuella tak terselesaikan. Ia membeku ketika Bayu mendekapnya. Tak ada keraguan, kedua tangan pria itu mengunci tubuhnya dengan erat. Kisah putri majikan dan pengawal kepercayaan kini hanya sebatas kata mantan. Runtuh, semua tembok pembatas itu luruh tak berbekas.


“Apa saja. Aku lapar, tapi lebih butuh tubuhmu untuk menopang lelahku.”


Shanuella membeku.


“Bagaimana Lana? Dia baik-baik saja?” Bayu kembali melontarkan tanya sembari menumpangkan kepalanya di pundak Shanuella.


Malam kian larut, senyap mulai menyelimuti. Suara nyanyian malam samar-samar terdengar dari luar rumah. Shanuella masih mematung di tempat, menikmati dekapan Bayu sembari menghitung detak jantungnya sendiri. Gugup itu datang, ketakutan pun menghampiri. Andai pria yang memakaikan cincin di jari manisnya itu meminta lebih, dia bisa apa.


Pasrah? Tentu saja. Apa pun alasannya, dia tidak berhak mengelak apalagi menolak. Menggigit bibir, Shanuella menahan napas. Di balik punggung, ada pria yang memiliki hak penuh atas dirinya.


“Shan, andai suatu saat kamu bertemu lagi dengan Blade ....” Bayu mencoba melontarkan tanya yang selama ini menghuni benaknya. “Apa yang akan kamu lakukan?”

__ADS_1


Bibir terkatup rapat, tubuh pun membeku di tempat. Shanuella tertegun, pandangan menerawang. Jujur, wanita itu sudah membuang jauh-jauh semua kemungkinan yang berhubungan dengan Blade. Bahkan, ia menolak untuk membahasnya dengan siapa pun sejak memutuskan menutup buku.


“Menceraikanku?” Bayu meraih tangan Shanuella dan memainkan jemari lentik tanpa kuteks itu. Fokusnya tertuju pada jari manis yang lima tahun terakhir berhias cincin emas putih sederhana.


__ADS_2