My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 109


__ADS_3

“Maaf. Aku pernah bersalah padamu di masa lalu.”


Shanuella menunduk, menatap laki-laki yang tengah bersujud di kedua kakinya. Dari posisi ia berdiri hanya tampak pucuk kepala dengan helaian rambut hitam yang tersisir rapi.


“Aku sudah memaafkanmu.” Singkat, jelas, dan terdengar datar. Perasaan wanita yang tengah mematung itu benar-benar kacau. Tak terpengaruh? Bohong. Rasa itu belum sepenuhnya hilang walau tertutup kebencian. Namun, setelah mengetahui alasan di balik perbuatan keji itu, dia masih berharap ada secercah cinta yang mendasari. Setidaknya, masa lalu mereka tak berakhir sia-sia.


“Terima kasih.” Tangan Rarendra terkepal. Andai tak ingat kalau wanita di hadapannya adalah istri laki-laki lain, tentu sudah didekap dengan mesra seperti dulu. Dia sadar diri, ada Batasan yang tak mungkin dilewati. Atas dasar apa pernikahan itu terjadi, hubungan keduanya benar adanya.


“Bangunlah. Aku tidak suka ada orang bersujud di hadapanku.” Shanuella mundur beberapa langkah, memberi jarak di antara dirinya dan Rarendra. “Jangan lakukan ini pada wanita lain. Rasanya pasti menyesakkan.” Dia kembali menegakkan kepala, menyembunyikan luka yang basah meski lima tahun sudah merenda banyak kisah.


Rarendra menurut.


“Aku sudah memaafkanmu ....” Lidah kelu, Shanuella membeku. Dilanda kebingungan, tak tahu bagaimana harus menyapa. Pria mapan dan rupawan yang dulunya adalah bawahan di keluarganya, kini hadir dan menjelma menjadi sosok luar biasa. Dia tak lagi sanggup menggapai, Blade yang dikenal sudah melesat terlalu tinggi.

__ADS_1


Hidup itu misteri. Tak seorang pun yang sanggup menyibak tabirnya. Rejeki, jodoh, dan maut sudah ditakar dan tak akan mungkin tertukar. Roda terus berputar, bergulir dan menguji sabar.


“Blade, sudahlah. Semua sudah berlalu. Aku pun mencoba menerima semua sebagai bagian dari takdirku. Hanya saja ... apa dulu pernah ada rasa? Terkadang, aku merasa tak terima. Apa aku sejahat itu sampai-sampai harus menerima hukuman begitu mengerikan?”


Rarendra sudah berdiri di hadapan Shanuella dengan kepala tegak. Seutas senyuman terbit dan hadir di bibirnya.


“Percaya padaku?” Suara maskulin itu bertanya pelan.


Beberapa detik Shanuella termenung, menatap paras rupawan seakan sedang mencari tahu. Hingga akhirnya kepala itu mengangguk lemah.


“Apa mau mengulang masa lalu?” tanya Rarendra, memberanikan diri. Diamatinya paras cantik yang terlihat ragu. “Aku janji akan menghargaimu sebagai istri Bayu. Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu.”


Diingatkan akan sosok gagah yang telah menjaga selama ini, binar di wajah Shanuella meredup. Hati bertarung, dia bingung.

__ADS_1


“Sebentar saja. Kalau kamu ragu ....” Rarendra mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


Sengaja menggunakan pengeras suara, pria itu berharap Shanuella ikut mendengar. Dia tak mau sampai terjadi salah paham dan membuat masalah ke depan. Nada sambung memercik degup di dada sekaligus memecah keheningan. Raredran berulang kali mencuri tatap wanita dewasa di hadapannya.


Tak lama berselang, nada berakhir dengan suara maskulin yang membuat Shanuella tercengang. Pandangan terkunci pada Rarendra, dia nyaris tak percaya dengan apa yang dilakukan pria tersebut.


“Ya, Bos. Ada apa?”


Suara maskulin itu begitu familier di telinga.


“Bay, aku bertemu Shan-Shan di proyek. Kebetulan jam makan siang.” Rarendra melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku izin mengajaknya makan siang. Apa kamu mengizinkan?”


Shanuella ternganga. Tidak terbayang sama sekali kalau Rarendra akan melakukan hal seperti ini. Menurunkan pandangan, dia menatap layar gawai dan menunggu jawaban. Entah kenapa, hati kecil wanita itu seperti mengharap sang suami setuju.

__ADS_1


Senyap menyelimuti, Rarendra dan Shanuella menunggu jawaban harap-harap cemas. Hingga sebuah persetujuan dikumandangkan dengan singkat.


__ADS_2