
"Kamu pegang dulu saja ya. Nanti setelah sampai di perkebunan kamu bisa menyerahkan ke saya sekalian nanti saya bisa tanya-tanya ke kamu." Ucap Lana dengan tatapan sayu.
"Baik, terima kasih nona." jawab Juan dengan sopan.
Hening tak ada respon dari Lana. Seketika merasa sudah tak ada urusan Juan pun pergi dari hadapan Lana.
"Dih untung bos, setidaknya apa gitu responnya. Mungkin saking sibuk dengan berkas dan pusing kali ya. Pikir positif thinking aja lah." batin Juan memenangkan dirinya karena sikap acuh Lana kepadanya.
Semua sudah naik ke dalam bus dan segera sopir pun menyalakan mesinnya untuk berangkat ke tempat tujuan.
*
*
*
Dion yang mengamati Juan memegangi kepalanya, khawatir kalau Juan mabuk kendaraan.
"Kamu mabuk ya? Lah mana nggak ada kantong plastik. Bentar aku tanya pak sopir." cemas Dion.
Mendengar hal itu sontak Juan angkat bicara "Heh... aku nggak mabuk kendaraan."
"Lah ngapain megang kepala mulu? kalau bukan pusing."
"Tadi kepentok pas masuk bus." jujur Juan.
Mendengar jawaban Juan, Dion tertawa terbahak-bahak coba saja dia melihat Juan kepentok pasti tawanya akan lebih pecah dari ini.
*
*
*
"Nona nggak capek? istirahat bentar aja nona. Kasian nona kecapekan itu." Ucap Mawar yang cemas melihat bosnya yang terpaku pada berkas sedari tadi tanpa break sedetik pun.
"Aku sudah terbiasa, jangan risau. Kau tidur saja nanti kalau sampai aku bangunkan." jelas Lana yang masih saja membaca berkas pekerjaannya.
"Apa perlu saya bantu, nona."
"Tidak ini pekerjaanku, kau tanggung jawab saja pada apa yang menjadi tugasmu."
"Membantu nona adalah pekerjaan saya juga nona. Kan saya asisten."
Seketika Lana berhenti membaca berkas "Hmm... benar sih, tapi nggak apa-apa kok. Menjadi sibuk itu lebih melelahkan tapi menganggur jauh lebih melelahkan."
"Saya siapkan cemilan ya, nona. Biar nona bisa sambil ngemil." tawar Mawar supaya dia bisa berguna saat bosnya sedang sibuk.
__ADS_1
"Boleh." singkat padat dan jelas jawaban dari Lana.
Mawar langsung berdiri menuju ke depan dimana ada beberapa kotak cemilan yang disiapkan perusahaan untuk mereka yang melakukan perjalanan pekerjaan bersama. Mawar mengambil beberap cemilan terutama yang merupakan kesukaan Lana yaitu keripik singkong pedas manis.
"Selera nona memang sederhana. Tapi nona orang yang luar biasa." batin Mawar sambil mengamati kripik singkong itu membayang wajah Lana yang sering lembur dan selalu mengerjakan dengan teliti setiap pekerjaan.
Setelah dirasa sudah membawa yang dibutuhkan dia kembali ke tempat duduknya disamping bosnya.
"Ini nona, keripik singkong kesukaan nona." tawar Mawar dengan antusias.
"Hahaha... kau selalu ingat kesukaanku. Terima kasih." ucap Lana dengan hangat sambil mengambil satu kripik.
*
*
*
Bus sudah sampai ke tempat tujuan yaitu perkembangan lemon terbesar di Indonesia.
"Selamat datang di perkebunan kami, nona dan beserta para pegawai. Kami telah diberitahu perusahaan akan menjadi bagian kerja sama untuk produk baru perusahaan nona. Senang bisa bekerja sama denga nona." ucap pria paruh baya yang bernama pak Rudi.
"Senang juga bisa bekerja sama dengan Anda bapak Rudi." Lana menjawab dengan sopannya disertai senyum di wajahnya.
"Baik saya dan beberapa staff saya akan mengajak kalian berkeliling dan berkebun bersama untuk melihat kualitas lemon kami." tawar pak Rudi.
Semua dengan wajah senang menikmati tour ke perkebunan lemon pak Rudi. Serasa sedang menjalani studi tour saja. Semua bebas memetik untuk belajar berkebun namun sesuai dengan arahan dari staff agar tidak terjadi cacat pada lemon yang dipetik nantinya.
"Pak apa boleh saya melihat proses lemon dibersihkan dan juga pengemasan lemonnya?" tanya Lana dengan sopannya.
"Tentu saja boleh, nona." Pak Rudi menjawab dengan antusias.
"Juan!" teriak Lana untuk memanggil Juan yang ada diseberang sana.
"Iya, nona" sontak Juan langsung berlari menghampiri bosnya.
"Ada apa nona?" tanya Juan penasaran.
"Kamu ikut saya, kamu bawakan proposalnya?"
"Iya nona, ini." Juan menunjukkan berkas yang ada di tasnya.
"Baguslah, kalian bisa terus melihat-lihat dan berkebun untuk melihat kualitasnya."
"Baik, nona." ucap semua pegawai yang ada disana.
Pak Rudi menuntun Lana, bodyguard Lana, Juan dan Mawar menuju ketempat yang Lana inginkan.
__ADS_1
"Kita harus naik tangga ini supaya bisa melihat pemrosesannya. Kalau mau lihat lebih jelas juga bisa menghampiri staff yang melakukan pengemasan." tawar pak Rudi.
"Iya sudah kita ke atas saja dulu." jawab Lana.
Lana yang mulai melangkah ke tangga di cegah oleh bodyguardnya yaitu pak Bram.
"Nona, saya ada telpon dari istri saya. Saya angkat dulu tidak apa-apa kan nona?" tanya pak Bram memastikan apakah tidak apa-apa jika dia mengangkat telpon.
"Tentu, pak. Ada pak Sam juga lainnya." Lana tersenyum menanggapi pertanyaan pak Bram.
Dirasa sudah disetujui pak Bram melangkah meninggalkan Lana dan lainnya.
Semua awalnya baik-baik saja saat Lana mengamati semua staff dan mesin berjalan dengan sempurna juga kebersihan lingkungan juga terjamin di perkebunan juga ruangan pabrik.
"Loh itu mesin mengarah ke mana sih?" tanya pak Rudi yang keheranan juga.
Namun, salah seorang mengakibatkan mesin yang akan mengangkat lemon ke wadah pembersihan malah mengangkat lemon dan menjatuhkan lemon serta wadah besi tempat lemon itu jatuh tepat diatas pak Bram yang sedang menelepon istrinya.
brugh
"Aaaaaaaaaaaaa.............................."
Semua histeris karena melihat darah muncrat dan mengalir di lantai. Lana menyaksikan itu dengan mata kepalanya sendiri langsung syok.
2 orang yang berpakaian layaknya staff di perkebunan langsung naik ke tangga dimana Lana sedang berdiri.
Sontak pak Sam juga Juan bersiaga mengamankan Lana yang mungkin itu adalah saingan bisnis.
Sambil membawa senjata api mereka menodongkan kearah para staff juga kepada Lana dan lainnya. Serta mereka menembakkan peluru ke atas untuk memberi peringatan.
"Semua menunduk dan tiarap!" kata yang terucap dari salah satu diantara mereka yang tidak bisa dikenali karena mereka berdua menggunakan masker.
"Kami datang baik-baik, nona. Untuk menyampaikan pesan ini." sambil menunjukkan kertas yang dibawa salah satu dari mereka.
"Datang baik-baik katamu, kau lihat! kau membunuh orang."
"Oh.. itu peringatan nona." dengan suara yang bercampur dengan tawa lirih. Lana mendengar mereka tertawa lirih.
"Kami taruh kertas ini disini, dan jangan ikuti kami. Atau kalian bisa juga tidak apa-apa." ucap staff gadungan itu dengan sombongnya.
Mereka menaruh kertas itu dan langsung bergegas lari sambil menembakkan senjata api mereka ke segala arah. Juan langsung berlari ke arah mereka dengan cepat agar mengetahui siapa mereka. Pak Sam pun ikut berlari. Namun, pak Sam tertembak di bahu kanannya yang membuat dia berhenti di depan pabrik. Juan terus mengejar membawa pisau yang dibawanya saat tadi memetik lemon.
Senjata api yang dibawa sudah tak ada isinya lagi sehingga tak ada lagi suara tembakan. Juan mengarahkan pisau nya ke arah tali masker yang mana staff gadungan itu tepat berlari di depannya dengan jarak yang dekat.
srek...
Tali masker pun putus, staff gadungan langsung menoleh kebelakang menengok apa yang terjadi. Dan terkejut ada Juan dibelakangnya. Namun, dia langsung menghadap kedepan lagi supaya Juan tidak melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
"Kau... harus mati." teriak staff gadungan.