My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 49


__ADS_3

“Ini sudah bisa ke sekolah?” Bayu mengisi nasi goreng ke piringnya sembari memangku Lana. 


Dipandangi perban yang masih menempel di dahi putrinya. Rasa sakit mungkin telah pergi, terbukti kerewelan gadis kecilnya sudah menghilang sepanjang hari kemarin menurut info dari Mbok Sari. 


“Mau cekolah, Pa.” Lana bersuara dengan nada manja yang khas.


“Besok saja, ya. Hari ini istirahat sehari dulu di rumah.” Bayu menyuapi Lana yang pagi itu sudah mandi dan berganti pakaian bersih. Mbok Sari menyiapkan anak itu, menggantikan Shanuella yang memilih membuatkan sarapan untuk seisi rumah.


“Dengarkan Papa, besok saja baru sekolah.” Mbok Sari baru saja muncul dari arah belakang rumah dengan membawa sapu dan selembar kain lap tersampir di atas bahu. “Aku sudah membujuknya, Bay. Tapi, putrimu sama sepertimu keras kepalanya.” Perempuan tua itu terkekeh.


Lana cemberut. Walau belum bisa mencerna banyak kata, dia paham kalau saat ini sedang menjadi bahan perbincangan. Terlihat bagaimana Bayu yang tersenyum menatap ke arahnya sembari menyodorkan sendok berisi nasi goreng.

__ADS_1


“Makan yang banyak supaya cepat sembuh. Ini Mama khusus memasak untukmu, Sayang.” Bayu kembali mengaduk-aduk piring berisi nasi goreng, mengisi di sendok, dan menyuapi putrinya. Terus berulang hingga isi piring beralih di perut Lana yang tampak membuncit kekenyangan.


Tepat saat sarapan pagi itu usai, terdengar langkah kaki dengan suara ketukan high heels teratur. Shanuella tampil cantik dengan kemeja dan rok span selutut warna hijau tosca.


“Mama tantik.” Lana berkomentar. Melompat turun dari pangkuan Bayu dan berlari memeluk kedua kaki mamanya. Kepala gadis kecil menengadah ke atas. 


Di saat seperti ini, hati Shanuella tertikam sembilu. Gadis kecil yang berawal dari dosa masa lalunya telah tumbuh menjadi anak pintar dan menggemaskan. Sesaat, pikiran warasnya muncul. Andai dia menggugurkan kandungan lima tahun silam, penampakan gadis mungil di hadapannya tak akan pernah ada. Penyesalan hadir, mengingat niat buruknya dulu. Andai benar terjadi, dia telau merampas hak bernapas manusia yang tak bersalah.


“Mama mau ke kantor, ya.” Usapan lembut di puncak kepala, Shanuella berharap anaknya mengerti.


Lana cemberut.

__ADS_1


Balita menggemaskan itu menggeleng. Bibir mengerucut. 


“Mama harus kerja. Cari uang untuk beli mainan, buku sekolah, em ... apa lagi, ya?” 


Bayu yang masih duduk di tempatnya tampak berbalik dan memperhatikan istri dan anak yang sedang bernegosiasi. Sebagai kepala keluarga, sering kali dia menjadi penengah untuk keduanya. Mengulum senyuman, pria dewasa yang senantiasa bersikap tenang itu menyimak dari kejauhan. Tak lama, dia ikut bergabung dan menyodorkan solusi yang terbaik untuk semua.


“Sayang, Mama itu harus kerja. Tidak boleh bolos, kecuali sakit. Sama seperti Lana juga, tidak boleh bolos sekolah.” Langkah Bayu terhenti di depan anak dan istrinya. Memilih berjongkok di depan Lana, dia mencoba memberi pengertian. “Bagaimana kalau Nyana ikut antar Mama?” tawar Bayu dan membuat Lana mengangguk setuju.


Begitu mudahnya dia membujuk Lana.


Shanuella memandang Bayu tak berkedip. Tiba-tiba, ucapan Mbok Sari melintas kembali. Dia tidak memikirkan sebelumnya, menganggap kata-kata itu angin lalu. Namun, di saat ini semua berputar kembali.

__ADS_1


Apa memang sekarang saatnya aku membuka hati untuk Mas Bayu? Mau sampai kapan hubungan kami seperti ini. Waktu terus berlalu, Mas Bayu pun akan semakin tua. Umurku pun tak akan muda selamanya. Lalu, bagaimana dengan Lana? Selamanya, di hati putriku hanya ada Mas Bayu, bukan Blade.


...🍂🍂🍂...


__ADS_2