My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 76


__ADS_3

Shanuella tertunduk. Jari jemari saling menjalin di atas pangkuan. Gugup hadir dan membuatnya bungkam seribu bahasa. Jalinan kata itu bukan sekadar aksara tak bermakna, tapi tersirat pinta dan asa.


“Shan, aku tak pernah takut bersaing dengan ratusan orang yang mencintaimu.” Diam sesaat, Bayu mengamati sosok cantik di sebelahnya. Helaan napas berat menunjukkan kata selanjutnya itu butuh perjuangan untuk terlontar dari bibir. “Yang aku takutkan hanya orang yang kamu cintai, walau hanya satu.” Senyum getir menghiasi bibir, empunya mencengkeram erat setir. Bayu sadar mungkin saja dia tengah menentang takdir.


“Mas.” 


Hanya sepatah kata yang sanggup keluar dari bibir tipis Shanuella. Lirikan mata tampak mencari jawab di sela ribuan tanya.


“Hmm.” Bayu memusatkan perhatian pada jalan raya. “Aku akan mengantarmu ke kantor, Shan.”


Sedan hitam melesat menembus jalan ibu kota, menyusuri jalan kehidupan yang berwarna. Sedih, bahagia, air mata dan tawa bak sahabat baik yang saling menggenggam.


...🍒🍒🍒...


Buk.


Buk.


Dua pukulan beruntun dilabuhkan Rarendra tepat di perut bawah Bayu. Pria yang jadi sasaran tinju itu hanya bisa memasrahkan diri, menikmati tiap pukul yang merajam tubuh. Tak ada perlawanan, laki-laki yang berprofesi sebagai pengawal pribadi itu membeku.


“Bangun! Lawan aku!” teriak Rarendra dan melayangkan tendangan di pinggang Bayu yang baru saja menegakkan tubuh setelah sempat tersungkur.


Terjerembap, Bayu kembali terjatuh dan menimpa rerumputan yang menghijau. Taman belakang nan asri dalam sekejap menjadi sasana tinju.

__ADS_1


“Bangun!” Kedua tangan mencengkeram kerah pakaian dan menarik paksa. “Kenapa menyembunyikan Shan-Shan dariku?” Tanya itu terdengar kencang, lancang membelah kesunyian di taman belakang.


Bayu diam, menjilat sudut bibirnya yang pecah dan mencoba tersenyum manis walau hasilnya jadi meringis.


“Kenapa menyembunyikannya selama ini dariku?” 


Pria yang masih tampak gagah walau wajah tampannya mulai babak belur itu tak memberi jawaban. 


“JAWAB!” pekik Rarendra setelah beberapa menit tak menemukan kepastian. Dia diminta menebak-nebak apa yang terjadi selama lima tahun.


“Dia terluka dan aku cukup tahu diri dengan tak membawamu masuk ke dalam sana. Lima tahun yang kamu lewati seperti mimpi buruk dan semua itu karenamu.”


Rarendra terdiam. 


“Lima tahun ini dilewati dengan penuh perjuangan dan kamu berhasil menyerang jiwa raganya. Kalau hari ini dia ada, jangan bahagia dulu. Dia ada karena ....”


“Apa hubungan kalian?” Rarendra memotong.


Bayu bungkam. Urung melempar kalimat-kalimat yang berdesakan hendak keluar dari dadanya.


“Untuk apa? Apa yang kamu lakukan selama ini pada Shan-Shan ... apa belum cukup?” Bayu melontar tanya dengan lancang.


“Bayu!” Rarendra menggeram. Tangan-tangan mengepal dan siap melayang kembali.

__ADS_1


“Shan putus asa, menderita. Hidup serasa di neraka. Dia hampir gila dan kamu pikir kamu berhak saat ini?” Bayu menarik napas dan mengembuskannya pelan-pelan. Ini saatnya menunjukkan harga dirinya sebagai seorang suami.


“Bay?”


“Kenapa? Mau memecatku?”


Rarendra bergeming.


“Mau menghancurkannya lagi?” tanya Bayu, penasaran. “Aku tidak akan membiarkannya. Dia sudah menjadi milikku setelah kamu membuangnya bak sampah dan kotoran. Lalu kenapa sekarang sok peduli?” Kian berani, emosinya terpancing ketika penderitaan Shanuella yang terekam otak kini memenuhi benak.


“Aku ....” Kemarahan yang berakumulasi kali ini lebih kepada rasa cemburu yang bergejolak tak terima. Kebenciannya pada Shanuella telah lama musnah dan berganti sesal berkepanjangan. Balas dendam itu berhasil menghancurkan lawan dan dirinya bersamaan.


“Lepaskan Shan-Shan. Aku berjanji akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Aku janji akan membawanya pergi sejauh mungkin hingga kamu tak akan menemukannya lagi. Aku tahu ... kamu membencinya. Hanya saja, aku tidak tahu ... alasan apa sampai membuatmu tega melawan gadis lemah. Dia bukan tandinganmu, Bos. Dia terlalu manis untuk dijadikan lawan seorang Rarendra. Lepaskan dia, aku janji akan lenyap bersamanya dari duniamu.”


“Siapa kamu? Apa hubunganmu dengannya?” tanya Rarendra. Penasaran itu kian membuncah dan butuh jawaban sesegera mungkin. 


“Blade mungkin hanya anak muda yang tak memiliki apa-apa. Tapi, Rarendra punya segalanya. Untuk mencari tahu masa lalu Shan-Shan, aku pikir bukan perkara sulit.”


“Bay!” Rarendra menggeram.


“Aku bukan siapa-siapa. Mungkin nanti pun tak akan jadi siapa-siapa di dalam hidup Shan-Shan. Tapi, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkannya. Aku mencintainya.”


Buk.

__ADS_1


__ADS_2