My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 114


__ADS_3

“Aku … belum tahu.” Bayu mendorong amplop itu menjauh. “ Shan-Shan yang berhak menjawab, bukan aku.”


“Kamu suaminya, Bay. Bukankah harusnya kamu yang menjamin kebahagiaannya?” Rarendra menegaskan. “Aku ikhlas. Anggap saja, bagian dari penebusan kesalahanku.”


Lagi-lagi Bayu diam. Kalau Rarendra diserang penyesalan, dia pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Apalagi sejak mengetahui alasan pria di hadapannya, rasa itu semakin mencekik.


“Maafkan aku.” Bayu  tertunduk. “Bukan hanya Shan-Shan, aku pun sebenarnya memiliki salah yang sama besarnya. Aku terlibat langsung dalam konspirasi. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat banyak. Bos memerintahku untuk melindungi putrinya, bagaimanapun caranya. Aku tahu kesalahan Shan-Shan sulit untuk dimaafkan. Dia ….”


“Dia belum bisa menyetir dan memaksa membawa mobil. Laporan yang kuterima, dia setengah mabuk. Aku tidak tahu jelas apa yang terjadi, tapi dia harus tahu kalau kesalahannya telah merenggut tiga nyawa tak berdosa.” Rarendra tampak berkaca-kaca. “Karena mencintainya, aku baru bisa memaafkannya. Jujur, apa yang Shan-Shan dan keluarganya lakukan itu terlalu menyakitkan. Jangankan tanggung jawab, rasa bersalah pun tidak ada. Apakah ada yang memikirkan keluarga korban?” 


Bayu kian tertunduk. “Kenapa baru sekarang? Kalau cinta, kenapa tidak mencarinya?”

__ADS_1


“Saat aku tahu … aku mencintai Shan-Shan, aku benci pada diriku sendiri. Aku merasa seperti pengkhianat.” Cairan bening terjatuh dari sudut mata dan buru-buru diusapnya. “Aku butuh waktu untuk berdamai dan menerima kenyataan kalau rasa yang bergemuruh di hatiku adalah cinta.”


“Begitu mencintainya?” Hati Bayu diremas-remas. Perasaan yang sama juga tengah menguasainya.


“Andai bisa memilih, aku harap tidak jatuh cinta padanya. Ada banyak wanita di dunia ini, tapi kenapa rasa ini harus berlabuh pada Shan-Shan. Di situ terkadang aku merasa tak berguna. Aku … harusnya dia berakhir di ujung peluruku hari itu. Tapi, aku tidak sanggup melakukannya. Di situ aku tahu, aku benar-benar mencintainya.” Memutar kursi kebesarannya dan membelakangi Bayu, Rarendra terisak tanpa suara. Dia tak mau terlihat lemah karena wanita. 


Hampir sepuluh menit menumpahkan sesak di dada, dia berbalik dan mencoba terlihat biasa.


Tanya yang keluar dari bibir Rarendra terdengar bergetar. Tidak mudah untuknya mengorek kembali luka yang ditutupinya.


Bayu menelan ludah, mengamati perubahan demi perubahan di wajah Rarendra. Hingga satu kata maaf terlontar keluar tanpa sadar.

__ADS_1


“Maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Kusangka semua ini adalah persaingan bisnis, ternyata ada hal yang lebih dalam. Maaf, harusnya … aku jujur padamu dan Shan-Shan.”


Tertunduk, laki-laki dengan setelan rapi itu menyembunyikan sesalnya.


Aku tahu … aku egois. Aku menyembunyikan perasaan cintaku di balik kata membantu. Aku memanfaatkan keadaan dan memilih jadi pangeran berkuda putih untuknya. Tapi, apa aku salah? Aku hanya berjuang untuk cinta yang kurasakan diam-diam. 


“Lupakan saja, dia istrimu. Aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Dia bahagia bersamamu. Tidak lebih. Karena untuk maju pun, aku masih ragu. Dia adalah pembunuh kekasihku. Tidak adil kalau aku melabuhkan hatiku padanya.”


Bayu kembali bungkam. Entah kenapa, rasa bersalah yang selama ini tak pernah ada, tiba-tiba hadir.


Apakah selama ini aku egois? Aku memaksanya di sisiku dengan berbagai cara. Apa karena itu  Tuhan juga menghukumku? Lima tahun aku berjuang dan dia tidak pernah menganggapku sama sekali. Apa ini hukuman untukku?

__ADS_1


__ADS_2