My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
Jet ke Perkebunan


__ADS_3

"Kakek... Lana pulang!" seru Lana menggema di ruang makan.


"Gigi kakek bisa copot, Na. Bikin kaget aja kamu." Kakek mengelus dadanya karena dibuat kaget oleh cucu kesayangannya itu.


Lana hanya tersenyum melihat kakeknya mulai bercanda dengannya. Lali, Lana pun berjalan menuju kursi di samping kakeknya yang sedang makan itu.


"Restoran Tere baik-baik saja kan?" tanya kakek dengan cemas. Kakek mengganggap Tere juga sebagai cucunya, bahkan keluarga Tere dengan kakek pun sangat akrab.


Lana mencomot nugget "Mmm... restoran sih baik-baik aja, cuman... yang nggak baik-baik saja itu pemiliknya."


Sontak kakek pun kaget mendengar jawaban Lana "Tere kenapa? sakit atau keluarganya memaksakan sesuatu kepadanya?"


"Hahaha... iya Tere sedang sakit." jahil Lana kepada kakeknya.


"Sakit apa?" kakek penuh cemas mendengar ucapan Lana.


Lana yang melihat kakeknya cemas pun akhirnya jujur "Hati Tere sakit. Patah hati dia, Kek."


Kakek dengan wajah datarnya langsung menghadap ke piringnya lagi untuk menyantap makanannya "Lah... kamu buat kakek cemas tanpa alasan aja sih. Alex lagi ya?"


"Iya lah siapa lagi? dari dulu karena Alex dan selalu balik ke Alex."


"Anak muda sekarang ribet ya masalah percintaan mereka. Nggak kayak kakek sama nenek dulu yang -----"


"Lana ke kamar dulu ya, udah makan kok Lana di resto." potong Lana sambil berdiri dan mencium pipi kakeknya sebelum lari ke kamarnya.


Mwahhh


"Eh... dasar anak jaman sekarang, kalau diceritain masa lalu jaman dulu nggak pernah kepo." ucap sang Kakek melihat cucunya berlari ke tangga.


Lana sudah hafal kalau kakeknya bercerita sudah pasti nggak ingat waktu apalagi nanti kalau dikira ada yang lupa diceritain, pasti diceritain dari awal lagi kan jadi pusing dengernya udah diceritain eh diceritain lagi malas juga dengernya kayak diputar ulang mulu.


*


*


*


Pagi hari menyapa dan Lana sudah tiba di kantor bersama sang Kakek juga tak lupa kedua bodyguardnya. Kakek menuju ruangannya dan Lana pun juga menuju keruangan.


Lana sampai di ruangannya, pintu dibukakan oleh asistennya sehingga Lana bisa langsung masuk dan duduk di kursinya.


"Jadwalku apa hari ini?" tanya Lana ke Mawar asistennya, sambil memandangi berkas.


"Kita akan memantau salah satu bahan dan jumlahnya berapa yang kita butuhkan untuk membuat produk minuman."

__ADS_1


"Maksudmu produk minuman atas usul Juan." jelas Lana sambil terus memandangi berkas.


"Benar, nona. Kita akan ke perkebunan Lemon terbesar di Jakarta."


"Baik, jarak tempuh yang akan kita butuhkan berapa jam?"


"Sekitar 3 jam."


Lana kaget dengan hitungan waktu yang lama untuk sampai ke perkebunan itu "Apakah kita bisa naik jet pribadi saja, agar lebih mempersingkat waktu."


Mendengar jawaban dari bosnya Mawar tertawa lirih "Hahaha... nona ada-ada saja. Jet pribadi hanya boleh digunakan saat ada keperluan mendadak nona. Masa' ke perkebunan naik Jet, mau di parkir dimana nanti?"


"Arkkkgghhh... berkas yang harus aku teliti dan tanda tangani banyak sekali. Aku nggak mau lembur nanti." Lana memijit kepalanya yang di buat pusing oleh banyaknya berkas di mejanya.


"Yaudah segera persiapkan segalanya, kita segera berangkat dan bawa beberapa berkas agar aku bisa menyelesaikannya." tambah Lana sambil masih bersitegang dengan tulisan di kertas hadapannya.


"Baik, nona." Mawar menurut saja dengan semua perintah Lana. Namanya juga asistennya.


*


*


*


"Justru dengan kehadiran nona Lana semua akan berjalan baik, dia akan tahu potensi kita dan bisa aja naik jabatan kita." sombong Dion dengan smirknya.


"Dih.. kepala kau. Mana ada naik jabatan, orang kita masih pegawai kelas cucut baru juga masuk seminggu."


"Kagak percaya Tuhan lu, rencana Tuhan siapa sih yang tahu."


"Percaya Tuhan mah iya, percaya sama omonganmu bulshit iya."


"Dih... untung aku sabar, orang sabar pacarnya dua."


"He'em dah, lima biji sekalian juga terserahmu." Juan bodoamat menanggapi ucapan Dion.


"Biji? Kepala kau biji, aku masih suka perempuan woy."


"Maksudku haduh... iya-iya malas debat aku sama kau, titisan si buta dari goa."


"Goa apa hayo?" ledek Dion.


"Goa... IGOANA." ucap Juan dengan mulut yang terbuka lebar.


"Dih kagak lucu." sindir Dion

__ADS_1


"Bukan pelawak jadi nggak pengen ngelucu." sahut cuek dari Juan yang malah dibalas tawa renyah dari Dion.


Ting....


Bunyi notifikasi pesan baru dari Juan dan Dion yang berbunyi bersamaan.


"Kamu juga dapat pesan dari Bu Mawar?" tanya Juan sambil melirik ponsel Dion.


"Masih muda kok Ibu si manggilnya." sahut Dion saat mendengar Juan memanggil mbak Mawar dengan sebutan ibu-ibu.


"Lah perkara panggilan Bu doang si, dia juga nggak permasalahin itu."


"Tapi dia masih muda seumuran sama kita, bestie dong berarti sama kita."


"Oh seumuran, bestie juga. Panggil mas!"


"Astaga, bukan gitu juga Jubaedah."


*


*


*


Satu mini bus sudah disiapkan Mawar dengan mengintruksikan kepada bagian kendaraan perusahaan untuk menyiapkan mini bus berserta sopir dan pemandu jalan.


"Sudah lengkap semuanya? Cek siapa yang belum datang dan cek barang yang akan kalian bawa." tegas Lana menghimbau para pegawainya.


"Susah ya jadi orang penting, tuh lihat berkas kerjaan aja masih dibawa." ucap Dion melihat berkas yang ada di tangan Lana.


"Orang sukses itu nggak pernah buang waktu, selagi bisa dikerjakan yaudah semua dilakukan secara bersamaan."


"Pengen deh kayak gitu, sukses punya uang tak terhitung tapi aku sadar aku terinfeksi virus maelas."


Juan hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan temannya itu yang ada-ada saja tingkahnya. Walaupun Dion orang yang random tapi dia suka kalau Dion menjadi teman dan partner nya karena dia bisa tertawa atau tersenyum saat ada temannya yang pe'ak itu.


"Baik, dirasa tidak ada jawaban. Mari sekarang antri masuk ke dalam bus." jelas Lana sambil meneliti lagi berkas yang ada ditangannya.


Semua pegawai berbaris rapi sesuai perintah bos mereka. Bodyguard Lana pun ikut menertibkan para pegawai supaya berbaris dengan rapi tanpa saling dorong mendorong.


Tiba-tiba Juan menghampiri Lana dengan membawa sebuah berkas ditangannya.


"Mbb... nona. Ini proposal tentang bahan di perkebunan lemon. Apakah proposal ini saya bawa saja mengingat nona masih banyak pekerjaan ditangan Anda." Jua mengamati berkas itu adalah berkas penting di perusahaan untuk di teliti dan di beri tanda tangan jika menyetujui isi berkas itu.


Lana yang sedari tadi fokus ke berkas langsung berpaling dan menatap Juan.

__ADS_1


__ADS_2