My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
T A M A T


__ADS_3

“Pintar sekali anak ini.” Rarendra memandang pergerakan putrinya yang berlari menjauh. “Hati-hati larinya, Nak. Nanti jatuh!” Rasa waswas mengiringi langkah kecil Lana. Tak lama, gadis kecil itu menghilang di balik pintu, meninggalkan pasangan calon pengantin itu dalam kecanggungan.


Hening menyelimuti, dua tangan kekar Rarendra mengeratkan dekapan pada Shanuella yang sudah duduk di bibir tempat tidur dan membelakangi. Perasaannya sedikit lega saat mendapati calon istrinya tak melawan. Dia menjatuhkan dagu di pundak wanita yang dicinta dan mengecup mesra.


“Terima kasih untuk kesempatannya. Aku bersumpah ... tidak ada apa-apa di antara kami. Andai aku tahu Kathy akan mengacau sampai sejauh ini, tentunya sudah kuselesaikan sejak lama. Bagiku, dia tidak pernah ada. Hubungan kami hanya sebatas kesepakatan. Tidak ada rasa di dalamnya. Aku membayarnya sesuai kesepakatan.”


“Tapi, dia menyukaimu, Koko. Aku mengenalnya. Sorot mata Kath tidak bisa berdusta.”


Rarendra menelan ludah. “Masalah perasaannya, aku tidak bertanggung jawab. Itu milik. Tidak ada hubungan denganku. Yang terpenting untukku saat ini adalah kamu dan perasaanmu.”


Shanuella diam.


“Berjanjilah padaku, Shan. Jangan pergi setiap ada masalah. Aku merasa jadi laki-laki tidak berguna saat kamu memilih Bayu menjadi tempat untuk berlabuh dan menumpahkan semua keluh. Aku cemburu ....”


Menelan ludah, Shanuella tiba-tiba dihantam rasa bersalah.


“Kali ini aku maafkan. Tapi, kalau lain kali ... tidak boleh terjadi. Aku ingin ... aku satu-satunya tumpuanmu dalam suka dan duka, tangis dan tawa, senyum dan air mata. Berjanjilah padaku, Shan. Aku akan membayar semua dengan kesetianku.”


Mencerna semua pinta, Shanuella mengangguk pelan. Pernyataan setuju itu disambut dengan kecupan bertubi yang berlabuh di kedua pipi. Pria yang tengah memeluk erat dari balik punggung itu tak menyia-nyiakan kesempatan.


Saat hati mencoba ikhlas, langkah kaki terasa ringan. Semua masalah pasti ada pemecahan, terlebih menyangkut perasaan yang acap kali mudah terluka. Kepercayaan dan keterbukaan adalah kunci utama dalam satu hubungan, syarat utama menggapai kebahagiaan.


***


Hari yang dinanti akhirnya tiba. Perhelatan di salah satu hotel bintang lima yang hanya mengundang kerabat dan sahabat dekat itu berjalan sempurna. Setelah siang harinya mengucapkan janji suci di sebuah kapel, Rarendra dan Shanuella menggelar resepsi untuk merayakan hari penting mereka disahkan sebagai suami istri.


Ballroom terlihat mulai dipenuhi tamu undangan. Dekorasi dengan tema rosegold dengan hamparan bunga indah memanjakan mata. Pasangan pengantin terlihat bahagia. Senyum keduanya bertaut, tampak menawan dalam balutan gaun dan jas pengantin. Lana yang malam itu tampil cantik sempurna pun terlihat menggemaskan ditemani Mbok Sari dan Bayu.

__ADS_1


Alunan musik mengiringi resepsi yang mengusung konsep prasmanan. Aneka hidangan dari berbagai belahan dunia memanjakan lidah para tamu. Sempurna, seperti doa semua orang untuk pasangan pengantin yang terus melontarkan senyuman bahagia.


Di antara para tamu, seorang gadis bergaun merah muda tampak mencolok. Bukan karena kecantikannya yang memikat mata kaum pria, keberadaannya wara-wiri memasang raut kecewa.


“Sudah, Edel. Sudah. Jangan membuat Papa malu.” Harry menenangkan Edelweis. Dia tak mau sampai putri semata wayangnya yang biasa disapa Edel itu membuat masalah.


Pria tua itu terpaksa menyeret Edelweis dikarenakan khawatir dengan rencana gadis muda itu ke kelab malam yang bisa saja berujung mabuk-mabukan.


“Sudah bagaimana? Harusnya aku sudah bergoyang bersama teman-temanku di kelab, bukan terkurung di sini dengan orang-orang yang pamer kecantikan dan ketampanan serta pencitraan.” Edelweiss menyembur sembari menyesap habis jus jeruk di dalam genggamannya. “Minuman apa lagi ini? Hanya manis saja, tak ada tantangan sama sekali.”


“Jangan macam-macam. Nikmati saja pestanya. Yang menikah itu teman bisnis Papa. Jadi, bisa dipastikan orang-orang di dalam sini adalah orang penting dengan masa depan cemerlang.”


“Papa menyindirku?”


Kekesalan belum hilang, Harry memancing emosi sang putri.


“Edel, bukan itu maksud Papa.” Hari merapikan batik suteranya. Tak pernah menang setiap berdebat dengan Edelweis. “Ada banyak orang-orang hebat di sini. Coba lihat-lihat, siapa tahu ada yang menarik minatmu.”


“Lihat dulu, Edel. Mana tahu ada yang sesuai dengan seleramu. Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Sudah sepantasnya ....”


“Aku tidak perlu melihat. Mencium aromanya saja, aku tahu orang-orang di dalam sini hidupnya membosankan, Pa. Ya ....” Edelweiss memainkan tangan kirinya, menggerakkannya pelan. “Membosankan seperti hidupmu, Pa. Aku ingin hidup bebas, tidak dikurung di dalam sangkar emas. Untuk apa banyak uang, tapi sulit bernapas.”


Harry menggeleng. Edelweiss sudah mengajaknya berdebat.


“Hidup itu ada aturannya, Edel.”


“Aturan itu untuk diterobos sampai bablas. Kaku sekali hidupmu, Pa. Pantas saja sampai setua ini tidak ada wanita yang betah menua bersama.” Edelweis menyindir.

__ADS_1


“Edel!” Harry menggeram saat kehidupannya disindir oleh putrinya sendiri. Mereka tidak pernah sejalan dalam berbagai keputusan dan pilihan.


“Sudahlah. Aku mau pulang. Untuk apa berlama-lama di sini. Tidak menyenangkan sama sekali. Pamit, Pa.” Edelweiss mengangkat gaunnya dan bersiap melepas high heels yang membungkus kedua kakinya. Namun, niat itu harus tertunda saat seruan pembawa acara lewat pengeras suara menarik minatnya.


“Lempar bunga?” Jiwa petarung Edelweis meraung. Berjalan ke tengah, dia ikut menyesak di tengah kerumunan para muda-mudi yang siap berebutan bunga tangan sang pengantin wanita. “Aku harus mendapatkannya,” ujar gadis itu, terbakar.


Edelweiss sudah memasang ancang-ancang, siap menyambut buket bunga yang akan dilempar pengantin wanita saat lengannya disenggol dari belakang. Gadis bergaun merah muda itu jelas tak terima. Berbalik, wajah cantiknya tampak siap berperang.


"Apa lagi ini? Kenapa dorong-dorong?"


"Maaf." Bayu tampak tenang menghadapi anak singa yang siap mengaum. "Yang di belakang mendorongku."


Edelweis tak terima. Diamatinya penampilan pria dewasa yang sedang berdiri gagah dengan jas hitam jelaga.


"Orang mau rebutan buket bunga pengantin, kenapa ada aki-aki kesasar di sini?" Edelweis bermonolog. "Maaf sekali, Om. Ini kawasan anak muda, lajang, perawan, perjaka. Mohon dengan sangat, Om harus ingat umur. Memangnya mau kawin berapa kali?" Edelweis melontar ucapan pedas, sembari mengibaskan tangan mengusir pria asing yang mengusik perasaannya.


"Memang tidak boleh?" Bayu menanggapi dengan senyuman tertahan di wajahnya. Gadis cantik ini serupa Shanuella lima tahun yang lalu.


"Tidak boleh, Om. Ini khusus untuk anak muda. Om lebih pantas di sana." Edelweis menunjuk kumpulan bapak-bapak paruh baya berbatik senada yang sedang bercengkerama sembari menikmati sajian pesta.


"Aku masih lajang." Bayu membela diri.


Edelweis ternganga. "Lajang?"


Bersamaan dengan itu terdengar suara riuh yang dikomandoi pemandu pesta. Tanpa perlu berusaha, sebuah buket bunga mawar putih mendarat di dada Bayu dengan mulus. Sontak, memancing kesal Edelweis yang mengincar rangkaian puspa itu sejak tadi.


"HAH! Itu milikku, Om." Edelweis menunjuk kumpulan mawar yang diikat pita dan dihiasi kain berenda di tangan Bayu.

__ADS_1


***


Terima kasih sudah menemani perjalanan kisah Rarendra dan Shanuella. Bayu bagaimana nasibnya? Ada di dalam kisah Menangis dalam Gerimis. Kalau rindu, bisa dm di IG : casanova_wety.s.hartanto.


__ADS_2