
Bayu bergegas masuk ke dalam kamar perawatan begitu mendapat laporan dari perawat. Hati berdenyut ketika mendapati Shanuella sudah tergeletak di atas lantai, tak sadarkan diri.
“Shan, bangun.”
Meraih tubuh Shanuella yang lemah, digendongnya agar wanita tersebut tak terlalu lama merasakan dinginnya lantai rumah sakit. Dengan hat-hati direbahkan di sofa hitam di salah satu sudut kamar. Kepanikan jelas tertera dari mata hitam legam yang terus tertuju ke satu titik. Tangan menepuk pipi, menyerukan nama sang istri.
“Shan, bangun.” Bersimpuh di samping sofa, perhatian Bayu tak berpindah. Diabaikannya perawat yang ikut panik di sisinya.
“Sebentar, Pak. Saya ambilkan minyak kayu putih. Longgarkan pakaiannya. Terus bangunkan.” Perawat muda itu bergegas keluar tanpa menunggu reaksi pria dewasa di sebelahnya.
Kekhawatiran bukan hanya milik Bayu, Rarendra yang sejak tadi membisu, memandang sedih dari kejauhan. Fisiknya tak mendukung. Andai kesempatan itu ada, dia ingin menjadi orang yang selalu menjaga dan melindungi Shanuella.
“Maafkan aku, Shan. Percayalah, hatiku lebih sakit melihatmu seperti ini. Selama ini aku banyak bersalah padamu. Aku harap, ada waktu di mana kita bisa duduk berdua. Berdamai dan mengulang kembali masa lalu. Sayangnya, kesempatan itu hampir tak ada lagi. Pilihanmu menikah dengan Bayu, menutup semua pintu asaku.” Rarendra berbisik pelan, tatapannya meredup.
__ADS_1
Tak sanggup menatap pemandangan Shanuella dan Bayu, Rerendra memilih memejamkan mata. Jantung berdetak kencang, hatinya berdenyut. Nyeri itu masih enggan pergi. Setiap membuka mata, dia bisa melihat kemesraan pasangan suami istri tak jauh darinya.
“Bay, kalau Shan-Shan sudah siuman. Bawa di pulang, kasihan. Di rumah pasti lebih nyaman. Dia bisa beristirahat dengan tenang.
"Tapi, Bos?” Bayu keberatan.
“Aku bisa jaga diri sendiri. Ada perawat juga.”
“Bos yakin?” Bayu mengusap-usap tangan Shanuella untuk membangunkan.
Rarendra mengangguk tak bersuara.
“Pulanglah, ini sudah malam. Tapi, tolong izinkan aku menjelaskan semuanya pada Shan-Shan kalau keadaanku membaik.”
__ADS_1
Kata-kata yang membuat Bayu yang tengah memusatkan diri pada Shanuella sontak mengangkat pandangan. Ada ketakutan di dalam dirinya ketika melihat keyakinan yang begitu besar di diri Rarendra. Dia khawatir kehilangan meski sadar sejak awal tak pernah memiliki. Wanita di dalam dekapnya itu memang bukan miliknya.
“Jangan menyakitinya.”
“Tapi, dia berhak tahu semua. Shan-Shan berhak tahu kesalahannya, kesalahan orang tuanya. Dia berhak tahu kenapa perusahaan dan asetnya bisa jatuh di tanganku. Semua hal yang selama ini masih abu-abu, dia berhak tahu.” Rarendra menerangkan. “Bahkan, dia berhak tahu salahnya di mana. Menghilangkan nyawa orang lain itu harus bertanggung jawab, bukan melarikan diri.”
Bayu tercengang. Selama ini dia sendiri tak tahu menahu alasan yang melatarbelakangi semua perbuatan Rarendra. Baik sebagai rekan kerja mau pun atasannya kini. Tak pernah mau bertanya lebih, dia sadar diri dan cukup tahu diri di mana posisinya.
“Mak ... maksudnya?”
Bayu mengerutkan dahi, memandang bingung ke arah brankar. Sejenak, perhatiannya pada Shanuella beralih. Pembicaraan dengan Rarendra jauh lebih menarik dan mengusik penasaran.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Bayu. Tangannya terus mengusap pipi Shanuella yang lembut seperti bayi, berjuang menyadarkan raga yang tengah tak sadarkan diri. Pria itu tak tahu apa yang sedang dibahas hingga membuat istrinya hilang kesadaran.
__ADS_1