
Masuk ke dalam kamar saat waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Bayu berjalan dengan mengendap-endap. Dia tak mau sampai suara langkah kakinya mengusik tidur anak dan sang istri. Kamar sederhana tanpa banyak muatan itu hanya diisi sebuah tempat tidur sederhana dengan lemari pakaian tidak terlalu besar dan meja yang difungsikan untuk berias.
Lampu kamar yang menguning memberi kesan teduh dan syahdu. Sejenak, beban di pundak pria itu terangkat. Pemandangan pertama yang menyambut adalah dua sosok yang tergolek di atas tempat tidur. Bayu berjalan mendekati, melabuhkan kecupan di pipi dan kening untuk dua orang yang kini mengisi hidupnya. Shanuella dan Kelana menjadi alasan untuknya tetap berjuang. Sumber kebahagiaan yang akan membayar semua lelahnya selama ini.
“Selamat tidur, Shan. Mimpi indah.” Bayu berbisik pelan.
Berpindah posisi, pria itu menyasar makhluk mungil dengan luka di wajah. Diusapnya pelan di sekitar luka dan melabuhkan kecupan pelan di sana. Berbeda dengan Shanuella tak terusik, Kelana merespons berbeda. Gadis kecil itu awalnya hanya merengek saat menyadari sosok asing yang telah mengganggu tidur. Namun, saat mata indahnya membuka sempurna dan mendapati sang papa, dia menangis.
“Sssstt, jangan menangis, Nak. Kasihan Mama.” Bayu meraih tubuh mungil putrinya dan menggendong balita itu. Dibiarkan merebah di bahunya yang kekar, mencari kehangatan dan kenyamanan.
Isak berganti rengek pelan, butuh beberapa menit untuk Bayu menenangkan. Berdiri di depan jendela kamar, Bayu menimang Lana sembari bergoyang pelan.
“Jangan menangis. Mama mau tidur. Kasihan, besok harus kerja.” Bayu menepuk-nepuk pelan punggung putrinya agar gadis kecil itu tenang.
Perlahan, tangisan itu reda dengan sendiri Hampir dua puluh menit menimang dengan sabar, Lana pun terlelap kembali.
“Kamu sudah tidur?” Telapak tangan Bayu masih mengusap punggung Lana, pandangan terarah pada wanita yang tengah terlelap di sisi kiri tempat tidur. Shanuella dengan napas teraturnya, tak terusik sama sekali.
Tak mendengar jawaban, Bayu meletakkan kembali balita itu ke tengah ranjang. Sangat hati-hati, tak mau sampai Lana terbangun kembali. Tepat saat akan turun dari tempat tidur, pria itu bisa mendengar suara keluar dari wanita cantik yang sejak awal terlelap.
__ADS_1
“Tidur di sini saja, Mas. Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan. Lana masih sering menangis dan menanyakanmu.” Shanuella membuka mata, menatap langit-langit kamar.
“Kamu tidak tidur? Sebentar lagi pagi.” Bayu merebahkan tubuh di sisi ranjang yang lainnya. Terkadang sungkan itu datang setiap dia merasakan jarak yang dibangun Shanuella. Akan tetapi, di saat memberanikan diri dan bersikap lancang, wanita itu pun tak menolak walau terasa sekali keberatan di tiap pergerakan.
“Kantukku pergi mendengar tangis Lana,” jawab Shanuella dengan jujur.
“Apa sebaiknya ... aku bawa dia tidur bersamaku?” tawar Bayu. Pria yang tengah berbaring dengan kedua tangan bertekuk menyanggah kepala itu menoleh ke samping. Didapatinya wanita cantik itu menghela napas lelah berulang. “Bagaimana? Jadi, kamu bisa istirahat dengan nyaman,” tawarnya lagi.
“Tidak apa-apa. Biarkan Lana tetap di sini.”
“Yakin? Aku tidak masalah kalau malam ini dia tidur denganku. Kamu bisa istirahat dengan nyaman.”
Shanuella memejamkan mata. “Bisakah kamu dan Lana pergi selamanya dari hidupku? Aku muak. Setiap melihat kalian berdua, aku teringat padanya.” Kata-kata yang membuat Bayu tersentak. Selama ini wanita itu berusaha bersikap tegar, tetapi hari malam ini semuanya terlihat berbeda. Ada kerapuhan dan putus asa di dalam kata-kata istrinya itu.
“Semua pria itu sama. Yang membedakan hanya rupanya.”
“Kamu marah padaku?” Bayu melempar tanya.
“Tidak.” Shanuella menggeleng lemah.
__ADS_1
“Tidak, jelas kamu marah padaku. Karena pelukanku tadi?”
Shanuella diam.
“Karena kecupanku tadi?”
Lagi-lagi Shanuella tidak menjawab.
“Karena pertanyaanku tadi di dapur?” tebak Bayu lagi.
Shanuella menoleh ke sebelah. “Aku mau menjenguk Mama di rumah sakit. Sudah lama tidak melihatnya.”
“Shan, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu marah padaku?”
Bibir tipis Shanuella mengukir senyuman. “Tidak. Jangan khawatir. Aku hanya akan berpura-pura di sisa hidupku ke depannya. Aku akan pura-pura tersenyum, pura-pura tegar seperti kata-katamu dan Mbok Sari.”
“Apa masalahmu? Katakan saja. Aku akan coba ....”
“Aku muak dengan hidupku. Aku muak berpura-pura lagi. Aku ingin kembali ke masa lalu. Aku muak dengan semuanya. Kenapa Tuhan tidak mengambilku pergi saja? Jadi tidak perlu bertemu denganmu, dengan Lana, dan dengan semua orang. Hidup yang aku jalani sekarang adalah hidup yang paling aku benci. Selamanya harus berbohong.”
__ADS_1
“Shan, kamu kenapa? Ini bukan kamu.” Bayu mengernyit. Selama ini, dia selalu melihat Shanuella yang berbeda. Wanita tegar, tak banyak protes, selalu menjalani skenario Tuhan dengan ikhlas. Dia tidak menyangka kalau di dalamnya ada bara yang siap membakar semuanya.
“Tidurlah. Aku menyayangimu. Mbok Sari menyayangimu, Lana juga.” Bayu mengabaikan kata-kata Shanuella yang menyakitkan. “Aku tahu ini berat untukmu, tapi tolong yakinkan pada hatimu. Aku, Mbok Sari, dan Lana itu tulus mencintaimu. Kami bukan Blade.”