My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 98


__ADS_3

“Dia berani menghilangkan nyawa dan menganggap itu seperti membuang sampah. Tak ada penyesalan, bahkan tidak ada sepatah kata maaf yang keluar dari bibirnya dan Daddy terkait kecelakaan dulu. Ingat, kan?”


Deg.


Bayu mulai paham arah pembicaraan. Diamatinya Rarendra sembari mengingat-ingat.


“Kamu siapa?” tanyanya, penasaran. “Ada hubungan apa dengan keluarga Shan-Shan?” 


Berusaha mengingat-ingat awal mula pertemuan pertama mereka. Rarendra melamar menjadi bodyguard. Tadinya di bawah kendalinya, tetapi tiba-tiba pria yang menyamar jadi Blade hanya sedang menipu semua orang.


“Aku Rarendra Tanuwijaya.”


“Aku tahu.” Bayu memasang wajah serius. “Maksudku, untuk apa masuk ke dalam kehidupannya?”


“Dia yang memaksa masuk ke dalam hidupku, bukan sebaliknya.” Tatapan Rarendra menerawang ke langit-langit kamar. “Asal kamu tahu, dia yang memulai denganku. Bukan aku.”


“Tapi, kamu sengaja menjeratnya.” Bayu menegaskan. “Kamu menebar pesonamu.”


“Aku hanya pengawal pribadi, pesona apa yang aku miliki kala itu. Aku hanya ... seorang bawahan.” Rarendra menegaskan.


“Ya, pengawal yang menghancurkan. Kamu hidupnya, kamu ambil hartanya.”


“Wait, wait. Aku?” Rarendra tak terima.

__ADS_1


“Ya.” Tatapan sendu Bayu tertuju pada Shanuella yang masih betah memejamkan mata.


“Kalau bukan aku, mungkin bank yang akan menyitanya sampai tak bersisa. Perusahaan itu sudah lama keropos. Kalau masih sekuat dulu, tak mungkin aku bisa masuk ke sana. Kamu dan Shan-Shan harus tahu satu hal ... perusahaan itu sakit. Pak Bos hanya menunggu detik-detik kehancuran.”


“Tapi, kenapa harus kamu? Kenapa tidak orang lain saja?”


Rarendra menggeleng. “Pak Bos yang datang ke perusahaanku dan minta bantuan. Bukan sebaliknya ... aku menawarkan diri.”


Bayu tersenyum kecut. “Kamu yang merekomendasinya.”


“Aku hanya kasihan. Karena aku tahu ... cepat lambat semuanya akan hancur. Kalau bukan aku, semua jatuh ke tangan orang lain. Akan lebih menyedihkan lagi,” tegas Rarendra. “Jangan kira aku untung besar, apa yang aku keluarkan tidak setara dengan apa yang aku sita. Kalau bukan karena Shan-Shan, untuk apa aku mendanai perusahaan yang sudah menunggu hancur.”


Bayu menggeleng. “Aku tidak percaya padamu.” 


“Tidak mungkin. Bagaimana dia bisa tidak mengenali kalau dalang di balik semua ini adalah ....”


“Aku bukan dalang kehancuran perusahaan, itu ulah Sunjaya. Kalau kehancuran Shan-Shan, itu memang salahku.” Rarendra berterus terang. “Dan aku memiliki alasan untuk itu.” 


“Tapi, kematian Sunjaya ada sangkut pautnya denganmu. Jangan berkelit, aku tahu kalau kamu mengirim foto ....” Bayu menggigit bibir dan menatap wajah istrinya yang terbaring tak sadarkan diri.


“Sakit jantungnya bukan disebabkan olehku. Jadi, tidak bisa salahkan aku. Lagi pula, perusahaan sedang mengalami krisis, masalah Sunjaya itu banyak, bukan perkara aku tidur dengan Shan-Shan,” tegas Rarendra.


“Tapi, tetap saja pemicunya ....”

__ADS_1


Perdebatan terhenti ketika seorang perawat masuk dan membawakan sebotol minyak kayu putih. Bayu tak lagi bisa mendebat semua ucapan Rarendra.


“Setelah Shan-Shan siuman, bawa dia pulang. Tak perlu jelaskan apa-apa, karena kamu juga tak tahu duduk persoalan seperti apa.” Rarendra menarik napas dan mengembuskan perlahan. “Setelah kondisi tenang, aku akan jelaskan padanya apa yang terjadi. Kami memang harus bicara empat mata untuk meluruskan apa yang keliru selama ini.” 


“Tapi .....” Ucapan Bayu menggantung ketika mendapati Shanuella bereaksi. Kelopak mata wanita itu mengerjap, bibir tipisnya berbisik.


“Blade ....”


“Shan, kamu sudah bangun?” 


“Di mana Blade? Obrolan kami belum selesai.” Ucapan lirih itu terdengar menyayat hati.


“Aku tidak akan ke mana-mana. Aku selalu ada di sini.” Rarendra bersuara.


Shanuella buru-buru bangkit. Tubuhnya limbung sesaat kedua kaki menapaki lantai.


“Shan, nanti saja. Kita pulang, istirahat di rumah. Kalau sudah sehat, baru bisa menuntut penjelasannya.” Bayu ikut berdiri dan memapah istrinya. Tangan melingkar di pinggang ramping Shanuella, raut sarat kekhawatiran.


“Aku mau semuanya terang benderang. Saat ini, detik ini, tidak bisa menunggu lagi.”


Kekerasan hati Shanuella terjeda ketika perawat muda menyodorkan segelas air mineral yang diisinya dari dispenser.


“Diminum dulu, Bu. Rileks, jangan emosi. Tenangkan diri, ambil napas dan embuskan teratur.”

__ADS_1


__ADS_2