
Seperti cintaku padamu … aku terluka dan kamu menderita. Kenapa Tuhan menghukumku dengan menumbuhkan cinta di hatiku. Bukan pada wanita lain, tapi pada wanita yang harusnya aku benci. Pergi dari hidupku, Shan. Aku benci dengan rasa ini, aku benci dengan rindu ini.
Shanuella membeku, menatap punggung gagah yang samar-samar tampak bergetar sedang berjalan menjauhinya. Dia bingung, untuk apa air matanya berderai. Setelah punggung Rarendra menghilang di balik pintu, tatapannya beralih pada Bayu. Laki-laki yang telah mengikat diri dengannya selama lima tahun terakhir ini tampan memandangnya sedih.
“Mas.” Bergetar, sapaan singkat itu memicu air mata kembali turun. “Dia … bukan Blade.” Shanuella terbata-bata.
Bayu tersenyum getir. Berdiri sekitar dua meter dari Shanuella, pria itu tak memiliki keberanian untuk memeluk seperti biasa. Hanya menatap dengan sorot sedih menyembunyikan pedih.
“Katakan apa yang ingin kamu katakan. Aku akan mendengarkan walau mungkin ….”
Bayu menggigit bibir, tak sanggup melanjutkan kata-kata penyemangat di saat hatinya sedang hancur. Dia tahu jelas air mata Shanuella ditujukan untuk siapa. Bukan untuknya, bahkan bukan untuk Rarendra. Rintih dan raungan perih itu untuk laki-laki ciptaan yang tak pernah ada wujudnya. Blade hanya fiktif, tetapi cinta yang diperuntukkan untuk pria tersebut nyata dan sangat besar. Sampai-sampai sanggup menghadirkan bahagia di tengah luka.
__ADS_1
“Aku berharap dia Blade, Mas.” Shanuella terisak. Air mata terus bercucuran, tak sanggup dibendung.
“Kenapa kalau dia Blade?” Selaksa cinta tengah mencabik-cabik hati Bayu dan membuat luka menganga di sana.
Shanuella menggeleng. Rambut panjang tergerainya berayun pelan.
“Kalau begitu, anggap saja aku Blade. Boleh membunuhku, boleh membenciku, boleh melampiaskan semua rasa yang selama ini menyesak di dadamu. Aku ikhlas,” ucap Bayu, dengan suara putus asa. Kedua tangan pria itu membentang pasrah.
“Mas.” Terpaku beberapa detik sebelum akhirnya menghambur dan memeluk Bayu. “Aku membencinya, Mas,” lirih Shanuella, menumpahkan tangis di pelukan Bayu.
Tidak ada jawaban, Bayu merasakan kepala Shanuella menggeleng kencang di dalam dekap.
__ADS_1
“Tidak apa-apa kalau masih cinta. Aku mengerti. Dia cinta pertamamu dan aku tidak berhak mengusirnya pergi karena dia sudah mengambil tempat tersendiri di dalam hati istriku. Dia datang sebelum aku. Aku tahu itu.” Kata-kata menenangkan itu keluar dari bibir dengan penuh perjuangan. “Bahkan, aku harusnya berterima kasih padanya. Aku bisa memelukmu, berbagi suka dan duka, tawa dan air mata bersamamu … karenanya, ‘kan?”
Shanuella menggeleng.
“Jangan mencarinya lagi. Sampai ke ujung dunia pun kamu tak akan menemukan Blade. Sampai menutup mata, kamu tidak akan menemukannya. Kamu hanya akan buang-buang waktu, Blade sudah mati atau mungkin dia tak pernah ada di dunia ini sebenarnya.”
Wanita cantik di dalam pelukan Bayu hanya terisak.
“Katakan padaku, apa yang ingin kamu katakan kalau bertemu dengannya?” Bayu mengusap punggung istrinya yang tengah terguncang di dalam pelukannya.
Shanuella terisak. “Aku ingin mengatakan padanya, aku membencinya. Jangan pernah mengingatku lagi. Aku ingin dia menyesal karena telah membuangku dan Lana. Aku ingin melihatnya menangis di bawah kakiku. Aku ingin dia tahu ….”
__ADS_1
Bibir Shanuella terkatup rapat ketika Bayu membungkamnya dengan kecupan sekilas. Kepala pria itu menggeleng dan memaksa tersenyum di tengah hati yang terluka karena ucapan kejujuran sang istri di tengah deraian air mata.
“Jangan katakan apa pun tentang Blade. Aku tahu semua yang ada di dalam hatimu tanpa perlu repot-repot menjelaskan. Lima tahun kita bersama, aku paham dirimu luar dan dalam. Hatiku … sama terlukanya denganmu.” Ibu jari pria itu pelan-pelan mengusap air mata yang mengucur deras di pipi istrinya. Diamatinya lekat-lekat dan tersenyum getir. “Aku mencintaimu, Shanuella.”