My Beloved Bodyguard

My Beloved Bodyguard
MBB 108


__ADS_3

Pagi menjelang siang, Shanuella baru saja selesai melakukan pertemuan dengan beberapa perwakilan kontraktor lain yang juga berada di proyek yang sama. Membahas banyak hal dan ada beberapa perubahan yang harus dilaporkannya ke atasan. Melangkah keluar bangunan yang kini mulai berbentuk dan terlihat bersih dari tanaman liar, wanita itu masih sempat berhenti di depan pintu ruangan yang dulu menjadi kamar tidurnya.


Bayangan masa lalu berputar ulang, wanita dengan helm proyek itu tenggelam dalam kisah lampau. Bagaimana indahnya dunia tanpa masalah dan selalu dipenuhi cinta. Ada daddy dan mommy, walau wanita yang melahirkannya itu berada jauh dalam jangkauan. Menderita gangguan kejiwaan dan dia harus kehilangan sosok mama sejak masih belia.


Di tengah lamunan, salah satu perwakilan dari tim desain tiba-tiba menyapa. 


“Bu, mau pulang sama-sama?” 


Tawaran disertai senyuman itu menyentak Shanuella. Menggeleng cepat, wanita itu buru-buru menjawab dengan suara lemah.


“Tidak, terima kasih.  Aku bisa pulang dengan taksi.” Rasanya ingin bernostalgia, menikmati kehidupan tanpa masalah. Tak ada beban dan air mata, hari-harinya diisi tawa. Memejamkan mata, dia berlama-lama menikmati kenangan.


Mengabaikan ucapan berpamitan yang ditujukan padanya, Shanuella masih tenggelam dalam kisah lampau hingga tak menyadari suara langkah kaki mendekat. Dia tersentak ketika mendengar suara serak begitu jelas di telinga.


“Shan, apa kabar?” Tanya itu terdengar familier. Shanuella menoleh ke sumber suara. Wajah berubah kaku, beberapa detik kemudian dia refleks menjauh.

__ADS_1


Melangkah mundur, wanita itu tak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Menatap lekat sosok asing yang tiba-tiba muncul di hadapan, Shanuella terkejut ketika kakinya tak sengaja menubruk setumpuk semen. Oleng, tubuh hilang keseimbangan. Dia beruntung saat sepasang tangan merengkuh pinggang dan membuatnya urung terjatuh.


“Aaahhh!” Menjerit spontan saat tubuhnya ditarik ke depan dan menabrak tubuh kekar. Dahi beradu dengan dada bidang yang menebar aroma parfum familier.


Jantung berdetak kencang, Shanuella tercengang. Apalagi saat merasakan dekapan di pinggang, tubuhnya menegang. Rarendra, bukan orang lain. Pria itu tak melepas walau tubuh wanita di dalam dekap sudah tegak berdiri.


“Pak ….” Shanuella berjuang mengontrol diri dan menahan suaranya agar tak terdengar sedang gugup. Namun, tetap saja nada bicaranya bergetar.


“Blade. Aku Blade.” Rarendra tersenyum. Sedikit menunduk, dia menatap dalam-dalam wanita di dalam pelukan yang tengah menengadah ke arahnya.


“Blade?” Shanuella menurut.


“Hmm.” Rarendra bergumam dan tersenyum. “Aku merindukanmu, Shan.” Tangan kiri berpindah dari pinggang dan kini menyentuh wajah Shanuella.


“Blade.” Hanya sepatah kata itu saja yang sanggup dikumandangkan Shanuella. Tatapan tak berpindah, terkunci pada wajah tampan Rarendra.

__ADS_1


Menelan ludah, sang pria pun melakukan hal yang sama.


“Lima tahun ini … apa pernah merindukanku?” tanya Rarendra.


Anggukan kepala tanpa suara menjawab tanya tersebut. Pandangan Shanuella berkaca-kaca


“Aku minta maaf karena membuatmu menunggu. Aku sama sepertimu. Sulit memisahkan benci dan cinta itu. Aku rasa … kamu pun merasakan hal yang sama sekarang.”


Shanuella diam.


“Aku hampir gila saat menyadari perasaanku sendiri. Aku membencimu, sekaligus mencintaimu. Aku ingin menyayangimu, tetapi berjanji pada Celina untuk menyakitimu. Aku ….”


“Apa dulu pernah … mencintaiku?” Shanuella mengulang pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.


Rarendra tersenyum getir. “Aku berusaha membencimu, ingin menyakitimu. Kenyataannya … aku mencintaimu. Saat menyakitimu … rasa sakit yang sama juga aku rasakan.” Menurunkan tangannya dari wajah Shanuella, dia mengusap dadanya. “Di dalam sini, hanya ada namamu. Tidak ada tempat untuk yang lain. Maafkan aku, Shan.” 

__ADS_1


Tiba-tiba laki-laki itu bersimpuh dan memohon ampun.


__ADS_2