
Hidup menuntut banyak hal darinya. Shanuella dipaksa menjalani skenario yang tak diinginkannya. Kehidupan yang berubah dalam sekejap mata. Dari nona besar yang dikawal ke mana-mana dan memiliki segalanya, kini dia bermutasi jadi wanita biasa dengan seorang putri menggemaskan. Gadis kecil yang membuatnya tetap berjuang setelah tragedi besar di dalam hidup.
“Aku jemput!” tegas Bayu dengan tangan menggenggam sendok berisi nasi goreng yang siap diluncurkan ke dalam mulut putrinya.
“Mas, aku harus keluar kota. Ada proyek yang membutuhkanku. Ibu Fro sedang tidak bisa ke sana, Dragon sedang sakit.” Shanuella menjelaskan.
“Tidak apa-apa. Setelah pulang kerja, aku mampir ke kantormu, Shan.” Panggilan ‘non’ yang dulu melekat pada Shanuella terhempas dengan sendirinya. Bayu mulai bisa menempatkan diri sebagai kepala keluarga sekaligus ayah dari Lana.
“Terserah Mas saja.” Shanuella menanggapi santai, melanjutkan sarapannya.
♟️♟️♟️
__ADS_1
“Ini Pram, pemilik RD Group, dan ini Barata, pemilik BW Group.” Ditya Halim Hadinata memperkenalkan dua pria dewasa yang siang itu datang bersamanya.
“Rarendra Tan.” Pria tampan dengan setelan jas hitam itu melepas kacamata dan meletakkannya di atas meja. Menyalami satu persatu pria dewasa di hadapannya, dia melepaskan senyuman singkat.
“Reynaldi Pratama. Panggil Pram saja.” Pria tampan itu menyambut senyuman ramah Rarendra dengan seringai serupa.
“Barata Wirayudha. Bisa memanggil Bara saja supaya lebih akrab.” Bara tersenyum singkat.
Rarendra mengangguk. “Begini, sebagaimana yang Ditya sampaikan sebelumnya. Aku berencana merenovasi. Rumah ini sudah lima tahun kosong. Dan menurut penjaganya sudah banyak kerusakan. Aku tidak tahu harus diapakan. Aku serahkan saja pada ahlinya. Ya ... sederhanalah. Aku bukan tipe yang menyukai sesuatu yang wah.” Pria itu menegakkan duduk. Mengambil tempat di samping Ditya, dia duduk menghadap dua tamunya dengan tangan saling menaut di atas meja.
Pram mengangguk. “Mungkin orangku harus survey ke lokasi baru bisa dirapatkan setelahnya. Kapan orangku bisa ke sana? Aku akan mengirim beberapa orang untuk mengecek kondisi di lapangan. Baru bisa menyusun RAB dan segala macamnya setelah itu.” Pria dewasa itu duduk menyilangkan kaki, jemarinya mengetuk santai meja kaca di hadapannya.
__ADS_1
“Kapan saja bisa.” Rarendra bersuara. Kedua bibirnya menempel rapat, pandangan beralih pada pria dewasa di sebelah Pram. “Pak Bara perlu survey juga?”
“Perusahaanku baru bisa masuk setelah konstruksi bangunan mencapai sekian persen. Aku akan koordinasi dengan Pram.” Perusahaan Barata yang bergerak di bidang desain tampak menepuk pundak rekan dan sahabatnya yang duduk di sisinya.
“Oke, berarti tidak ada masalah, ya.”
Obrolan sederhana di kala jam makan siang itu berjalan hangat. Tak hanya membahas masalah pekerjaan, keempatnya terlibat pembicaraan hangat dengan berbagai topik yang sedang naik. Sengaja memilih restoran di salah satu hotel berbintang agar pertemuan itu terkesan santai sembari menikmati makan siang.
Dua jam berlalu, obrolan seru keempatnya harus terganggu saat ponsel Rarendra berteriak nyaring. “Maaf.” Pria itu bangkit dan berjalan menjauh.
Berdiri di depan jendela lebar, Rarendra menyambut panggilan dari pengawal pribadinya. Orang kepercayaan yang mengabdi padanya selama lima tahun terakhir.
__ADS_1
“Ya, Bay. Ada apa?” tanyanya dengan wibawa tetap terjaga.