
Satria berdiri memandangi foto foto Aruna yang tertempel di dinding kamarnya.
Foto yang Ia ambil saat Aruna tengah terlelap tidur.
Satria memang gila, Ya dirinya gila karena sangat menyukai Aruna.
Sudah lama, sangat lama Satria menyukai Aruna.
Waktu itu Ia masih berumur sepuluh tahun, dengan menaiki sepeda pemberian mendiang Ayahnya, Satria menyusul Ibunya bekerja dirumah Aruna.
Satria sudah terbiasa hidup sendiri dan mandiri sejak kecil, Ayahnya sudah meninggal saat dirinya masih berumur lima tahun dan Ibunya terpaksa bekerja jadi Ia hanya dirumah bersama neneknya.
Satria mengayuh sepedanya, saat hampir sampai sepeda yang Ia kayuh menabrak batu hingga membuatnya terjatuh dan lututnya lecet.
Satria melihat ke kanan kiri tidak ada siapapun akhirnya Ia menangis merasakan perih lututnya.
"Jangan menangis." Suara cempreng seorang gadis yang terlihat menghampiri dan duduk disamping Satria. Melihat gadis kecil itu tentu saja membuat Satria malu hingga akhirnya menghentikan tangisnya.
"Tunggu sebentar..." gadis yang mungkin berumur delapan tahun itu berlari memasuki rumah tempat ibunya bekerja, Satria langsung bisa menebak jika gadis itu adalah anak dari majikan ibunya.
Gadis itu kembali datang dengan membawa obat merah serta plester bergambar hello kitty.
"Aku akan mengobati lukamu." Kata gadis itu mulai memberikan obat merah lalu menempelkan plester hello kitty nya.
"Apa tidak ada plester gambar lain?"
Gadis itu menggeleng, "Mungkin dikotak obat ada tapi aku tidak bisa mengambilnya."
"Ya karena kau pendek jadi tidak bisa mengambilnya."
"Hey jangan mengejek ku, kau juga masih pendek sama sepertiku." Protes gadis itu membuat Satria tertawa.
"Siapa namamu?"
"Aruna."
"Apa itu rumahmu?" Tanya Satria menunjuk ke arah rumah.
Aruna mengangguk,
"Ibuku bekerja disana."
__ADS_1
Aruna mengerutkan keningnya,"Apa kau putra Mbok Inem?"
Satria mengangguk,
Aruna langsung tersenyum lebar, "Ayo masuk, Mbok Inem pasti sangat senang melihatmu datang." Ajak Aruna.
Semenjak saat itu Satria mulai menyukai Aruna. Bahkan hampir seminggu sekali Satria datang hanya untuk bermain dengan Aruna.
Hingga akhirnya saat Satria hendak mengungkapkan perasaan sukanya, Aruna ternyata sudah menyukai pria lain membuat Satria sangat patah hati.
Setelah lulus sekolah, Satria bekerja dihotel. Disana Ia belajar banyak termasuk cara membuka pintu yang terkunci juga tentang cctv kecil yang sering dipasang dikamar hotel.
Dengan pengetahuannya itu, Satria akhirnya bisa membuat akses keluar masuk ke kamar Aruna saat malam hari tanpa ketahuan siapapun.
Dan sejak saat itulah, Satria sering menguntit Aruna. Melihat segala aktifitas Aruna saat dikamar bahkan saat Aruna mandi, Satria melihat, Satria sudah melihat semuanya.
Semakin hari perasaan Satria semakin menjadi, Ia tak hanya ingin melihat saja namun juga timbul rasa ingin memiliki.
Namun setelah kedatangan Bian, rasanya Satria sudah tidak aman lagi apalagi Satria tahu jika mereka bukan saudara kandung dan Satria juga beberapa kali melihat keduanya berciuman membuat Satria marah dan ingin mengambil jalan pintas agar bisa memiliki Aruna.
Satria ingin memperkosa Aruna, membuat Aruna hamil hingga terpaksa menikah dengannya. Itu yang Satria pikirkan saat ini.
Dan inilah waktu yang tepat, Aruna tinggal di apartemen sendiri menjadi kesempatan untuknya segera mengakhiri masa penantiannya itu.
Satria memandangi foto Aruna sekali lagi lalu Ia segera keluar dari rumahnya. Satria melajukan motornya menuju apartemen Aruna. Sesekali Ia melihat ke arah spion untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya lagi.
Sesampainya disana, Satria sudah dihadang oleh dua satpam yang berjaga.
Tak ingin berbelit belit, Satria memperlihatkan identitas ojek online yang hanya ingin mengantar makanan ke atas dan berhasil, tanpa curiga kedua satpam itu membiarkan Satria masuk.
Satria tersenyum lebar, ternyata tidak sia sia Ia membuat identitas ojek online nyatanya bisa membuatnya semudah itu melewati keamanan di apartemen ini.
Satria menaiki lift, Ia segera menuju ke apartemen nomor dua ratus tujuh. Kemarin Ia juga sudah memeriksa kamar itu, sudah berhasil menduplikat kunci kamarnya jadi malam ini Ia hanya perlu masuk untuk melancarkan aksinya.
Satria melihat jam dipergelangan tangannya, sudah pukul setengah sembilan. Biasanya dijam ini Aruna sudah terlelap.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Satria segera masuk ke apartemen.
Ia melihat didalam sangat sepi. Mata Satria segera tertuju pada pintu kamar.
Dengan langkah pelan, Satria mendekati pintu kamar itu.
__ADS_1
Baru ingin membuka pintu kamarnya, Satria mendengar suara dari dalam kamar,
"Uhh kau semakin nikmat sayang." Suara yang didengar oleh Satria bersamaan dengan suara kenikmatan seorang wanita.
"Tidak mungkin, Aruna tidak mungkin melakukan itu." Batin Satria menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang Ia dengar.
Satria mengepalkan tangannya, semakin lama suaranya semakin jelas bahkan Ia pun ikut membayangkan kenikmatan yang ada didalam sana.
Tanpa sadar, Satria yang memegang ganggang pintu tak sengaja membuka pintu itu dan...
Sepasang pria dan wanita yang tengah bercinta didalam tampak terkejut begitu juga dengan Satria yang tak kalah terkejut melihat ternyata yang ada didalam bukanlah Aruna melainkan orang lain yang tidak Ia kenali.
Wanita yang polos tak mengenakan apapun itu berteriak dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut sementara pria pasangannya terlihat mengumpat, sangat marah.
Pria itu mengambil jubah mandinya, segera memakainya dan langsung menghampiri Satria yang masih berdiri disana menatap dua orang yang tak Ia kenali itu.
Bugh... bugh... dua bogeman melayang mengenai pipi Satria hingga Satria tersungkur dilantai.
"Brengsek! Siapa Lo! Beraninya Lo masuk kesini!" Sentak pria menarik kerah baju Satria hingga Satria dipaksa bangun.
Satria tentu saja kalah karena tubuh pria itu sangat kekar sementara tubuhnya kecil.
"Aku bener kan mas ada penguntit." Adu wanita yang kini sudah mengenakan piyama itu.
"Sa saya tidak mengenal siapa kalian, saya kesini karena ini apartemen teman saya." Jelas Satria masih merasa bingung. Satria jelas mengingat jika kemarin Aruna berhenti didepan nomor dua ratus tujuh.
Pria itu kembali memberi bogeman sebelum akhirnya menyeret Satria keluar.
"Cowok brengsek kayak Lo emang harus dikasih pelajaran biar nggak meresahkan istri orang." Ucap pria itu membuat Satria ketakutan.
"Ampun Tuan, jangan laporkan saya." Kata Satria yang kini sudah dibawa keluar.
Penolakan Satria membuat ricuh hingga banyak orang yang keluar untuk melihat keributan yang terjadi bahkan wanita yang merasa kesal itu segera menghubungi teman temannya yang berada di apartemen atas agar mereka turun dan melihat pria penguntit yang siang tadi Ia ceritakan.
Saat ini perasaan Satria campur aduk, antara malu, marah dan takut. Semua orang menatapnya dengan tatapan jijik dan marah.
Rencananya yang Ia pikirkan akan berakhir bahagia bersama Aruna namun nyatanya malah berakhir sial seperti ini.
Satria hanya menunduk tak berani menatap ke arah orang orang.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen