
Selesai mengurus semua berkas yang dibutuhkan polisi, Ryan bergegas untuk pergi dari kantor polisi.
"Kau tidak ingin menemui Papa mu lebih dulu?" Tawar Ryan mengingat sedari tadi Bian hanya menunggu diluar setelah David dibawa ke sel penjara.
"Tidak!" Balas Bian dingin.
"Ohh jadi kau hanya ingin mengantar calon Papa baru mu ini." Goda Ryan.
Bian menatap Ryan kesal, "Sebaiknya kau segera masuk ke mobil atau aku akan meninggalkanmu disini." Kata Bian membuka pintu mobilnya namun tiba tiba tangan Ryan menepuk pundaknya.
"Jika sedang galak seperti itu kau semakin mirip dengan mama mu!"
Bian tak mengubris celotehan Ryan, Ia memasuki mobilnya dan diikuti oleh Ryan.
"Dari mana Om mendapatkan rekaman cctv itu?" Tanya Bian penasaran.
"Om? Kau memanggilku Om?" Ryan terlihat senang.
"Berhentilah bersikap menyebalkan!" Kesal Bian membuat Ryan tertawa.
"Aku suka dipanggil Om tapi aku lebih suka jika kamu mau memanggilku, Ayah atau mungkin Papi?" Goda Ryan.
Bian menatap Ryan malas, Ia memilih melajukan mobilnya.
"Jadi apa kau masih penasaran dari mana aku mendapatkan rekaman itu?"
Bian hanya diam saja membuat Ryan kembali tertawa, "Apa kau marah huh!"
"Ck, jangan membuatku kesal Om!"
Ryan masih tertawa, "Aku mendapatkan dari salah satu mantan security diperusahaan Rega. Awal kecelakaan Rega aku sudah menyelidikinya namun tidak mendapatkan apapun dan lima tahun yang lalu mantan security itu mengirimkan rekaman itu padaku, aku juga tidak tahu kenapa mantan security itu memberikan rekamannya padaku, setelah itu aku kembali menyelidiki kasus kematian Rega dan Amina."
"Dan ternyata Papa ku yang sudah membunuh mereka!" Sambung Bian, sorot mata Bian terlihat sangat kecewa.
"Jangan terlalu membenci Papamu, mau seperti apapun yang Ia lakukan dimasa lalu, dia tetap Papamu. Dia melakukan itu karena ingin memberikan yang terbaik untuk hidupmu hanya saja caranya salah." Nasehat Ryan pada Bian.
"Sejak aku tahu tentang kejahatan Papa, aku sama sekali tidak menyentuh uang yang diberikan Papa. Aku bekerja keras membangun perusahaanku sendiri tanpa bantuan Papa."
Ryan tersenyum, "Tapi dia tetap Papamu, sesekali datanglah menjenguk berikan support untuknya." Kata Ryan.
"Papaku sudah merebut Mama dari mu, kenapa kau masih baik pada Papaku?" Heran Bian pada Ryan.
"Jika kejahatan dibalas kejahatan mungkin dunia akan hancur, berbeda jika kejahatan dibalas dengan kebaikan mungkin akan bisa menyentuh hati orang jahat itu agar dia bisa berubah lebih baik lagi."
Bian terdiam, merenungi ucapan Ryan yang sangat dalam dan menyentuh hatinya.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Apa kau akan merestui hubungan ku dengan mama mu?"
Bian berdecak, "Aku masih memikirkannya."
"Aku harap kau tidak membuang kesempatan untuk memiliki Ayah baru sebaik diriku." Kata Ryan sambil tertawa.
"Kau terlalu percaya diri!"
...
Karma memang berjalan sangat cepat, seperti yang baru saja Adam katakan padanya.
Kemarin Ia menfitnah Adam, menjebloskan Adam ke penjara dan sekarang Ia malah satu sel dengan Adam. Sungguh David merasa sangat sial.
"Jadi bagaimana Om, kenapa Om bisa berada disini?" Ejek Adam sambil menepuk nepuk lengan David.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu!" Ucap David sedikit menjauh dari Adam.
Adam tertawa, "Jadi kau pura pura lupa? Atau bahkan sudah melupakanku? Baiklah apa perlu aku memukul kepalamu agar kau mengingat apa yang sudah kau lakukan padaku?" Tanya Adam sambil mengepal kepalkan tangannya.
David bergindik ngeri melihat tangan kekar Adam yang Jauh berbeda dari tangan Adam sebelum masuk penjara.
"Apa yang kau katakan anak muda, disini penjara ada banyak polisi jangan macam macam."
"Kau pikir jika berada disini semua polisi masih memihakmu? Coba adukan saja apa yang baru saja kau dapatkan ini, apa kau akan mendapatkan perhatian dari mereka?" Ejek Adam tertawa puas melihat pria tua seperti David tengah kesakitan karena pukulannya.
"Sial, tidak bisakah kau lebih hormat padaku? Aku bahkah lebih tua darimu!"
"Menghormati kau bilang? Apa kau lupa kau bahkan yang membuatku disini!"
David berdecak, "Jika saja kau tidak mengancamku waktu itu aku tidak mungkin melakukan ini padamu."
Bughh...bugh... kali ini Adam menendangi tubuh David. Adam sangat marah jika mengingat kejadian itu.
"Jika kau bisa memberikan Aruna untuk ku, aku tidak akan mungkin mengancam mu!" Umpat Adam terus menendangi David hingga Ia merasa puas dan lega.
"Mulai sekarang aku lah yang berkuasa disel ini. Jika kau tidak menuruti semua perintahku, bersiaplah hidup menderita disini." Tegas Adam lalu kembali duduk ditempat semula, memandangi David yang mengeluh kesakitan.
Tepat pukul dua belas siang semua tahanan keluar dari sel mereka dan berjalan ke ruang dimana mereka akan makan siang bersama para tahanan lainnya.
Pria dan wanita bercampur jadi satu saat jam makan siang.
David membawa sepiring nasi dengan sayur lodeh dan seiris tempe goreng, Ia duduk disalah satu kursi yang ada disana.
Tak berapa lama, Adam pun ikut duduk disampingnya.
__ADS_1
Adam menatap piring David, Ia mengambil tempe di piring David hingga hanya tersisa nasi dan sayur lodeh yang tak berasa.
David hanya diam saja saat Adam mengambil makanannya karena melawan pun juga percuma, tenaga Adam lebih kuat dari tenaganya.
David mulai menyuapkan makanannya, tiba tiba Ia melihat ada salah satu napi wanita yang sangat tak asing untuknya.
David berjalan mendekati napi wanita yang sangat mirip dengan Mia dan saat sudah dekat, memang benar jika itu Mia.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya David menatap Mia terkejut begitupun juga dengan Mia.
"Kau juga berada disini?"
David mengangguk lemas, "Apa yang terjadi padamu? Kupikir kau meninggalkan ku." Ucap David.
"Dasar pria tua bodoh, aku mengharapkan kamu datang dan membawaku keluar dari sini tapi kamu malah menyusulku kesini!" Umpat Mia merasa sangat kesal dan kecewa.
"Sayang apa yang kau katakan itu, aku benar benar tidak tahu jika kau berada disini, siapa yang sudah membuatmu berada disini?" David hendak menggapai tangan Mia namun Mia langsung menolak.
"Jangan menyentuhku! Tanganmu sangat kotor!" Umpat Mia lagi.
"Katakan apa yang terjadi padamu?" Tanya David masih tak menyerah.
"Karena pembantu sialanmu itu aku bisa berada disini. Kemana saja kau? Sejak mengenalmu hidupku benar benar sial!"
"Sayang jangan kata-"
"Ada apa ini?" Adam memotong ucapan David dan merangkul mesra Mia.
"Jangan menyentuh kekasihku!" David tak terima saat Adam merangkul Mia bahkan Adam mencium pipi Mia didepannya.
"Apa dia kekasihmu?" Tanya Adam menunjuk David.
"Bukan, mana mungkin aku memiliki kekasih tua seperti ini." Ucap Mia membuat David menatapnya tak percaya.
"Makananku sudah habis, sekarang giliran ku untuk memakanmu, aku memiliki gaya baru yang bisa kita coba, bagaimana jika kita ke kamar mandi sekarang dan melakukannya?" Tanya Adam dengan suara nakal.
"Baiklah sayang, ayo kita lakukan."
Adam dan Mia segera pergi meninggalkan David yang terlihat sangat emosi.
"Pengkhianat!"
Bersambung...
.jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1