MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
53


__ADS_3

Keisha baru saja selesai bersiap ke kampus, Ia segera keluar dari rumah buru buru berangkat karena takut terlambat.


Keisha melihat didepan sudah ada mobil Sadam.


Keisha segera memasuki mobil Sadam dan melihat Sadam tersenyum ke arahnya.


"Kau sudah menunggunya?" Tebak Keisha.


Sadam mengangguk, "Apa aku sudah bisa mendengar sekarang?" Sadam terlihat tak sabar.


Keisha tersenyum lalu memperlihatkan jemarinya dimana belum ada cincin pemberian dari Sadam.


Sadam tersenyum kecut, "Apa aku ditolak?"


Keisha menggelengkan kepalanya membuat Sadam bingung.


"Aku ingin kamu berjanji lebih dulu padaku."


"Janji seperti apa?"


"Kamu sudah tahu bagaimana aku dan kehidupanku saat ini. Aku hanya minta jika kamu menikahiku, jangan pernah mendua." Ucap Keisha dengan mata memerah ingin menangis.


"Aku tidak ingin bernasib sama seperti ibuku." Tambah Keisha yang membuat Sadam mengerti apa yang Keisha rasakan. Keisha trauma, melihat Ibunya harus bekerja keras sendiri sementara Ayahnya sibuk dengan wanita lain.


"Bagaimana? Apa kau sanggup setia? Apa kau akan merasa cukup jika hanya aku?" Tanya Keisha.


Sadam terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia mengangguk mantap, "Aku sanggup."


Keisha tersenyum, Ia mengambil kotak bludru berisi cincin pemberian Sadam. "Aku ingin kamu yang memakaikan untuk ku, agar kamu selalu ingat janji yang kau ucapkan saat ini." Kata Keisha mengulurkan kotak itu.


Sadam menerima kotak itu lalu dibuka dan diambil isinya, Sadam memasangkan cincin dijari manis Keisha.


"Jangan terlepas sampai kapanpun." Kata Sadam lalu memeluk Keisha.


Tanpa disadari air mata Keisha mengalir, merasakan bahagia telah dicintai oleh Sadam, mengingat selama ini Ia tidak pernah diperlakukan sebaik ini oleh seorang pria.


....


Pagi ini Aruna tidak pergi ke kampus, Ia memilih pergi ke klinik untuk menjaga Mama Anneta.


"Mungkin aku tidak bisa kesana hari ini karena sangat sibuk, aku sangat berterimakasih pada kekasihku karena bersedia membolos kuliah hanya untuk menemani calon mama mertuanya yang sedang sakit." Celetuk Bian saat Aruna akan turun dari mobil. Ucapan Bian tentu saja membuat Aruna tergelak.


"Apa yang terjadi padamu kak? Apa kakak membentur sesuatu?" Heran Aruna.


"Tidak, aku hanya mengatakan yang sebenarnya, jangan menganggapnya lucu, aku akan marah jika kamu menganggap ucapanku lelucon." Kata Bian memasang wajah serius.

__ADS_1


"Baiklah, aku keluar sekarang!" Kata Aruna tak ingin membuat Bian semakin kesal.


"Sepertinya kau melupakan sesuatu."


Aruna mengerutkan keningnya, menatap Bian heran,


Tak menunggu lama, Bian menarik tangan Aruna lalu mencium kening dan lanjut ke bibir.


Pipi Aruna langsung saja merona,"Kak..."


"Apa? Mau lagi?" Goda Bian, Aruna langsung menggelengkan kepalanya dan keluar dari mobil sebelum Ia kembali dibuat salah tingkah oleh Bian lagi.


Bian tersenyum geli, entah mengapa melihat Aruna seperti itu membuatnya senang


Aruna berjalan menuju ruang rawat Mama Anneta, Ia segera masuk dan melihat Papa David masih duduk disana menemani Mama Anneta.


"Pagi Ma... Paa..." sapa Aruna berjalan mendekat membawakan beberapa pakaian ganti yang sudah disiapkan oleh Mbok Inem pagi tadi.


"Syukurlah kamu datang baby girl, Papa ada meeting sebentar lagi jadi mungkin akan-"


"Apa kau akan pergi meninggalkanku?" Potong Anneta saat David belum menyelesaikan ucapannya.


"Kau ingin pergi saat aku sedang sakit seperti ini?" Tanya Anneta lagi dengan mata memerah ingin menangis.


"Tidak, aku tidak ingin siapapun. Aku hanya ingin kamu menemaniku disini." Kata Anneta menatap David tanpa menatap Aruna sedikit pun.


Aruna merasa sedikit sakit hati, pertama kalinya Ia merasa tidak di inginkan oleh Mamanya.


Namun Aruna mencoba mengerti, Mama baru saja kehilangan bayinya, mungkin dia sedikit sensitif.


"Baiklah jika seperti itu, Aruna pergi ke kampus." Kata Aruna berjalan semakin mendekat lalu mengenggam tangan Mama Anneta.


"Cepatlah sehat Ma..."


"Maafkan Mama Runa, Mama hanya ingin ditemani Papa." Anneta merasa dirinya salah tidak menerima Aruna saat ini, Anneta hanya ingin ditemani David itu saja.


"Tidak apa apa Ma, Aruna ngerti." Kata Aruna lalu mencium tangan Anneta lanjut Ia juga mencium tangan Papa David dan segera pamit.


Sebelum ke kampus, Aruna pulang kerumah lebih dulu untuk mengambil tas dan beberapa keperluan kampusnya.


"Non Aruna balik lagi?" Tanya Mang Torik yang sedang menyapu halaman depan.


"Iya, mau ambil tas soalnya Mama nggak mau ditemenin aku, maunya ditemenin sama Papa." Ungkap Aruna.


"Nanti saya anter ke kampus Neng." Kata Mang Torik yang langsung diangguki oleh Aruna.

__ADS_1


Aruna memasuki rumah, melihat Mbok Inem sedang mengepel lantai, "Non Runa pulang? Apa ada yang ketinggalan Non?"


"Enggak Mbok, Mau ambil tas buat ke kampus soalnya Mama nggak mau ditemenin sama aku." Ungkap Aruna dengan nada kecewa.


"Yang sabar Non, mungkin perasaan nyonya lagi sensitif jadi maunya cuma sama Tuan."


Aruna mengangguk, "Iya Mbok, Runa juga ngerti."


Aruna segera ke atas untuk mengambil tasnya lalu kembali ke bawah. Ia keluar dari rumah dan tak melihat ada Mang Torik.


"Neng baru aja Mang Torik ijin, mendadak dapat kabar kalau anaknya sakit jadi langsung pulang." Kata Mang Asep yang baru saja berlari ke arahnya.


"Ohh gitu Mang, ya udah Runa naik taksi aja."


Baru ingin keluar rumah, seorang pria muda yang menaiki motor matic memasuki gerbang.


"Eh Mbak Runa, mau ke kampus?" Tanyanya yang tak lain adalah Satria anak dari Mbok Inem yang memang sering kerumah untuk menemui Mbok Inem.


"Iya nih, udah lama kamu nggak kesini Sat?" Tanya Aruna mengingat beberapa minggu ini Ia tidak pernah melihat Satria datang.


"Sibuk Mbak," balas Satria sambil tersenyum lebar. "Nggak dianter sama Mang Torik Mbak?"


"Enggak, Mang Torik ijin."


"Mau dianter nggak Mbak, biasanya kalau jam segini taksi jarang lewat." Tawar Satria.


Aruna sempat melihat jam tangannya, memang sudah sangat terlambat untuk ke kampus yang akhirnya membuat Aruna menganggukan kepalanya setuju.


"Boleh deh Sat, kalau nggak ngrepotin."


"Nggak akan ngrepotin lah buat neng geulis." Kata Satria sambil cengengesan.


Aruna hanya menggelengkan kepalanya, Ia memakai helm yang baru saja diberikan oleh Satria.


Satria mulai melajukan motor maticnya. Tidak ada yang aneh, mereka saling diam saat berada di motor hingga akhirnya saat berada dijalan sepi, tiba tiba Satria rem mendadak membuat tubuh Aruna geser dan menempel dipunggung Satria.


"Eh maaf mbak, barusan ada kucing lewat." Kata Satria kembali melajukan motornya.


Aruna merasa aneh karena sedari tadi melihat jalanan, tidak ada kucing lewat.


"Cari kesempatan dalam kesempitan." Batin Aruna.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2